Menggali Makna Infaq: Kajian Reboan di Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon

·

Editor:

|

3 menit

|

📋

Dibaca: 11 x

Suasana khidmat menyelimuti Masjid Santun Muhammadiyah, Jl. Pilang Raya No. 09, Kota Cirebon, pada pelaksanaan Pengajian Reboan, Rabu (9/9/2026). Kegiatan rutin mingguan yang digelar selepas salat Maghrib hingga Isya ini menghadirkan Ustadz Dr. Maman Rusman, M.Pd., sebagai penceramah utama. Turut hadir dalam kajian tersebut para jamaah dari berbagai kalangan yang dengan antusias mengikuti tausiah hingga akhir.

Mengawali ceramahnya, Ustadz Dr. Maman Rusman mengangkat tema mendalam tentang perbedaan kata infaq dalam Al-Qur’an, dengan fokus utama pada Surat Al-Furqan ayat 67 dan Surat Al-Baqarah ayat 261. Beliau menjelaskan bahwa pemahaman yang tepat tentang ayat-ayat ini sangat penting agar umat Islam tidak keliru dalam mengelola harta dan menjalankan perintah berinfaq.

Infaq dalam Keseharian: Prinsip Pertengahan dalam Al-Furqan

Ustadz Maman memulai tafsirnya dengan membacakan firman Allah dalam Surat Al-Furqan ayat 67:

وَالَّذِينَ إِذَا أَنفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا

Artinya: “Dan orang-orang yang apabila berinfak tidak berlebihan dan tidak (pula) kikir. (Infak mereka) adalah pertengahan antara keduanya.”

Dalam tafsirnya, Ustadz Maman menegaskan bahwa ayat ini berkaitan erat dengan Surat Al-Furqan ayat 63 yang menggambarkan ciri hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih, yaitu mereka yang berjalan di muka bumi dengan rendah hati. Sikap rendah hati ini kemudian tercermin dalam cara mereka berinfak.

“Infaq yang dimaksud dalam Surat Al-Furqan ayat 67 adalah infaq untuk kebutuhan sehari-hari, seperti makan, minum, dan membeli pakaian bagi diri sendiri dan keluarga,” jelas Ustadz Maman. “Allah mengajarkan kita untuk tidak berlebihan atau maglulatan (terlalu pelit), dan juga tidak boros. Prinsipnya adalah qawaman, yaitu pertengahan, seimbang, dan moderat.”

Beliau mengaitkan ayat ini dengan Surat Al-Isra ayat 29 yang senada, yang memperingatkan agar manusia tidak menjadikan tangannya terbelenggu di leher (kikir) dan tidak pula membentangkannya secara berlebihan (boros), sehingga menjadi tercela dan menyesal.

Infaq di Jalan Allah: Kemuliaan Lipat Ganda dalam Al-Baqarah

Selanjutnya, Ustadz Maman menjelaskan tentang konsep infaq dalam Surat Al-Baqarah ayat 261:

مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَاءُۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Artinya: “Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti (orang-orang yang menabur) sebutir biji (benih) yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.”

“Berbeda dengan infaq dalam Al-Furqan yang berkaitan dengan nafkah sehari-hari dan memiliki batasan agar tidak berlebihan,” tegas Ustadz Maman. “Infaq dalam Al-Baqarah ayat 261 tidak memiliki batasan tersebut. Ini adalah infaq di jalan Allah, seperti untuk bencana alam, pembangunan masjid, pendidikan, dakwah, dan kepentingan sosial lainnya.”

Beliau menjelaskan bahwa Allah menjanjikan balasan berlipat ganda, bahkan sampai tujuh ratus kali lipat atau lebih, bagi siapa yang berinfak di jalan-Nya dengan ikhlas. Janji ini menunjukkan betapa besar kemurahan Allah dan betapa mulianya amalan infak.

Pesan Penutup dan Hikmah

Mengakhiri tausiahnya, Ustadz Dr. Maman Rusman menyampaikan pesan mendalam. Beliau mengingatkan bahwa hidup ini adalah ujian, dan di antara ujian itu adalah bagaimana seseorang mengelola hartanya. “Jangan pernah tinggalkan salat, karena salat adalah benteng utama seorang mukmin dalam menghadapi segala tantangan,” pesannya, seraya mengutip Surat Al-‘Ankabut ayat 2 tentang ujian keimanan.

Hal ini senada dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

Artinya: “Barang siapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR. Muslim)

Pengajian Reboan di Masjid Santun Muhammadiyah merupakan agenda rutin mingguan yang konsisten menghadirkan penceramah-penceramah untuk mengkaji berbagai tema keislaman, mulai dari akidah, ibadah, hingga muamalah. Kegiatan ini menjadi sarana penting untuk memperkuat pemahaman agama dan membangun karakter umat berdasarkan dalil yang sahih. (*)

Peliput : Dakum, S.Pd., dan Tim Media masjid Santun



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

One response to “Menggali Makna Infaq: Kajian Reboan di Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon”

  1. Avatar Moch sidik Sadali
    Moch sidik Sadali

    Semoga kajiannya diterima oleh para jamaah yang hadir serta bisa dijadikan sebagai pedoman dan pegangan.