Abstrak
Islam bukan sekadar agama yang mengatur hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan (habl min Allāh), melainkan sebuah sistem kehidupan yang komprehensif (syumūliyyah). Artikel ini disusun sebagai bagian dari materi kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan 1 (AIK 1) di Universitas Muhammadiyah Cirebon. Pembahasan mencakup hakikat Islam sebagai way of life dengan mengkaji pengertian, tujuan, fungsi, sumber, ruang lingkup, serta karakteristik ajarannya. Dengan merujuk pada al-Qur’an dan hadits, artikel ini menunjukkan bahwa Islam memberikan petunjuk sempurna bagi seluruh aspek kehidupan manusia, sejalan dengan visi Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang berlandaskan al-Qur’an dan as-Sunnah.
Kata Kunci: Islam, way of life, akidah, syariah, muamalah, AIK, Universitas Muhammadiyah Cirebon
Pendahuluan
Dalam perjalanan sejarah peradaban manusia, agama sering kali diposisikan sebagai institusi yang terpisah dari urusan duniawi. Namun, Islam hadir dengan paradigma yang berbeda. Islam adalah ad-dīn—sebuah jalan hidup yang mengintegrasikan nilai-nilai ketuhanan ke dalam setiap sendi kehidupan, mulai dari ibadah ritual hingga etika bisnis, dari urusan rumah tangga hingga tata kelola pemerintahan.
Sebagai bagian dari kurikulum perguruan tinggi Muhammadiyah, mata kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) memiliki misi strategis untuk membentuk mahasiswa yang tidak hanya cakap secara intelektual, tetapi juga memiliki kepribadian Islami yang kuat. AIK 1 menjadi fondasi awal dalam memahami hakikat Islam sebagai way of life—sebuah pemahaman yang akan menjadi pijakan bagi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Cirebon dalam menjalani kehidupan akademik, sosial, dan profesional yang berlandaskan nilai-nilai Islam.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala menegaskan dalam QS. Ali-Imran: 19:
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
Innad-dīna ‘indallāhil-islām.
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali-Imran [3]: 19)
Ayat ini menegaskan bahwa satu-satunya sistem hidup yang diridhai Allah adalah Islam—sebuah sistem yang sempurna dan final. Pemahaman ini menjadi fondasi utama dalam pembentukan karakter mahasiswa Muhammadiyah yang berkomitmen pada tajdīd (pembaruan) dan iḥsān (keunggulan).
A. Pengertian, Tujuan, dan Fungsi Islam
1. Pengertian Islam
Secara etimologis, kata islām berasal dari akar kata salima yang berarti selamat, sejahtera, dan damai. Seorang muslim adalah pribadi yang menyerahkan diri (aslama) sepenuhnya kepada Allah sehingga mencapai keselamatan dunia-akhirat.
Secara terminologis, Islam adalah wahyu yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam sebagai petunjuk bagi umat manusia agar dapat menjalani kehidupan yang sesuai dengan kehendak Sang Pencipta. Dalam perspektif Muhammadiyah, Islam dipahami sebagai mā jā’a bihī al-rasūl min ‘indi Allāh (segala sesuatu yang dibawa oleh Rasul dari sisi Allah), mencakup akidah, ibadah, muamalah, dan akhlak.
2. Tujuan Islam
Tujuan utama diturunkannya Islam adalah terwujudnya raḥmatan li al-‘ālamīn (rahmat bagi seluruh alam). Allah berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
Wa mā arsalnāka illā raḥmatan lil-‘ālamīn.
“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya [21]: 107)
Tujuan ini mengindikasikan bahwa kehadiran Islam di muka bumi membawa kedamaian, keadilan, dan kesejahteraan universal, tidak hanya bagi umat Islam, tetapi bagi seluruh ciptaan. Bagi seorang mahasiswa Universitas Muhammadiyah Cirebon, memahami tujuan ini berarti menginternalisasi nilai-nilai rahmat dalam setiap aktivitas akademik, baik di kampus maupun di masyarakat.
3. Fungsi Islam
Fungsi Islam adalah sebagai:
- Hudan (petunjuk) bagi manusia dalam menjalani kehidupan.
- Furqān (pembeda antara hak dan batil) sehingga manusia tidak tercampur aduk antara kebenaran dan kebathilan.
- Syifā’ (obat) bagi segala problematika kehidupan, baik fisik, psikis, maupun sosial.
- Mau‘iẓah (nasihat) yang menyentuh hati dan membangun kesadaran spiritual.
