Salat Jumat di Masjid Ad-Dien UMMADA Kalitanjung : Mentransformasi Kemerdekaan Menuju Takwa

·

Avatar Arofah Firdaus

|

3 menit

|

📋

Dibaca: 0 x

CIREBON, muhammadiyahciko – Suasana khidmat dan penuh makna menyelimuti pelaksanaan Salat Jumat di Masjid Ad-Dien Universitas Muhammadiyah Ahmad Dahlan (UMMADA), Kalitanjung, Kota Cirebon, pada Jumat (14/8). Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Ustadz Sunarya, S.Pd.I., MM., menyampaikan khutbah dengan tema “Mentransformasi Kemerdekaan menuju Takwa”.

Ribuan jamaah memadati masjid kampus tersebut, mendengarkan dengan seksama pesan-pesan kebangsaan yang disandingkan dengan nilai-nilai spiritual. Momentum yang bertepatan dengan bulan kemerdekaan Republik Indonesia ini menjadi renungan bagi seluruh jamaah untuk memaknai kemerdekaan secara hakiki.

Dalam khutbah pertamanya, Ustadz Sunarya mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Beliau menegaskan bahwa kemerdekaan yang telah diraih oleh bangsa Indonesia bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

“Mari kita transformasikan makna kemerdekaan ini menjadi ketakwaan. Merdeka yang sesungguhnya adalah merdeka dari belenggu hawa nafsu, merdeka dari penjajahan kebodohan, dan merdeka dari segala bentuk kemaksiatan,” ujar Ustadz Sunarya di hadapan jamaah.

Khatib memaparkan tiga pilar utama dalam mentransformasi kemerdekaan menuju takwa.

Pertama, Merdeka dari Hawa Nafsu. Beliau mengingatkan bahwa musuh terbesar manusia adalah hawa nafsunya sendiri. Kemerdekaan sejati adalah kemampuan untuk mengendalikan hawa nafsu, bukan diperbudak olehnya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ جَنَّتَانِ

Artinya: “Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Tuhannya, ada dua surga.” (QS. Ar-Rahman: 46)

Kedua, Mengisi Kemerdekaan dengan Kebaikan. Kemerdekaan adalah amanah yang harus diisi dengan amal saleh dan kontribusi positif bagi bangsa dan agama. Ustadz Sunarya mengutip firman Allah dalam Surah Ar-Ra’d ayat 11 yang mengingatkan bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri .

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Ketiga, Mengisi Kemerdekaan dengan Rasa Syukur. Beliau menekankan bahwa nikmat kemerdekaan adalah karunia Allah yang wajib disyukuri. Wujud syukur tidak hanya dengan ucapan, tetapi juga dengan menjaga persatuan dan mengisi pembangunan dengan semangat keislaman. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.’” (QS. Ibrahim: 7)

Mengakhiri khutbahnya, Ustadz Sunarya mengajak jamaah untuk mendoakan para pahlawan yang telah gugur demi kemerdekaan serta mendoakan kebaikan bagi pemimpin bangsa. Beliau juga mengutuk segala bentuk perpecahan dan mengajak untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah dan nasionalisme .

وَٱلَّذِينَ جَآءُو مِنۢ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلْإِيمَٰنِ وَلَا تَجْعَلْ فِى قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

Artinya: “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: ‘Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Al-Hasyr: 10)

Salat Jumat yang dipimpin oleh Ustadz Sunarya berlangsung dengan khusyuk. Beliau bertindak sebagai imam sekaligus khatib dengan lancar, diikuti oleh para jamaah yang terdiri dari civitas akademika Universitas Muhammadiyah Ahmad Dahlan (UMMADA) dan masyarakat sekitar Kalitanjung. Doa khusyuk yang dipanjatkan mengakhiri rangkaian ibadah, memohon keberkahan dan kemerdekaan yang hakiki bagi seluruh umat dan bangsa Indonesia. (*)

Peliput : Fahyudin dan Tim Media masjid Ad-Dien UMMADA Kalitanjung Kota Cirebon


Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *