KEDAWUNG, Ahad (19/7/2026) — Suasana khusyuk menyelimuti Masjid Umar bin Khattab yang terletak di kompleks Kampus 2 Universitas Muhammadiyah Ahmad Dahlan (UMMADA) dan SMK Farmasi Muhammadiyah, Kedawung, pada Ahad pagi (19/7/2026). Puluhan jamaah dari berbagai kalangan tampak hadir memenuhi masjid untuk mengikuti pengajian Ahad Subuh yang rutin diselenggarakan.
Bertindak sebagai penceramah pada kesempatan kali ini, Ustadz Drs. Somantri Perbangkara, M.Pd., menyampaikan tausiyah dengan tema yang menggugah, “Menyingkap Kekuasaan Allah.” Dengan gaya penyampaian yang lugas dan penuh hikmah, beliau mengajak para jamaah untuk merenungkan betapa besarnya kekuasaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang terhampar di alam semesta dan bahkan terasa dalam diri manusia itu sendiri.
Merenungi Tanda-Tanda Kekuasaan Allah
Mengawali ceramahnya, Ustadz Somantri mengajak jamaah untuk melihat realitas di sekitar sebagai bukti nyata kekuasaan Ilahi. Beliau mencontohkan bagaimana perhelatan akbar Piala Dunia FIFA yang disiarkan televisi dapat menjadi cermin kebesaran Allah. Di dalam satu stadion, manusia dari berbagai ras, bangsa, dan benua berkumpul dan membaur, menunjukkan betapa dahsyatnya penciptaan Allah atas 8,3 miliar lebih manusia di muka bumi yang berbeda-beda namun tetap memiliki kesatuan sebagai makhluk-Nya.
“Belum lagi ketika kita melihat ragam ikan di lautan, jenis-jenis burung, tumbuhan, dan bunga yang menghiasi bumi, semuanya membuat kita takjub dan bergumam, masya Allah tabarakallah!” ujar beliau dengan penuh penghayatan.
Lebih lanjut, Ustadz Somantri memaparkan bahwa bukti kekuasaan Allah tampak dalam seluruh aspek kehidupan, antara lain: penciptaan alam semesta yang teratur, penciptaan manusia yang sangat kompleks, pergantian siang dan malam, kehidupan dan kematian, pengaturan rezeki, serta sejarah umat terdahulu yang menjadi pelajaran berharga. Al-Qur’an menyebut semua itu sebagai ayat atau tanda-tanda yang mengarahkan manusia kepada keimanan.
Hati sebagai Pusat Kesadaran Spiritual
Dalam perspektif Islam, hati (qalb) bukan sekadar organ biologis, melainkan pusat kesadaran spiritual, tempat lahirnya keimanan, keyakinan, dan hikmah. Ustadz Somantri menegaskan bahwa hati yang bersih mampu menangkap tanda-tanda kekuasaan Allah yang tersebar di alam semesta, dalam perjalanan hidup, bahkan dalam diri manusia sendiri. Sebaliknya, hati yang tertutup oleh dosa, kesombongan, dan hawa nafsu akan sulit menyaksikan kebesaran-Nya, meskipun bukti-buktinya begitu nyata.
Beliau mengutip firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:
QS. Fussilat [41]: 53
سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ
Artinya: “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar.”
Ayat ini menegaskan bahwa tanda-tanda kekuasaan Allah sangat dekat; terhampar di alam raya (al-āfāq) dan terukir dalam diri manusia sendiri (al-anfus). Semakin seseorang merenungkan tanda-tanda tersebut dengan ilmu, akal, dan hati yang jernih, semakin kuat pula keyakinannya terhadap kebesaran dan kekuasaan Allah .
Hati sebagai Alat Pemahaman
Ustadz Somantri juga mengutip firman Allah dalam QS. Qaf [50]: 37 yang menjelaskan peran sentral hati dalam memahami kekuasaan-Nya:
إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ
Artinya: “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikan.”
Ayat ini menunjukkan bahwa hati merupakan alat utama untuk memahami dan menyingkap hakikat kekuasaan Allah. Hati yang hidup akan melihat bahwa seluruh alam bekerja di bawah aturan Allah. Ia memahami bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi tanpa ilmu, kehendak, dan kekuasaan-Nya.
Kekuasaan Allah dalam Penciptaan dan Kehidupan
Dalam ceramahnya, Ustadz Somantri memaparkan beberapa bentuk kekuasaan Allah yang dapat disingkap oleh hati yang bersih. Pertama, kekuasaan dalam penciptaan alam, sebagaimana firman Allah dalam QS. Ali ‘Imran [3]: 190:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لأولِي الألْبَابِ
Artinya: “Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal.”