Fungsi-fungsi ini menjadikan Islam relevan sebagai solusi bagi kompleksitas kehidupan modern, termasuk dalam dunia pendidikan tinggi yang terus berkembang.
B. Sumber Ajaran Islam
Sumber utama ajaran Islam adalah:
- Al-Qur’an – Firman Allah yang mutlak kebenarannya, menjadi pedoman utama. Muhammadiyah menempatkan al-Qur’an sebagai sumber utama yang harus dipahami secara kontekstual tanpa meninggalkan prinsip-prinsip dasarnya.
- Hadits/Sunnah – Sabda, perbuatan, dan ketetapan Nabi Muhammad Saw. yang berfungsi sebagai penjelas (bayān) terhadap al-Qur’an. Dalam tradisi Muhammadiyah, hadits dipahami melalui kritik kesahihan sanad dan matan dengan pendekatan bayāni yang teliti.
- Ijtihad – Upaya maksimal para ulama dalam menggali hukum dari kedua sumber tersebut, mencakup ijmā’ (konsensus) dan qiyās (analogi). Muhammadiyah dikenal sebagai gerakan yang membuka pintu ijtihad (infitaḥ bāb al-ijtihād) dan menolak taklid buta, sehingga selalu dinamis dalam merespons perkembangan zaman.
Kesempurnaan sumber ini menjadikan Islam relevan sepanjang masa (ṣāliḥ li kulli zamān wa makān) dan menjadi landasan bagi civitas akademika Universitas Muhammadiyah Cirebon dalam berpikir kritis dan solutif.
C. Ruang Lingkup Ajaran Islam
Ruang lingkup ajaran Islam terbagi dalam tiga pilar utama yang saling terkait: Akidah, Syariah, dan Akhlak. Namun, dalam kajian fikih, syariah mencakup ibadah dan muamalah. Secara sistematis, cakupannya adalah sebagai berikut:
1. Akidah (Keimanan)
Akidah merupakan fondasi dasar. Ia adalah keyakinan yang tertanam dalam hati tentang keesaan Allah, kepercayaan kepada malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul, hari akhir, serta qada dan qadar. Akidah yang benar membentuk motivasi intrinsik seorang muslim dalam beramal.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
Laqad khalaqnal-insāna fī aḥsani taqwīm.
“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tiin [95]: 4)
Ayat ini menunjukkan bahwa manusia memiliki potensi luhur, dan akidahlah yang mengarahkan potensi tersebut menuju aktualisasi diri yang mulia. Mahasiswa sebagai insan akademik dituntut untuk mengaktualisasikan potensi terbaiknya dalam kerangka keimanan.
2. Ibadah (Hubungan Vertikal)
Ibadah adalah bentuk penghambaan diri kepada Allah, baik yang bersifat mahḍah (ritual murni) seperti salat, puasa, zakat, dan haji, maupun ghairu mahḍah (ibadah sosial) yang nilainya sama penting. Ibadah bertujuan menjaga kesucian jiwa dan membentuk kedisiplinan spiritual.
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالحَجِّ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ
Buniyal-islāmu ‘alā khams: syahādati an lā ilāha illallāh wa anna Muhammadar-rasūlullāh, wa iqāmiṣ-ṣalāh, wa ītā’iz-zakāh, wal-ḥajji, wa ṣaumi ramaḍān.
“Islam dibangun di atas lima perkara: persaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, menunaikan zakat, haji, dan puasa Ramadan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam konteks kemahasiswaan, ibadah tidak hanya dipahami sebagai ritual semata, tetapi juga sebagai pembentukan karakter disiplin, jujur, dan bertanggung jawab—nilai-nilai yang sangat diperlukan dalam dunia akademik.
3. Syariah dan Muamalah (Hubungan Horizontal)
Muamalah adalah aspek yang mengatur hubungan antarmanusia, termasuk dalam bidang ekonomi, politik, pernikahan, waris, pidana, dan lainnya. Islam memberikan prinsip-prinsip keadilan, transparansi, dan kemaslahatan.
Dalam urusan muamalah, Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلَاقِ
Innamā bu‘itstu li utammima makārim al-akhlāq.
“Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)
Ini menunjukkan bahwa seluruh aspek muamalah harus dijalankan dengan akhlak mulia sebagai ruhnya. Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Cirebon diharapkan mampu menerapkan nilai-nilai ini dalam interaksi sosial, organisasi, dan kelak dalam dunia kerja.
