Pengajian Reboan di Masjid Santun Muhammadiyah Cirebon: Belajar dari Dua Hadis tentang Syaitan

·

Editor:

|

3 menit

|

📋

Dibaca: 0 x

MASJID Santun Muhammadiyah Kota Cirebon kembali menggelar pengajian rutin Reboan pada Rabu, 23 September 2026. Pengajian kali ini menghadirkan Ustadz Agus Wahid, S.Ag. sebagai penceramah, dengan pembahasan utama mengenai dua hadis yang berkaitan dengan perbuatan syaitan terhadap manusia.

Dalam ceramahnya, Ustadz Agus Wahid mengangkat hadis pertama tentang dua kuburan yang dilewati Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam dan diberi pelepah kurma basah. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ibnu Abbas RA:

مَرَّ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلَى قَبْرَيْنِ فَقَالَ: أَمَا إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ، ثُمَّ قَالَ بَلَى، إِنَّهُ لَكَبِيرٌ، أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ، وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ، قَالَ: فَدَعَا بِعَسِيبٍ رَطْبٍ فَشَقَّهُ بِاثْنَيْنِ، ثُمَّ غَرَسَ عَلَى هَذَا وَاحِدًا، وَعَلَى هَذَا وَاحِدًا، ثُمَّ قَالَ: لَعَلَّهُ أَنْ يُخَفَّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا

Artinya: “Suatu ketika Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam melewati dua kuburan, kemudian beliau berkata: ‘Sesungguhnya kedua penghuni kuburan ini sedang diazab, mereka berdua diazab bukan karena dosa besar. Adapun salah satunya dahulu tidak menutup diri ketika kencing. Adapun yang lainnya, dahulu sering berjalan sambil menyebar fitnah.’ Kemudian beliau mengambil pelepah kurma yang masih basah, dan dibelah menjadi dua, masing-masing ditanam pada kedua kuburan tersebut. Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, kenapa engkau melakukan ini?’ Beliau menjawab, ‘Mudah-mudahan ini bisa meringankan azab keduanya selama belum kering.’”

Ustadz Agus Wahid menjelaskan bahwa dalam Kitab Fathul Bari tidak terdapat hadis yang secara eksplisit menyebutkan nama kedua sahabat Nabi yang ditancapi pelepah kurma tersebut. Identitas keduanya tidak disebutkan secara spesifik dalam riwayat-riwayat yang ada.

Adapun hadis kedua yang dibahas adalah tentang orang yang tidur hingga tidak melaksanakan shalat Subuh, yang dalam hadis disebutkan sebagai orang yang dikencingi syaitan di telinganya. Hadis ini diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud RA:

ذَاكَ رَجُلٌ بَالَ الشَّيْطَانُ فِي أُذُنَيْهِ، أَوْ قَالَ: فِي أُذُنِهِ

Artinya: “Lelaki itu telah dikencingi oleh syaitan di kedua telinganya.” Atau Baginda Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Di telinganya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Ustadz Agus Wahid memaparkan dua makna terkait hadis ini. Pertama, makna sebenarnya (hakiki), yaitu syaitan memiliki bentuk sebagaimana manusia, ia makan, minum, dan kencing, tetapi tidak terlihat oleh mata manusia. Kedua, pandangan Ibnu Hajar al-Asqalani yang menakwilkan hadis ini sebagai majas atau kiasan. Menurut Ibnu Hajar, “syaitan mengencingi telinga” adalah kiasan dari perbuatan syaitan yang menghalangi telinga orang tidur sehingga tidak mendengar panggilan shalat, atau syaitan memenuhi pendengaran dengan suara-suara batil sehingga tertutup dari seruan azan.

Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Agus Wahid juga menegaskan bahwa syaitan adalah musuh nyata bagi manusia. Untuk mengatasi belenggu syaitan yang dapat menyebabkan seseorang terlena dalam tidur dan meninggalkan shalat, terdapat empat langkah yang diajarkan dalam hadis. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam:

إِذَا نَامَ أَحَدُكُمْ عَقَدَ الشَّيْطَانُ عَلَى رَأْسِهِ ثَلَاثَ عُقَدٍ يَضْرِبُ عَلَى كُلِّ عُقْدَةٍ: عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ، فَإِنِ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ أُخْرَى، فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ الْعُقَدُ كُلُّهَا

Artinya: “Jika salah seorang dari kalian tidur, syaitan mengikat tiga ikatan pada kepalanya. Pada setiap ikatan ia berkata: ‘Engkau masih memiliki malam yang panjang, maka tidurlah.’ Jika ia bangun lalu berdzikir kepada Allah, terlepaslah satu ikatan. Jika ia berwudhu, terlepaslah satu ikatan lagi. Jika ia shalat, terlepaslah seluruh ikatan. Maka ia pun memasuki pagi dengan jiwa yang baik dan semangat, jika tidak, ia memasuki pagi dengan jiwa yang buruk dan malas.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Empat langkah tersebut adalah: pertama, memiliki niat yang kuat untuk bangun; kedua, ketika terbangun segera berdzikir mengingat Allah; ketiga, mengambil air wudhu; dan keempat, melaksanakan shalat. Dengan mengamalkan langkah-langkah ini, ikatan syaitan yang membelenggu akan terlepas, sehingga seorang hamba dapat bangun dengan jiwa yang bersih dan semangat dalam menjalankan ibadah.

Pengajian Reboan di Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon ini dihadiri oleh jamaah yang antusias mengikuti pemaparan dari Ustadz Agus Wahid. Acara berlangsung dengan tertib dan diakhiri dengan doa. (*)

Peliput : Dakum, S.Pd., dan Tim Media masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

One response to “Pengajian Reboan di Masjid Santun Muhammadiyah Cirebon: Belajar dari Dua Hadis tentang Syaitan”

  1. Avatar Fahyudin
    Fahyudin

    Alhamdulillah, pembahasan hadis yang sangat menyejukkan sekaligus menjadi pengingat diri.
    Semoga kita terhindar dari perbuatan syaitan dan bisa istiqamah menjalankan 4 amalan agar bangun Subuh dengan jiwa yang segar dan bersemangat.