Assalaamu 'alaikum,...

Apa yang bisa kami bantu?

Pengajian Reboan Masjid Santun Muhammadiyah Cirebon: Ustadz Dr. Maman Rusman Tekankan Larangan Membela Pengkhianat

·

Editor:

|

⏱

3 menit

|

📋

Dibaca: 11 x

SUASANA khidmat menyelimuti Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon pada pelaksanaan Pengajian Reboan, Rabu (14/10/2026). Kegiatan rutin mingguan yang digelar selepas salat Maghrib hingga menjelang Isya ini menghadirkan penceramah utama Ustadz Dr. Maman Rusman, M.Pd., yang menyampaikan tausiah mendalam bertema larangan membela orang-orang yang berkhianat.

Dalam ceramahnya, Ustadz Maman mengawali pembahasan dengan mengutip firman Allah dalam Surah An-Nisa ayat 105:

اِنَّآ اَنْزَلْنَآ اِلَيْكَ الْكِتٰبَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَآ اَرٰىكَ اللّٰهُ ۗ وَلَا تَكُنْ لِّلْخَاۤىِٕنِيْنَ خَصِيْمًا

Innā anzalnā ilaikal-kitāba bil-ḥaqqi litaḥkuma bainan-nāsi bimā arākallāh, wa lā takul lil-khā’inīna khaṣīmā

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Nabi Muhammad) dengan hak agar kamu memutuskan (perkara) di antara manusia dengan apa yang telah Allah ajarkan kepadamu. Janganlah engkau menjadi penentang (orang yang tidak bersalah) karena (membela) para pengkhianat.”

Ustadz Maman menjelaskan bahwa ayat ini mengandung peringatan tegas bagi setiap Muslim, khususnya para pemimpin, untuk tidak berpihak kepada kebatilan. Beliau menguraikan dua istilah kunci dalam ayat tersebut.

Pertama, “khoinin” yang berarti pengkhianat atau orang yang tidak setia. Menurutnya, seorang pengkhianat adalah mereka yang tidak menjalankan amanah dengan baik. Kedua, “khosiman” yang berarti penentang. Dalam konteks ini, seseorang yang membela pengkhianat justru telah menentang kebenaran.

“Ketika terjadi persoalan, janganlah kita menentang orang yang melakukan kebenaran. Orang yang setia adalah orang yang dapat memberikan keuntungan, bukan kerugian,” tegas Ustadz Maman.

Untuk memperjelas pemahaman jamaah, beliau memberikan ilustrasi kontemporer. Diceritakan tentang seorang pemimpin yang memiliki program kerja, namun bawahannya tidak melaksanakan tugas sesuai standar operasional prosedur (SOP) yang berlaku. Akibatnya, muncul banyak keluhan dari masyarakat. Ketika persoalan ini diadukan kepada pemimpin tersebut, sang pemimpin justru membela bawahannya yang lalai, bukan menegakkan kebenaran. Dalam konteks ini, Ustadz Maman menyimpulkan bahwa pemimpin tersebut berperan sebagai khosiman (penentang kebenaran), sedangkan bawahannya adalah khoinin (pengkhianat).

Selanjutnya, Ustadz Maman membahas Surah An-Nisa ayat 107 yang merupakan penegasan dari ayat sebelumnya:

وَلَا تُجَادِلْ عَنِ الَّذِيْنَ يَخْتَانُوْنَ اَنْفُسَهُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ خَوَّانًا اَثِيْمًاۙ

Wa lā tujādil ‘anil-lażīna yakhtānūna anfusahum, innallāha lā yuḥibbu man kāna khawwānan aṡīmā

Artinya: “Dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa.”

Beliau kemudian mengisahkan latar belakang turunnya ayat ini. Pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, terjadi peristiwa pencurian baju besi yang dituduhkan kepada seorang Yahudi bernama Tuma bin Uzair. Padahal, pelaku sebenarnya adalah dia sendiri. Bahkan, keluarga pelaku turut bersaksi palsu untuk membela pelaku. Hampir saja Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam percaya dengan omongan tersebut. Namun, Allah segera menurunkan wahyu-Nya untuk meluruskan persoalan ini, menegaskan bahwa Rasulullah tidak boleh membela orang yang berkhianat.

“Allah berfirman, janganlah engkau membela orang yang mengkhianati diri mereka sendiri,” ujar Ustadz Maman menutup pemaparan dengan pesan mendalam agar jamaah senantiasa berpihak pada kebenaran dan menjauhi segala bentuk pembelaan terhadap kebatilan.

Kajian yang berlangsung khusyuk ini dihadiri jamaah dari berbagai kalangan. Pengajian Reboan di Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon merupakan agenda rutin mingguan yang telah menjadi tradisi keilmuan bagi warga Muhammadiyah dan masyarakat sekitar.

Dakum

Masjid Santun Muhammadiyah

Tim Media Muhammadiyah Kota Cirebon




Kirim Tanggapan