CIREBON – Suasana khidmat dan penuh keberkahan menyelimuti Balai Pengajian Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kesambi, Jalan Simaja, Kota Cirebon, pada Ahad pagi, 19 Juli 2026. Puluhan jamaah dari berbagai wilayah memadati lokasi untuk mengikuti pengajian rutin yang kali ini menghadirkan penceramah kondang, Ustadz Upang Ibrahim. Acara berlangsung tertib dan lancar, diawali dengan ucapan syukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Pengajian pagi ini turut dihadiri oleh jajaran pimpinan PCM Kesambi. Tampak hadir secara langsung Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kesambi, H. Digyono, beserta para wakil ketua dan pengurus harian lainnya. Kehadiran para pimpinan ini menambah semarak kegiatan sekaligus menjadi bentuk dukungan nyata terhadap program dakwah dan pembinaan umat di wilayah Kesambi.

Dalam tausiyah utamanya, Ustadz Upang Ibrahim mengangkat tema mendalam tentang makna al-fasadu (kerusakan) yang bersumber dari Surat Ar-Rum ayat 41. Beliau menjelaskan bahwa kerusakan yang dimaksud dalam ayat ini tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga menyentuh aspek moral dan sosial yang lebih luas.
Ustadz Upang mengawali penjelasannya dengan membacakan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Beliau menegaskan bahwa inti ayat ini adalah peringatan keras bahwa al-fasadu adalah kondisi yang telah melebihi batas kerusakan. Bukan hanya fisik yang rusak, tetapi seluruh sumber daya alam dan nilai-nilai kehidupan juga ikut tergerus. Ada dua dimensi besar kerusakan yang diuraikan: pertama, kerusakan lingkungan darat dan laut yang nyata terlihat seperti polusi, kekeringan, dan bencana ekologi; kedua, kerusakan moral dan sosial yang tercermin dalam perilaku zalim dan maksiat.
Mengutip Surat Al-A’raf ayat 56, Ustadz Upang mengingatkan agar umat manusia tidak menjadi pelaku kerusakan. Beliau membacakan firman Allah:
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ
Artinya: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik.”

Penceramah menekankan bahwa kerusakan dapat berbentuk berbagai perbuatan dosa, seperti kemaksiatan, kezaliman, korupsi, dan perusakan alam. Dalam konteks ini, Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengajarkan tiga keseimbangan fundamental bagi kehidupan manusia, yaitu:
- Manusia dengan alam: dilarang merusak, diperintahkan merawat,
- Manusia dengan Allah: berdoa dengan rasa takut dan harap akan rahmat-Nya,
- Manusia dengan sesama: berlaku baik dan menjadi muhsinin (orang-orang yang berbuat kebaikan).
Lebih lanjut, Ustadz Upang menyampaikan peringatan Allah tentang fasadu melalui Surat Al-Fathir Ayat 45. Beliau membacakan ayat tersebut sebagai pengingat akan kasih sayang Allah yang masih memberi kesempatan bagi manusia untuk bertaubat:
وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَى ظَهْرِهَا مِنْ دَابَّةٍ وَلَٰكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِعِبَادِهِ بَصِيرًا
Artinya: “Dan sekiranya Allah menghukum manusia disebabkan apa yang telah mereka perbuat, niscaya Dia tidak akan menyisakan satu pun makhluk bergerak yang bernyawa di bumi ini, tetapi Dia menangguhkan (hukuman)-nya, sampai waktu yang sudah ditentukan. Nanti apabila ajal mereka tiba, maka Allah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.”
Ustadz Upang menjelaskan bahwa ayat ini merupakan bentuk kasih sayang Allah yang tidak menyegerakan azab atas kesalahan manusia. Penundaan hukuman ini adalah kesempatan emas bagi manusia untuk kembali (taubat) dan memperbaiki diri serta lingkungannya.
Di sela-sela tausiyah, beliau juga menegaskan bahwa barometer keimanan seseorang dapat tergambar dari pelaksanaan perintah Allah dengan ikhlas, baik yang bersifat wajib maupun sunah. Ketika seorang hamba istiqamah menjalankan kewajiban dan memperbanyak amalan sunah, maka itu pertanda imannya sedang dalam kondisi baik. Sebaliknya, jika mulai melalaikan perintah dan bergelimang dalam kemaksiatan, maka itu adalah sinyal iman yang sedang menurun dan perlu segera diperbaiki.
Acara pengajian yang berlangsung hingga menjelang siang ini ditutup dengan doa dan ramah tamah. Para jamaah terlihat antusias dan mendapatkan pencerahan baru mengenai tanggung jawab moral sebagai khalifah di muka bumi, serta pentingnya menjaga keimanan sebagai barometer kehidupan yang baik.
Ketua PCM Kesambi, H. Digyono, dalam sambutan singkatnya menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada Ustadz Upang Ibrahim atas ilmu yang disampaikan serta kepada seluruh jamaah yang telah meluangkan waktu untuk hadir. Beliau berharap kegiatan serupa dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat bagi warga Muhammadiyah serta masyarakat luas di Kota Cirebon, khususnya dalam meningkatkan kualitas keimanan dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Peliput : Muryanto dan Tim Media PCM Kesambi Kota Cirebon
Editor : Arofah Firdaus


Tinggalkan Balasan