Khutbah Jumat di Masjid Santun Muhammadiyah: Ustadz Dedi Ahyadi Ajak Jamaah Jaga Mata, Telinga, dan Hati dari Dosa

CIREBON, 24 Juli 2026 — Suasana khidmat menyelimuti Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon pada pelaksanaan Salat Jumat, 24 Juli 2026. Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Ustadz H. Dedi Ahyadi menyampaikan khutbah dengan tema “Menjaga Mata, Pendengaran, dan Hati agar Terhindar dari Perbuatan Dosa” .

Jamaah tampak khusyuk mengikuti rangkaian ibadah dari awal hingga akhir. Dalam khutbahnya, Ustadz Dedi mengingatkan bahwa ketiga anggota tubuh tersebut—mata, telinga, dan hati—memiliki peran sentral dalam membentuk kepribadian seorang muslim. Jika tidak dijaga, ketiganya dapat menjadi pintu masuk bagi berbagai kemaksiatan yang merusak keimanan .


Hati: Raja yang Harus Terjaga

Mengawali khutbah, Ustadz Dedi menjelaskan bahwa hati adalah “raja” bagi seluruh anggota tubuh. Jika hati baik, maka seluruh anggota tubuh akan baik; sebaliknya, jika hati rusak, maka seluruh tubuh pun akan rusak. Beliau mengutip sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

Artinya: “Ingatlah, di dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuh. Ingatlah, ia adalah hati.” (HR. Bukhari & Muslim)

Ustadz Dedi menekankan bahwa hati harus dijaga dari penyakit-penyakit batin seperti iri, dengki, sombong, dan cinta dunia yang berlebihan. Hati yang kotor akan menuntun pemiliknya pada perbuatan dosa, baik melalui pandangan mata maupun ucapan yang didengar dan dilontarkan .


Mata: Jendela Hati yang Wajib Dijaga

Pada bagian kedua, khatib mengajak jamaah untuk menjaga pandangan. Mata, menurut beliau, adalah jendela hati. Apa yang dilihat akan masuk ke dalam hati dan memengaruhinya.

Ustadz Dedi membacakan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Surah An-Nur ayat 30:

قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

Artinya: “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”

Beliau juga mengingatkan bahwa pandangan adalah salah satu panah beracun iblis. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

النَّظْرَةُ سَهْمٌ مَسْمُومٌ مِنْ سِهَامِ إِبْلِيسَ لَعَنَهُ اللهُ، فَمَنْ تَرَكَهَا خَوْفًا مِنَ اللهِ أَتَاهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ إِيمَانًا يَجِدُ حَلَاوَتَهُ فِي قَلْبِهِ

Artinya: “Pandangan (yang terlarang) adalah salah satu panah beracun milik iblis yang dilaknat Allah. Barang siapa yang meninggalkannya karena takut kepada Allah, maka Allah akan memberinya keimanan yang manisnya ia rasakan dalam hatinya.” (HR. Al-Hakim)


Telinga: Saring Sebelum Menyaring

Selanjutnya, Ustadz Dedi menyoroti pentingnya menjaga pendengaran. Telinga yang tidak dijaga akan menjadi tempat masuknya berita bohong, ghibah (gunjingan), dan perkataan sia-sia yang mengundang murka Allah.

Beliau mengutip firman Allah dalam Surah Al-Ma’idah ayat 42:

سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ أَكَّالُونَ لِلسُّحْتِ

Artinya: “Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram.” (QS. Al-Ma’idah: 42)

Bahkan, orang yang mendengarkan ghibah memiliki dosa yang sama dengan orang yang menggunjing. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

اَلْمُغْتَابُ وَالْمُسْتَمِعُ شَرِيْكَانِ فِي الْإِثْمِ

Artinya: “Orang yang menggunjing dan orang yang mendengarkannya adalah sama-sama dalam dosa.” (HR. Ath-Thabrani)

Oleh karena itu, jamaah diajak untuk mengisi pendengaran dengan lantunan Al-Qur’an, zikir, dan nasihat yang baik, serta menjauhi siaran dan obrolan yang mengandung keburukan .


Penutup: Taubat dan Istigfar

Mengakhiri khutbahnya, Ustadz Dedi Ahyadi mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa bertaubat dan memperbanyak istigfar. Menjaga mata, telinga, dan hati adalah bagian dari upaya meraih ketakwaan dan menghindarkan diri dari siksa Allah.

Beliau mengingatkan firman Allah dalam Surah Al-Hasyr ayat 18:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Salat Jumat berlangsung dengan tertib dan diakhiri dengan doa, dipimpin langsung oleh Ustadz Dedi Ahyadi, memohon ampunan dan petunjuk bagi seluruh umat Islam di Kota Cirebon.

Peliput : Dakum, S.Pd., dan Tim Media Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon.

Editor : Arofah Firdaus

Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *