Khidmat dan Penuh Hikmah: Pengajian Ahad Pagi PCM Kesambi Hadirkan Ustadz Sunarya, Bahas Nasihat Imam Al-Ghazali tentang Enam Pertanyaan Fundamental

·

Editor:

|

6 menit

|

📋

Dibaca: 17 x

PIMPINAN Cabang Muhammadiyah (PCM) Kesambi Kota Cirebon kembali menggelar pengajian rutin Ahad pagi (20/9/26) yang berlangsung khidmat di Balai Pengajian PCM Kesambi. Kegiatan ini dihadiri oleh jamaah dari berbagai ranting, kader Muhammadiyah, serta masyarakat sekitar yang antusias menimba ilmu agama.

Pada kesempatan kali ini, pengajian menghadirkan penceramah Ustadz Sunarya, S.Pd.I., M.M., yang dikenal sebagai dai muda Muhammadiyah Kota Cirebon dengan gaya penyampaian yang lugas dan menyentuh hati. Dalam tausiyahnya, Ustadz Sunarya mengangkat tema nasihat Imam Al-Ghazali tentang enam pertanyaan fundamental yang harus direnungkan setiap Muslim dalam menjalani kehidupan.


Enam Pertanyaan Imam Al-Ghazali: Renungan untuk Bekal Kehidupan

Ustadz Sunarya memulai paparannya dengan mengenalkan sosok Imam Al-Ghazali, ulama besar yang karyanya hingga kini menjadi rujukan umat Islam. Beliau menyampaikan bahwa Imam Al-Ghazali merumuskan enam pertanyaan mendasar yang jawabannya harus menjadi kesadaran hidup setiap Muslim.

1. Apa yang Paling Dekat? Kematian

Pertanyaan pertama yang diajukan Imam Al-Ghazali adalah tentang apa yang paling dekat dengan manusia. Jawabannya adalah kematian. Ustadz Sunarya menegaskan bahwa kematian tidak pernah menunggu siapa pun. Ia bisa datang kapan saja, tanpa memandang usia, status, atau kesiapan seseorang.

Rasulullah ﷺ bersabda:

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ

“Perbanyaklah mengingat penghancur segala kenikmatan (yaitu kematian).” (HR. At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad)

Ustadz Sunarya menjelaskan bahwa mengingat kematian bukan berarti pesimis terhadap kehidupan, melainkan menjadi motivasi untuk giat beribadah dan mempersiapkan bekal menuju akhirat. Imam Al-Qurthubi menukil perkataan Ad-Daqqaq: “Barang siapa yang banyak mengingat kematian, niscaya akan dimuliakan dengan tiga karunia: kemampuan untuk segera bertaubat, hati yang qana’ah, dan giat beribadah.”

2. Apa yang Paling Jauh? Masa Lalu

Pertanyaan kedua adalah tentang apa yang paling jauh dari manusia. Imam Al-Ghazali menjawab bahwa yang paling jauh adalah masa lalu. Ustadz Sunarya menjelaskan bahwa masa lalu tidak akan pernah bisa kembali, sekalipun manusia berusaha keras untuk meraihnya.

Beliau mengingatkan bahwa banyak orang terjebak dalam penyesalan berkepanjangan atas kesalahan masa lalu, sehingga lupa untuk memperbaiki masa depan. Nasihat Imam Al-Ghazali dalam konteks ini adalah:

  • Berdamai dengan takdir Allah — menerima segala ketetapan-Nya dengan lapang dada.
  • Bersegera bertaubat kepada Allah — tidak menunda perbaikan diri.
  • Mengambil ibrah (pelajaran) — dari setiap peristiwa yang telah berlalu.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللّٰهِ لِلَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ السُّوْۤءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوْبُوْنَ مِنْ قَرِيْبٍ فَاُولٰۤىِٕكَ يَتُوْبُ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ ۗ وَكَانَ اللّٰهُ عَلِيْمًا حَكِيْمًا

“Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa [4]: 17)

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ

“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla menerima taubat hamba-Nya selama nafasnya belum sampai di tenggorokan (sakaratul maut).” (HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi)

3. Apa yang Paling Besar? Hawa Nafsu

Pertanyaan ketiga adalah tentang apa yang paling besar dalam diri manusia. Imam Al-Ghazali menjawab bahwa yang paling besar adalah hawa nafsu. Ustadz Sunarya memaparkan tiga tingkatan nafsu dalam pandangan Islam:

  1. Nafsu Amarah — nafsu yang orientasinya kepada keburukan dan mendorong manusia untuk berbuat maksiat.
  2. Nafsu Lawamah — nafsu yang menimbulkan bentuk-bentuk penyesalan setelah melakukan kesalahan.
  3. Nafsu Mutmainah — nafsu yang tenang dan mendorong manusia untuk berbuat baik serta mendekat kepada Allah.