Hati yang bersih akan melihat keteraturan matahari, pergantian musim, turunnya hujan, tumbuhnya tanaman, dan kelahiran manusia sebagai bukti nyata kekuasaan Allah.
Kedua, kekuasaan Allah dalam kehidupan manusia. Allah berfirman dalam QS. Adz-Dzariyat [51]: 21:
وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلا تُبْصِرُونَ
Artinya: “Dan pada dirimu sendiri, apakah kamu tidak memperhatikan?”
Denyut jantung, pernapasan, kemampuan berpikir, kasih sayang, dan rezeki—semuanya merupakan karunia dan tanda kekuasaan Allah yang patut direnungkan.
Ketiga, kekuasaan Allah dalam mengatur rezeki. Sebagaimana firman-Nya dalam QS. Hud [11]: 6:
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأرْضِ إِلا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا
Artinya: “Tidak ada suatu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.”
Hati yang yakin akan kekuasaan Allah akan menjadi tenang karena percaya bahwa rezeki berada sepenuhnya dalam pengaturan-Nya.
Kekuasaan Allah Membolak-Balikkan Hati
Salah satu bentuk kekuasaan Allah yang paling dekat dengan kehidupan manusia adalah kemampuannya membolak-balikkan hati manusia. Ustadz Somantri mengutip sabda Rasulullah ﷺ:
إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُقَلِّبُهُ كَيْفَ يَشَاءُ
Artinya: “Sesungguhnya hati anak Adam berada di antara dua jari dari jari-jari Allah Yang Maha Pengasih. Dia membolak-balikkannya sesuai kehendak-Nya.” (HR. Muslim)
Hadis ini mengajarkan bahwa hidayah, istiqamah, dan keteguhan hati merupakan anugerah Allah semata. Karena itu, seorang mukmin senantiasa berdoa memohon keteguhan iman dan tidak pernah merasa aman dari kesesatan.
Penghalang Hati dalam Menyingkap Kekuasaan Allah
Ustadz Somantri juga mengingatkan tentang penghalang-penghalang yang dapat menutupi hati sehingga sulit menangkap tanda-tanda kekuasaan Allah. Allah berfirman dalam QS. Al-Muthaffifin [83]: 14:
كَلا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Artinya: “Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.”
Beberapa penghalang yang disebutkan beliau antara lain dosa yang terus dilakukan, kesombongan, cinta dunia yang berlebihan, kelalaian dalam berzikir, mengikuti hawa nafsu, dan menolak kebenaran. Kesombongan, sebagaimana sabda Rasulullah, adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia .
Buah Menyingkap Kekuasaan Allah
Di akhir ceramahnya, Ustadz Somantri menyampaikan bahwa apabila hati berhasil menyingkap kekuasaan Allah, akan lahir sikap-sikap mulia, seperti: tauhid yang semakin kokoh, tawakal dalam menghadapi ujian, syukur atas setiap nikmat, sabar dalam menghadapi musibah, rendah hati karena menyadari keterbatasan manusia, optimisme karena yakin Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, serta semangat beribadah dan berbuat baik.
“Hati adalah jendela ruhani untuk menyaksikan kebesaran Allah. Semakin bersih hati dari dosa dan semakin dekat kepada Allah melalui iman, zikir, tadabbur, dan amal saleh, semakin jelas pula tanda-tanda kekuasaan-Nya dalam alam, kehidupan, dan diri manusia,” pungkas beliau.
Penutup
Pengajian ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Ustadz Somantri, memohon kepada Allah agar seluruh jamaah senantiasa diberikan hati yang bersih, akal yang jernih, dan kemampuan untuk terus menyingkap tanda-tanda kekuasaan-Nya di setiap aspek kehidupan. Semoga kita semakin tawadhu dan dijauhkan dari kedunguan, kebodohan, dan kegegabahan dalam menjalani sisa hidup ini. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Pengajian Ahad Subuh di Masjid Umar bin Khattab ini menjadi salah satu program rutin yang dinantikan oleh masyarakat sekitar kompleks Kampus 2 UMMADA dan SMK Farmasi Muhammadiyah Kedawung sebagai sarana peningkatan keimanan dan ketakwaan di awal pekan.
Peliput : Tim Media Masjid Umar bin Khattab


Tinggalkan Balasan