Khutbah Jumat di Masjid Al-Ikhlas Drajat Kesambi: Memaknai 5 Fase Kehidupan Manusia Menuju Ridha Allah

·

Editor:

|

3 menit

|

📋

Dibaca: 6 x


MASJID Al-Ikhlas Drajat PCM Kesambi menggelar salat Jumat (18/9/26) dengan khusyuk dan tertib. Bertindak selaku imam sekaligus khatib, Ustadz H. Yandi Heryandi, M.Pd., menyampaikan khutbah bertema “5 Fase Kehidupan Manusia di Dunia”. Dalam ceramahnya, ia mengajak seluruh jamaah untuk merenungkan perjalanan usia dan mempersiapkan bekal akhirat sejak dini.

Dalam khutbahnya, Ustadz H. Yandi Heryandi mengupas tuntas klasifikasi usia manusia menurut para fuqaha (ahli fikih) yang terbagi ke dalam lima fase. Fase-fase tersebut meliputi shabiy (bayi), athfal (anak-anak), syabab (pemuda), kahulah (dewasa/40 tahun), hingga syuyukh (tua/60 tahun ke atas). Menurutnya, pemahaman atas fase ini sangat penting agar manusia semakin matang dalam menghadapi perjalanan hidup dan tidak terlena oleh kenikmatan dunia yang sementara.

“Betapa seringnya kita terlena dalam menghadapi perjalanan dunia. Kita selalu percaya diri, menganggap hidup di dunia masih lama dan jauh. Padahal, setiap manusia memiliki jatuh kontrak hidup di dunia yang pasti. Kedatangannya sangat mendadak dan tidak ada yang mengetahuinya,” pesan Ustadz Yandi di hadapan para jamaah.

Khatib menekankan bahwa momentum usia 40 tahun (kahulah) merupakan titik balik (start) bagi manusia untuk kembali ke jalan Allah. Pada fase ini, Allah memberikan kematangan dan puncak kedewasaan dalam hal berpikir maupun tanggung jawab. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Ahqaf ayat 15:

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۖ وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا ۚ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, dia (anak itu) berkata, ‘Wahai Tuhanku, berilah petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dapat beramal saleh yang Engkau ridhai, dan berikanlah kesalehan kepadaku hingga kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim.’” (QS. Al-Ahqaf: 15).

Lebih lanjut, Ustadz Yandi mengingatkan bahwa setiap ibadah yang diamalkan haruslah didasari oleh nilai keikhlasan yang semata-mata ditujukan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ibadah tanpa keikhlasan, lanjutnya, hanya akan mendatangkan sifat riya’ (pamer), ujub (bangga diri), takabbur (sombong), dan berbagai keburukan lain yang dimurkai Allah.

Ia juga mengutip kisah dalam kitab Tanbihul Ghafilin. Dikisahkan bahwa suatu hari Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam dijumpai oleh salah seorang sahabat dalam keadaan menangis. Sahabat tersebut lalu bertanya tentang penyebabnya. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam menjawab bahwa sesaat yang lalu Malaikat Jibril menginformasikan bahwa Allah sengaja menunda datangnya musibah terhadap suatu kaum selama di dalamnya masih ada kelompok orang yang sudah beruban (tua), tetapi hatinya tetap terpancang untuk selalu dekat dengan Allah. Inilah yang membuat Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam menangis terharu.

Di akhir khutbahnya, khatib mengajak seluruh jamaah untuk melakukan muhasabah (introspeksi diri). Ia menegaskan bahwa tidak ada cara lain untuk membangun jaringan akhirat kecuali dengan peningkatan keimanan dan ketakwaan, sebagaimana pesan Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 197:

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ

“Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197).

Salat Jumat di Masjid Al-Ikhlas PCM Kesambi pun ditutup dengan doa bersama, memohon agar seluruh jamaah senantiasa mendapatkan hidayah dan taufik dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, serta segala amal ibadah mereka diridhai oleh-Nya. (**)


Peliput: Tim Media masjid Al-Ikhlas Drajat



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 responses to “Khutbah Jumat di Masjid Al-Ikhlas Drajat Kesambi: Memaknai 5 Fase Kehidupan Manusia Menuju Ridha Allah”

  1. Avatar Yandi Heryandi
    Yandi Heryandi

    Orang yang tidak akan merugi adalah yang dapat menggunakan dan memanfaatkan waktu hidupnya dengan baik

  2. Avatar Moch Sidik Sadali
    Moch Sidik Sadali

    Semoga isi ceramah khotbah Jum’at yang dilaksanakan di Masjid Al-Ikhlas Drajat Kesambi Kota Cirebon yang bertemakan
    MEMAKNAI LIMA FASE KEHIDUPAN MANUSIA MENUJU RIDHO ALLAAH
    bisa diterima oleh para hadirin, bisa dipetik hikmahnya dan bermanfaat serta bisa dijadikan sebagai pegangan hidup sehari-hari.
    Aamiin Allaahumma Yaa Allaah Mujiibassaa’iliin.

  3. Avatar Fahyudin
    Fahyudin

    Pengingat penting agar kita tidak menunda bertaubat dan senantiasa meluruskan niat dalam beribadah hanya karena Allah.