Khutbah Jumat di Masjid Ad-Dien UMMADA Kalitanjung: Renungan Ujian Tahunan dan Pelajaran dari QS. At-Taubah: 126

CIREBON, muhammadiyahciko — Suasana khusyuk dan penuh makna menyelimuti pelaksanaan salat Jumat di Masjid Ad-Dien UMMADA, Kalitanjung, Kota Cirebon, pada Jumat, 7 Agustus 2026. Bertindak sebagai imam dan khatib, Ustadz Ahmad, S.Ag., M.Pd., menyampaikan khutbah dengan tema yang menggugah kesadaran umat, mengangkat firman Allah dalam QS. At-Taubah ayat 126 tentang ujian tahunan yang senantiasa menimpa manusia.

Ustadz Ahmad mengawali khutbah dengan membacakan ayat suci Al-Qur’an:

أَوَلَا يَرَوْنَ أَنَّهُمْ يُفْتَنُونَ فِي كُلِّ عَامٍ مَرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ لَا يَتُوبُونَ وَلَا هُمْ يَذَّكَّرُونَ

“Dan tidakkah mereka memperhatikan bahwa mereka diuji satu kali atau dua kali setiap tahun, kemudian mereka tidak juga bertobat dan tidak pula mengambil pelajaran?” (QS. At-Taubah: 126)

Memahami Makna “Satu Kali atau Dua Kali Setiap Tahun”

Dalam khutbahnya, Ustadz Ahmad menjelaskan bahwa ayat ini sering menimbulkan pertanyaan di kalangan umat, apakah benar ujian itu hanya datang satu atau dua kali dalam setahun. Beliau memaparkan penafsiran para ulama yang memberikan pemahaman mendalam tentang maksud angka tersebut.

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa angka “satu atau dua” dalam ayat ini bukanlah pembatasan matematis, melainkan menunjukkan makna sedikit atau banyak. Dalam bahasa Arab, penggunaan angka kecil sering dimaksudkan untuk menunjukkan “beberapa kali”. Hakikatnya, Allah terus-menerus menguji hamba-Nya, entah itu sering atau jarang, dengan tujuan agar manusia senantiasa sadar dan kembali kepada-Nya.

As-Sa’di menambahkan bahwa ujian itu datang secara bergantian. Ada tahun yang ujiannya besar dan hanya satu kali, ada pula tahun yang ujiannya datang dua kali. Pola ini sengaja dirancang agar manusia menyadari bahwa hidup ini penuh dengan cobaan, dan setiap cobaan adalah panggilan untuk introspeksi. Contohnya, tahun ini seseorang diuji dengan sakit, tahun berikutnya diuji dengan kehilangan, dan seterusnya.

Al-Qurthubi mengaitkan turunnya ayat ini dengan peristiwa Perang Tabuk, di mana orang-orang munafik diuji dengan dua hal sekaligus, yaitu (1) perintah untuk berjihad dan (2) terbongkarnya kemunafikan mereka. Maka “satu atau dua” bisa dimaknai sebagai jenis ujian yang berbeda, yaitu ujian iman dan ujian amal.

Dari ketiga penafsiran ini, Ustadz Ahmad menarik kesimpulan bahwa Allah tidak menghitung secara matematis “pas satu atau dua”. Ayat ini adalah teguran halus sekaligus peringatan: “Setiap tahun pasti ada ujian. Masa iya tidak sadar-sadar juga?”

Emat Tujuan Ujian dalam Kehidupan Manusia

Khatib melanjutkan dengan menguraikan empat tujuan utama Allah menurunkan ujian kepada hamba-Nya:

Pertama, Ujian Nikmat. Ini adalah tes rasa syukur. Ketika gaji naik, kesehatan terjaga, atau kehidupan membaik, apakah seseorang menjadi semakin sombong atau justru semakin gemar bersedekah dan berbagi?

Kedua, Ujian Musibah. Ini adalah tes kesabaran. Ketika sakit, rugi, atau ditinggal orang yang dicintai, apakah seseorang semakin mendekat kepada Allah atau justru menjauh dan berputus asa?