D. Karakteristik Ajaran Islam
Beberapa karakteristik utama Islam sebagai way of life yang menjadi penekanan dalam perkuliahan AIK 1 adalah:
- Rabbaniyyah (Ketuhanan)
Sumber ajaran Islam berasal dari Allah, bukan hasil rekayasa manusia. Ia bersifat mutlak kebenarannya. Hal ini mengajarkan mahasiswa untuk memiliki komitmen spiritual yang kokoh di tengah arus pemikiran sekuler. - Syumūliyyah (Komprehensif)
Islam mencakup seluruh aspek kehidupan: spiritual, ekonomi, sosial, budaya, politik, dan militer. Tidak ada dikotomi antara sakral dan profan. Bagi mahasiswa, ini berarti bahwa aktivitas akademik adalah bagian dari ibadah jika diniatkan dengan benar. - Tawāzun (Keseimbangan)
Islam mengajarkan keseimbangan antara hak individu dan hak masyarakat, antara kebutuhan jasmani dan rohani, serta antara dunia dan akhirat. Allah berfirman:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
Wabtaghi fīmā ātākallāhu ad-dāral-ākhirata wa lā tansa naṣībaka min ad-dunyā.
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari kenikmatan duniawi.” (QS. Al-Qashash [28]: 77)
- Wāqi‘iyyah (Realistis)
Islam mempertimbangkan kemampuan dan fitrah manusia. Ia tidak memberatkan di luar batas kemampuan, sebagaimana kaidah fikih: al-masyaqqatu tajlibu at-taisīr (kesulitan mendatangkan kemudahan). - Ṡabāt wa Murūnah (Tetap dan Fleksibel)
Islam memiliki prinsip-prinsip yang tetap (ṡawābit) dalam akidah dan ibadah pokok, namun fleksibel (murūnah) dalam masalah ijtihadiyah yang berkembang sesuai konteks zaman dan tempat. Inilah yang menjadi spirit gerakan Muhammadiyah dalam melakukan tajdīd di berbagai bidang. - Taqaddum wa Ibdā‘ (Kemajuan dan Inovasi)
Sebagai karakteristik yang ditekankan dalam lingkungan Muhammadiyah, Islam mendorong umatnya untuk maju dan berinovasi. Universitas Muhammadiyah Cirebon hadir sebagai institusi pendidikan yang mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Penutup
Islam sebagai way of life adalah sistem ilahiah yang sempurna, mencakup akidah, ibadah, syariah, dan muamalah. Ia bersumber dari al-Qur’an dan hadits, serta bertujuan mewujudkan rahmat bagi seluruh alam. Dengan karakteristiknya yang komprehensif, seimbang, realistis, dan dinamis, Islam menawarkan solusi holistik bagi kehidupan manusia, baik sebagai individu maupun anggota masyarakat.
Bagi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Cirebon, pemahaman mendalam tentang Islam sebagai way of life melalui mata kuliah AIK 1 bukan sekadar tuntutan akademik, melainkan fondasi untuk membentuk pribadi yang berkemajuan—beriman, berilmu, beramal saleh, dan berkontribusi bagi masyarakat. Menghidupkan Islam secara kaffah (menyeluruh) merupakan keniscayaan bagi setiap muslim, terutama generasi muda intelektual, yang ingin meraih kebahagiaan hakiki di dunia dan akhirat.
Daftar Pustaka
Al-Qur’an al-Karim.
Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari. Beirut: Dar Thuq an-Najah, 1422 H.
Muslim bin al-Hajjaj. Shahih Muslim. Beirut: Dar Ihya’ at-Turats al-‘Arabi, 1412 H.
Ahmad bin Hanbal. Musnad Ahmad. Beirut: Muassasah ar-Risalah, 1421 H.
Ash-Shiddieqy, T.M. Hasbi. Pengantar Ilmu Fiqh. Semarang: Pustaka Rizki Putra, 1997.
Shihab, M. Quraish. Membumikan Al-Qur’an. Bandung: Mizan, 2007.
Tim Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah. Tanya Jawab Agama. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2020.
Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Kepribadian Muhammadiyah. Yogyakarta: PP Muhammadiyah, 2015.
Pertanyaan Diskusi (untuk perkuliahan AIK 1):
- Bagaimana konsep Islam sebagai way of life dapat diimplementasikan dalam kehidupan mahasiswa di era digital?
- Mengapa karakteristik tawāzun (keseimbangan) menjadi sangat penting dalam konteks pendidikan tinggi?
- Bagaimana peran mahasiswa Universitas Muhammadiyah Cirebon dalam mewujudkan Islam sebagai raḥmatan li al-‘ālamīn di lingkungan kampus?


Tinggalkan Balasan