MASJID Santun Muhammadiyah Kota Cirebon kembali menggelar Pengajian Reboan pada Rabu malam, 30 September 2026. Kajian rutin yang berlangsung ba’da Maghrib hingga Isya ini menghadirkan Ustadz Agus Wahid, S.Ag. sebagai penceramah, dengan tema “Intidorussholat: Keutamaan Menunggu Shalat.” Jamaah dari berbagai kalangan tampak hadir dan menyimak tausiyah dengan penuh khidmat.
Dalam kajiannya, Ustadz Agus Wahid menjelaskan bahwa menunggu shalat atau intidorussholat memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Beliau menguraikan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan hadis yang menegaskan besarnya pahala bagi seorang Muslim yang dengan sadar menanti waktu shalat berikutnya.

Pahala Menunggu Shalat Setara dengan Orang yang Shalat
Ustadz Agus mengawali pembahasan dengan sebuah hadis yang sangat masyhur tentang keutamaan menunggu shalat. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
لَا يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاةٍ مَا كَانَتِ الصَّلَاةُ تَحْبِسُهُ، لَا يَمْنَعُهُ أَنْ يَنْقَلِبَ إِلَى أَهْلِهِ إِلَّا الصَّلَاةُ
Artinya: “Salah seorang dari kalian senantiasa berada dalam keadaan shalat selama shalat yang ditunggu itu menahannya; tidak ada yang mencegahnya untuk kembali kepada keluarganya selain shalat tersebut.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini, jelas Ustadz Agus, menunjukkan bahwa seorang yang duduk menunggu waktu shalat seolah-olah sedang mengerjakan shalat. Pahalanya sama dengan orang yang tengah shalat, meskipun ia belum mengerjakan shalat itu sendiri.

Doa Malaikat bagi Orang yang Menunggu Shalat
Lebih lanjut, Ustadz Agus menyampaikan bahwa para malaikat senantiasa mendoakan orang yang menunggu shalat. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
الْمَلَائِكَةُ تُصَلِّي عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مُصَلَّاهُ الَّذِي صَلَّى فِيهِ مَا لَمْ يُحْدِثْ، تَقُولُ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ
Artinya: “Para malaikat mendoakan salah seorang dari kalian selama ia berada di tempat shalatnya, selama ia belum berhadats. Mereka berkata: ‘Ya Allah, ampunilah dia. Ya Allah, rahmatilah dia.’” (HR. Bukhari)
“Ini adalah doa yang sangat luar biasa,” ujar Ustadz Agus. “Malaikat, makhluk mulia yang tidak pernah bermaksiat kepada Allah, memohonkan ampunan dan rahmat bagi kita hanya karena kita menunggu shalat.”

Menunggu Shalat Termasuk Ribat Fi Sabilillah
Ustadz Agus juga menjelaskan bahwa menunggu shalat termasuk dalam kategori ribat atau kewaspadaan di jalan Allah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللهُ بِهِ الْخَطَايَا، وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟ إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ، وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ، وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ
Artinya: “Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang dengannya Allah menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat? (Yaitu) menyempurnakan wudhu di waktu-waktu yang sulit, memperbanyak langkah menuju masjid, dan menunggu shalat setelah shalat. Itulah ribat, itulah ribat.” (HR. Muslim)
Menurut Ustadz Agus, hadis ini menegaskan bahwa aktivitas menunggu shalat bukanlah waktu yang kosong, melainkan bernilai ibadah dan bahkan termasuk ribat fi sabilillah—suatu amal yang sangat tinggi kedudukannya.

Kapan Doa Malaikat Terputus?
Dalam penjelasannya, Ustadz Agus mengutip keterangan para ulama mengenai batasan doa malaikat. Doa malaikat akan terputus apabila seseorang batal wudhunya. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam redaksi hadis “mā lam yuḥdits” (selama ia belum berhadats).
Namun, Ustadz Agus menegaskan bahwa jika seseorang segera berwudhu kembali setelah batal, maka doa malaikat akan bersambung kembali. Ini menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah bagi hamba-Nya yang senantiasa menjaga kesucian dan kesiapannya untuk shalat.

Mengisi Waktu Menunggu dengan Amalan Positif
Ustadz Agus juga berpesan agar waktu menunggu shalat diisi dengan hal-hal yang positif. “Jika tidak bisa beristigfar atau membaca Al-Qur’an, maka lebih baik diam,” pesannya.
Beliau menekankan bahwa waktu antara adzan dan iqamah adalah waktu yang mustajab untuk berdoa. Selain itu, berdzikir dan membaca Al-Qur’an akan semakin menambah keberkahan bagi orang yang menunggu shalat.

Menunggu Shalat dalam Keadaan Ngantuk
Menariknya, Ustadz Agus menjelaskan bahwa menunggu shalat dalam keadaan ngantuk (tidur ringan) tidak memutus doa malaikat. Hal ini didasarkan pada pemahaman bahwa tidur ringan tidak membatalkan wudhu, sehingga seseorang yang tertidur ringan sambil menunggu shalat tetap dihitung sebagai orang yang menunggu shalat.
Menunggu Shalat di Luar Masjid karena Uzur
Ustadz Agus juga menyampaikan bahwa seseorang yang menunggu shalat di luar masjid—di rumah, kantor, atau halaman parkir—karena ada uzur seperti sakit, maka ia tetap dihitung sebagai orang yang menunggu shalat. Ini menunjukkan keluasan rahmat Islam bagi mereka yang memiliki keterbatasan untuk hadir di masjid.
Perempuan yang Menunggu Shalat di Rumah
Bagi perempuan yang menunggu shalat di rumah, Ustadz Agus menegaskan bahwa mereka juga mendapatkan pahala yang sama. Beliau mengutip pendapat Ibnu Abdil Barr yang menyatakan bahwa jika seorang perempuan shalat di masjid rumahnya dan duduk menunggu shalat, maka ia termasuk dalam keutamaan ini selama yang menahannya dari kesibukan adalah menunggu shalat.
Musafir yang Terbiasa Mukim
Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Agus juga menyinggung tentang musafir yang terbiasa mukim dan selalu menunggu shalat, maka ia tetap mendapatkan pahala intidorussholat. Kebiasaan baik yang terus dipelihara akan tetap menjadi amal saleh, meskipun dalam keadaan safar.
Waktu Afdhal Menunggu Shalat
Di akhir kajiannya, Ustadz Agus menyampaikan bahwa waktu yang paling afdhal untuk menunggu shalat adalah di shaf awal ketika hendak menunaikan shalat berjamaah. Hal ini sejalan dengan hadis Nabi yang menyebutkan keutamaan shaf pertama dan dorongan untuk bersegera menuju masjid.
Penutup
Pengajian Reboan di Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon ini ditutup dengan doa. Jamaah tampak antusias menyimak setiap penjelasan yang disampaikan Ustadz Agus Wahid. Melalui kajian ini, diharapkan semakin banyak Muslim yang menyadari betapa besar keutamaan menunggu shalat dan menjadikannya sebagai bagian dari rutinitas ibadah harian.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Peliput : Dakum, S.Pd., dan Tim Media masjid Santun


Tinggalkan Balasan