Ketiga, Ujian Iman. Ini adalah tes keyakinan. Di tengah maraknya hoaks dan fitnah, apakah seseorang goyah atau justru semakin kokoh memegang prinsip kebenaran?

Keempat, Ujian Keluarga dan Pekerjaan. Ini adalah tes akhlak. Ketika disakiti rekan kerja, dikhianati, atau diperlakukan tidak adil, apakah seseorang memilih memaafkan atau membalas dendam?

Hikmah Neuroscience: Hormesis dan Kenaikan Level Iman

Mengangkat pendekatan ilmiah, Ustadz Ahmad menyampaikan hikmah dari perspektif neuroscience bahwa otak manusia membutuhkan “stresor” kecil untuk dapat naik level. Fenomena ini dikenal dengan istilah hormesis, di mana paparan tekanan ringan justru membuat sistem menjadi lebih kuat.

“Tanpa ujian, iman kita tidak akan naik. Sama seperti otot, kalau tidak pernah diangkat beban, ia tidak akan pernah kuat,” ujar khatib di hadapan jamaah.

Lanjutan Ayat: “Tetapi Mereka Tidak Bertobat dan Tidak Mengambil Pelajaran”

Ustadz Ahmad menegaskan bahwa inti pesan ayat ini bukanlah kemarahan Allah karena manusia diuji, melainkan kesedihan-Nya karena setelah diuji, manusia tidak kunjung berubah.

Beliau memaparkan pola manusia munafik yang digambarkan dalam ayat ini:

  1. Diberi ujian → panik, menangis, dan memohon kepada Allah.
  2. Ujian selesai → lupa lagi, kembali bermaksiat.
  3. Diulang tahun depan → kaget lagi, seolah-olah tidak pernah mendapat pelajaran.

Maka Allah bertanya dengan nada sindiran halus, “Tidakkah mereka mengambil pelajaran?”

Kesimpulan: Ujian sebagai Sarana Pembersihan dan Kenaikan Derajat

Di akhir khutbah, Ustadz Ahmad menyimpulkan bahwa Allah menguji manusia setiap tahun bukan untuk menyiksa, melainkan untuk dua tujuan mulia:

  1. Membersihkan dosa-dosa, sebagaimana api memurnikan emas dari kotorannya.
  2. Menaikkan derajat, sebagaimana seorang murid harus melalui ujian untuk naik kelas.

“Angka ‘satu atau dua’ itu adalah sindiran halus dari Allah: ‘Aku sudah kasih sinyal setahun satu atau dua kali lho. Masa kamu masih tidak ngeh juga?’” pesan khatib dengan penuh hikmah.

Beliau mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan setiap ujian sebagai momentum taubat dan pembelajaran. “Kalau tahun ini rasanya berat banget, mungkin itu ‘ujian tahunan’ kita. Luluskan dengan taubat dan belajar. Biar tahun depan naik level, bukan mengulang ujian yang sama,” pungkasnya.

Salat Jumat berlangsung dengan tertib dan penuh kekhusyukan. Jamaah tampak merenungkan pesan-pesan yang disampaikan, berharap dapat mengambil pelajaran dari setiap ujian yang diberikan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan menjadikannya sebagai sarana peningkatan kualitas iman dan ketakwaan. (*)

Peliput : Fahyudin dan Tim Media masjid Ad-Dien

Editor : Arofah Firdaus

Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 responses to “Khutbah Jumat di Masjid Ad-Dien UMMADA Kalitanjung: Renungan Ujian Tahunan dan Pelajaran dari QS. At-Taubah: 126”

  1. Avatar Fahyudin
    Fahyudin

    Semoga kita tidak termasuk golongan yang diberi ujian tapi lupa mengambil pelajaran, dan semoga kita senantiasa dinikmati kelulusan dalam setiap ujian hidup. Amin.

  2. Avatar Yandi Heryandi
    Yandi Heryandi

    Semoga Kita mampu menghadapi segala ujian dari Allah SWT