Beliau mengingatkan bahwa perjuangan melawan hawa nafsu adalah jihad terbesar dalam Islam, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

أَفْضَلُ الْجِهَادِ أَنْ تُجَاهِدَ نَفْسَكَ وَهَوَاكَ

“Jihad yang paling utama adalah engkau memerangi nafsumu dan hawa nafsumu.” (HR. Ibnu Najjar)

4. Apa yang Paling Berat? Menjaga Amanah

Pertanyaan keempat adalah tentang apa yang paling berat. Jawabannya adalah menjaga amanah. Ustadz Sunarya menjelaskan bahwa amanah mencakup seluruh tanggung jawab yang dibebankan Allah kepada manusia, baik yang berkaitan dengan hak Allah, hak sesama manusia, maupun hak diri sendiri.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهْلِهَاۙ وَاِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ اَنْ تَحْكُمُوْا بِالْعَدْلِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهٖ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ سَمِيْعًاۢ بَصِيْرًا

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada pemiliknya. Apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah kamu tetapkan secara adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang paling baik kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisa [4]: 58)

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ، وَلَا دِينَ لِمَنْ لَا عَهْدَ لَهُ

“Tiada iman bagi siapa saja yang tidak memiliki sifat amanah dalam dirinya. Begitu pun, tiada agama bagi siapa saja yang tidak menepati janji.” (HR. Ahmad)

5. Apa yang Paling Ringan? Meninggalkan Salat

Pertanyaan kelima adalah tentang apa yang paling ringan. Imam Al-Ghazali menjawab bahwa yang paling ringan adalah meninggalkan salat. Ustadz Sunarya menjelaskan bahwa banyak orang dengan mudah meninggalkan salat, padahal salat adalah kewajiban utama seorang Muslim.

Beliau kemudian memberikan tiga nasihat praktis untuk memperbaiki kualitas salat:

  • Tepat waktu — melaksanakan salat sesuai dengan waktunya yang telah ditentukan.
  • Perbaiki kualitas berjamaah — salat berjamaah memiliki keutamaan 27 derajat dibanding salat sendirian.
  • Perbaiki khusuk — menghadirkan hati sepenuhnya saat menghadap Allah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

“Sesungguhnya salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa [4]: 103)

Rasulullah ﷺ bersabda:

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

“Salat berjamaah itu lebih utama daripada salat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat.” (HR. Bukhari)

6. Apa yang Paling Tajam? Lisan

Pertanyaan keenam yang ditutup dengan pesan mendalam adalah tentang apa yang paling tajam. Imam Al-Ghazali menjawab bahwa yang paling tajam adalah lisan. Ustadz Sunarya menegaskan bahwa lisan bisa menjadi sumber pahala yang besar, tetapi juga bisa menjadi penyebab utama seseorang masuk neraka.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf [50]: 18)

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadis lain, Rasulullah ﷺ memperingatkan:

وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ

“Bukankah yang menjerumuskan manusia ke dalam neraka dengan wajah tersungkur, tidak lain adalah akibat dari lisan mereka?” (HR. Tirmidzi)


Penutup: Menjadi Pribadi yang Cerdas dengan Mengingat Kematian

Di akhir tausiyahnya, Ustadz Sunarya mengajak seluruh jamaah untuk merenungkan enam pertanyaan Imam Al-Ghazali sebagai cermin kehidupan. Beliau menutup dengan sebuah hadis yang menjadi inti dari kecerdasan seorang Muslim:

أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا، أُولَٰئِكَ الْأَكْيَاسُ

“Orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik persiapannya untuk menghadapi apa yang terjadi setelahnya. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.” (HR. Ibnu Majah)

Pengajian Ahad pagi yang berlangsung dari pukul 07.00 hingga 08.00 WIB ini ditutup dengan doa dan ramah tamah antarjamaah. Suasana khidmat dan penuh hikmah mewarnai seluruh rangkaian acara, mencerminkan semangat dakwah Muhammadiyah yang mengedepankan pencerahan, kesejukan, dan kemajuan.

Peliput : Muryanto, dan Tim Media PCM Kesambi Kota Cirebon



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *