CIREBON, 24 Juli 2026 — Suasana khusyuk dan penuh kebersamaan menyelimuti pelaksanaan Salat Jumat di Masjid Raya Ad-Dien UMMADA (Universitas Muhammadiyah Ahmad Dahlan Cirebon) pada hari Jumat, 24 Juli 2026. Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Assocc. Prof. Dr. KH. Toto Santi Aji, M.Ag., Dosen Universitas Muhammadiyah Cirebon, menyampaikan khutbah dengan tema mendalam: “Orang yang Bertakwa, Apakah Orang yang Bebas dari Dosa?”
Jamaah dari berbagai kalangan termasuk dosen dan masyarakat sekitarnya tampak larut dalam renungan saat mendengar paparan ilmiah dan spiritual dari khatib. Ustadz Toto Santi Aji mengajak seluruh hadirin untuk memahami hakikat takwa secara utuh—bukan sekadar label kesalehan, melainkan kesadaran batin yang terus-menerus terhubung dengan Allah.
Takwa: Puncak Keimanan dan Jaminan Surga
Mengawali khutbahnya, Ustadz Toto menjelaskan bahwa manusia yang sempurna imannya di hadapan Allah adalah orang yang bertakwa. Orang bertakwa adalah hamba Allah yang akan mendapat jaminan surga penuh kenikmatan. Beliau menyitir sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:
إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِي الْمُتَّقُونَ مَنْ كَانُوا وَحَيْثُ كَانُوا
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang paling utama bagiku adalah orang-orang yang bertakwa, siapa pun dan di mana pun mereka berada.” (HR. Ahmad)
Dalam tafsir Fii Zhilalil Qur’an, Sayyid Qutb menyatakan bahwa takwa adalah puncak dari keimanan. Hal ini menunjukkan bahwa orang yang bertakwa adalah orang yang terbaik dan sempurna imannya. Namun, pertanyaan penting kemudian muncul: Apakah orang yang bertakwa atau sempurna imannya adalah orang yang bebas dari kesalahan, kekurangan, dan dosa?
Orang Bertakwa Bukan Manusia Maksum
Dengan gaya penyampaian yang lugas dan menyejukkan, Ustadz Toto mengajak jamaah merenungkan firman Allah dalam Surah Ali Imran ayat 133:
وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍۢ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
Artinya: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran [3]: 133)
Ayat ini, menurut beliau, menunjukkan bahwa orang bertakwa yang mendapatkan jaminan surga adalah orang yang bersegera kepada ampunan Allah. Mereka memohon ampun karena merasa ada kesalahan, kekurangan, atau dosa yang telah dilakukan. Kesadaran inilah yang membedakan mereka—bukan karena bebas dari dosa, melainkan karena cepat menyadari lalu bertobat.
Kepekaan Hati: Ciri Utama Orang Bertakwa
Pada bagian kedua khutbah, Ustadz Toto membacakan lanjutan firman Allah dalam Surah Ali Imran ayat 135:
وَٱلَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا۟ فَٰحِشَةً أَوْ ظَلَمُوٓا۟ أَنفُسَهُمْ ذَكَرُوا۟ ٱللَّهَ فَٱسْتَغْفَرُوا۟ لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ إِلَّا ٱللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلُوا۟ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
Artinya: “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka (segera) mengingat Allah lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya. Siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedangkan mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran [3]: 135)
Khatib menegaskan bahwa orang bertakwa adalah mereka yang pada saat melakukan dosa besar atau dosa kecil, segera menyadari dengan mengingat Allah, lalu memohon ampun dengan taubat nasuha (sebenar-benarnya taubat). Mereka merasa bersalah, menyesal, beriktikad tidak mengulangi, dan berjanji menebusnya dengan ibadah serta amal saleh yang lebih baik.
“Yang membedakan antara orang bertakwa dan yang tidak bertakwa bukanlah ketiadaan dosa, melainkan kepekaan hati terhadap dosa,” ujar Ustadz Toto dengan tegas. “Orang bertakwa sangat sensitif hatinya. Begitu dosa dilakukan, ia gelisah, tidak nyaman, tumbuh penyesalan, lalu bersegera bertobat. Inilah hakikat takwa.”
Penutup: Takwa Adalah Kesadaran, Bukan Kesempurnaan Mutlak
Mengakhiri khutbahnya, Assocc. Prof. Dr. KH. Toto Santi Aji mengajak seluruh jamaah untuk tidak pernah putus asa dari rahmat Allah. Manusia biasa pasti memiliki khilaf, kekurangan, dan dosa. Namun, yang menjadikan seorang hamba mulia di sisi-Nya adalah kemampuannya untuk bangkit, menyesali, dan kembali ke jalan yang diridai.
Beliau menutup dengan doa agar seluruh umat Islam di Kota Cirebon diberikan hati yang peka, istikamah dalam taubat, dan selalu berada dalam lindungan Allah. Salat Jumat pun ditutup dengan doa khusyuk yang dipimpin langsung oleh khatib, disambut dengan amin yang menggema dari ribuan jamaah.
Suasana haru dan syukur menyelimuti Masjid Raya Ad-Dien UMMADA, mengukuhkan bahwa takwa adalah perjalanan panjang—bukan sekadar status, melainkan kesadaran jiwa yang terus diperbarui setiap detiknya.
Peliput : Fahyudin dan Tim Media Masjid Ad-Dien UMMADA
Editor : Arofah Firdaus


Tinggalkan Balasan