Masjid Umar bin Khattab yang berlokasi di Komplek SMK Farmasi Muhammadiyah, Kabupaten Cirebon, menggelar salat Jumat (11/9/26) dengan penuh kekhidmatan. Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Ustadz Upang Ibrahim menyampaikan khutbah yang menyentuh nurani, mengangkat tema besar tentang krisis akhlak di era modern serta pentingnya menjaga kebersihan hati.
Dalam khutbahnya, Ustadz Upang menyoroti fenomena degradasi moral yang kian marak, baik di dunia nyata maupun di ruang digital. Media sosial, yang seharusnya menjadi sarana silaturahmi dan berbagi kebaikan, sering kali menjadi ladang subur bagi ujaran kebencian, adu domba, dan perilaku tidak santun. “Kita miris melihat kondisi akhlak saat ini. Di medsos maupun di dunia nyata, banyak orang dengan mudahnya melontarkan kata-kata kasar, memfitnah, dan mengumbar aurat tanpa rasa malu,” ujarnya di hadapan jamaah yang terdiri dari pendidik, tenaga kependidikan, siswa, serta masyarakat sekitar.
Misi Rasulullah: Menyempurnakan Akhlak
Ustadz Upang menegaskan bahwa inti dari diutusnya Nabi Muhammad ﷺ ke muka bumi ini adalah untuk memperbaiki dan menyempurnakan akhlak manusia. Beliau membacakan hadis yang sangat masyhur sebagai landasan utama risalah kenabian:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Al-Baihaqi)
Menurutnya, hadis ini menjadi cambuk bagi umat Islam yang saat ini banyak meninggalkan esensi ajaran Nabi. Islam tidak hanya berbicara tentang ritual ibadah vertikal kepada Allah, tetapi juga bagaimana membangun hubungan horizontal yang harmonis dengan sesama manusia melalui akhlak yang terpuji.
Akhlak Bermuara pada Hati
Lebih dalam, Ustadz Upang menjelaskan bahwa akhlak seseorang bukanlah sekadar perilaku lahiriah yang bisa dibuat-buat, melainkan cerminan dari kondisi batinnya. Muara dari baik buruknya akhlak seseorang terletak pada hati. Jika hati seseorang bersih dan sehat, maka seluruh anggota jasadnya akan menampilkan perilaku yang baik. Sebaliknya, jika hati telah rusak, maka rusak pula seluruh perilakunya.
Beliau kemudian mengutip sabda Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Menjaga Hati dari Penyakit
Mengakhiri khutbahnya, Ustadz Upang mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa menjaga hati dari berbagai penyakit hati yang dapat merusak akhlak. Penyakit-penyakit tersebut seperti hasad (kedengkian), ujub (bangga diri), riya (pamer), dan cinta dunia yang berlebihan harus dibersihkan. Hati yang kotor, ibarat cermin yang berdebu, tidak akan mampu memantulkan cahaya kebenaran dan petunjuk Allah.
Ia mengingatkan bahwa hati bisa berkarat sebagaimana besi yang terkena air. Cara membersihkannya adalah dengan memperbanyak mengingat kematian dan membaca Al-Qur’an, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis:
إِنَّ هَذِهِ الْقُلُوبَ تَصْدَأُ كَمَا يَصْدَأُ الْحَدِيدُ إِذَا أَصَابَهُ الْمَاءُ، قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا جِلَاؤُهَا؟ قَالَ: كَثْرَةُ ذِكْرِ الْمَوْتِ وَتِلَاوَةُ الْقُرْآنِ
“Sesungguhnya hati ini dapat berkarat sebagaimana besi berkarat bila terkena air.” Beliau ditanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana cara membersihkannya?” Beliau menjawab, “Memperbanyak mengingat maut dan membaca Al-Qur’an.” (HR. Baihaqi)
Salat Jumat di Masjid Umar bin Khattab berlangsung tertib dan lancar. Para jamaah tampak khusyuk mendengarkan pesan-pesan spiritual yang disampaikan, dengan harapan dapat menjadi bahan introspeksi untuk memperbaiki kualitas akhlak dan kebersihan hati dalam kehidupan sehari-hari. (*)


Tinggalkan Balasan