Menyelami Asbabun Nuzul Surat At-Tahrim Ayat 1: Salat Jumat di Masjid Ad-Dien UMMADA Kalitanjung

·

Editor:

|

4 menit

|

📋

Dibaca: 0 x

Suasana khidmat menyelimuti Masjid Ad-Dien Universitas Muhammadiyah Ahmad Dahlan (UMMADA) Kalitanjung, Kota Cirebon, pada pelaksanaan Salat Jumat, Jumat (11/9/2026). Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Ustadz Drs. H. Otong Hasanudin, yang menyampaikan khutbah bertema asbabun nuzul (sebab-sebab turunnya) Surat At-Tahrim ayat 1. Jamaah yang memadati masjid kampus tersebut mengikuti rangkaian ibadah dengan penuh kekhusyukan.

Dalam khutbahnya, Ustadz Otong Hasanudin mengupas secara mendalam latar belakang turunnya Surat At-Tahrim ayat 1, sebuah ayat yang mengandung teguran halus Allah kepada Nabi Muhammad ﷺ. Beliau menjelaskan bahwa pemahaman terhadap asbabun nuzul sangat penting agar umat Islam dapat menangkap pesan moral dan hikmah di balik setiap firman Allah.

Bacaan Ayat dan Terjemah

Khatib membacakan firman Allah dalam Surat At-Tahrim ayat 1 dengan tartil:

يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَآ اَحَلَّ اللّٰهُ لَكَۚ تَبْتَغِيْ مَرْضَاتَ اَزْوَاجِكَۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Artinya: “Wahai Nabi (Muhammad), mengapa engkau mengharamkan apa yang dihalalkan Allah bagimu? Engkau bermaksud menyenangkan hati istri-istrimu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Asbabun Nuzul: Latar Belakang Turunnya Ayat

Ustadz Otong Hasanudin menjelaskan bahwa para ulama tafsir berbeda pendapat mengenai asbabun nuzul ayat ini, namun terdapat beberapa riwayat yang saling melengkapi. Menurut suatu pendapat yang dikutip dari Tafsir Ibnu Katsir, ayat ini diturunkan berkenaan dengan peristiwa Mariyah al-Qibtiyyah. Rasulullah ﷺ mengharamkan Mariyah bagi dirinya, lalu turunlah ayat ini sebagai teguran halus Allah.

Riwayat lain menyebutkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah meminum madu di rumah Zainab binti Jahsy, salah seorang istrinya. Aisyah dan Hafsah kemudian bersepakat untuk mengatakan bahwa Nabi ﷺ berbau maghafir (getah pohon) setelah meminum madu tersebut. Mendengar hal itu, Nabi ﷺ bersumpah tidak akan meminum madu lagi, dan mengharamkan madu atas dirinya. Maka turunlah Surat At-Tahrim ayat 1 sebagai teguran.

“Peristiwa ini menunjukkan betapa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, bahkan yang tersembunyi dalam hati manusia. Allah menegur Nabi-Nya dengan bahasa yang penuh kasih sayang, bukan dengan celaan yang keras,” jelas Ustadz Otong di hadapan jamaah.

Hikmah dan Pelajaran

Khatib menyampaikan beberapa hikmah penting dari ayat ini. Pertama, bahwa mengharamkan sesuatu yang halal bukanlah hak manusia, melainkan hak Allah semata. Imam Syafi‘i dalam kitab Al-Umm meriwayatkan bahwa para ulama salaf sangat berhati-hati dalam berfatwa tentang halal dan haram, mereka tidak mau mengatakan “ini haram” kecuali setelah diketahui dengan pasti.

Kedua, ayat ini mengajarkan tentang pentingnya menjaga keseimbangan dalam berumah tangga. Nabi ﷺ berusaha menyenangkan hati istri-istrinya, namun dalam upaya tersebut beliau sampai mengharamkan sesuatu yang halal. Allah kemudian mengingatkan bahwa menyenangkan hati manusia tidak boleh mengorbankan syariat.

Ketiga, ayat ini menegaskan sifat Allah Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Meskipun Nabi ﷺ melakukan ijtihad yang keliru dengan mengharamkan yang halal, Allah tidak serta-merta menghukum, melainkan menegur dengan kasih sayang dan memberikan jalan keluar .

Rasulullah ﷺ juga mengajarkan kepada umatnya tentang kehati-hatian dalam menentukan halal dan haram. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Thabrani, beliau bersabda:

مَنْ حَرَّمَ الْحَلَالَ فَهُوَ كَمَنْ أَحَلَّ الْحَرَامَ

Artinya: “Siapa yang mengharamkan yang halal, maka dia seperti orang yang menghalalkan yang haram.”

Etika Menegur dalam Islam

Ustadz Otong Hasanudin juga mengaitkan ayat ini dengan etika menegur kesalahan orang lain. Allah menegur Nabi ﷺ secara langsung dan penuh kelembutan, tanpa mempermalukan beliau di hadapan manusia. Ini menjadi teladan bagi umat Islam dalam memberikan nasihat dan teguran.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda:

الدِّينُ النَّصِيحَةُ

Artinya: “Agama itu adalah nasihat.” Para sahabat bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Bagi Allah, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Nya, pemimpin-pemimpin umat Islam, dan masyarakat umumnya.”

Imam al-Nawawi menjelaskan bahwa makna nasihat untuk pemimpin umat Islam adalah tolong-menolong bersama mereka dalam urusan kebenaran, menegur dan mengingatkan mereka dengan cara lemah-lembut, serta tidak menjadi pembangkang terhadap mereka.

Penutup

Mengakhiri khutbahnya, Ustadz Drs. H. Otong Hasanudin mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta‘ala. Beliau mengingatkan bahwa setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah, dan hendaknya umat Islam senantiasa berhati-hati dalam menentukan sikap, terutama dalam hal halal dan haram.

“Mari kita jadikan Surat At-Tahrim ayat 1 ini sebagai pelajaran berharga. Jangan pernah mengharamkan apa yang Allah halalkan, dan jangan pula menghalalkan apa yang Allah haramkan. Sesungguhnya, ketaatan kepada Allah adalah kunci kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat,” pesan beliau.

Salat Jumat di Masjid Ad-Dien UMMADA Kalitanjung berlangsung dengan lancar dan penuh kekhusyukan. Jamaah yang hadir tampak antusias mengikuti setiap rangkaian ibadah, mulai dari azan, khutbah, hingga salat berjamaah. Masjid kampus ini memang dikenal aktif menyelenggarakan berbagai kegiatan keislaman, termasuk kajian dan salat Jumat rutin yang selalu menghadirkan penceramah-penceramah kompeten dari berbagai latar belakang keilmuan. (*)

Peliput : Tim Media masjid Ad-Dien UMMADA Kalitanjung



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *