CIREBON – Di ruang pelatihan yang penuh konsentrasi, para peserta Pelatihan Manajemen Reputasi Digital Organisasi Muhammadiyah di Cirebon tampak menyimak dengan seksama. Di hadapan mereka, Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Barat, Kelik Nursetyo Widiyanto, M.Kom., membuka sesi dengan sebuah pertanyaan sederhana namun menggelitik: “Pernahkah kita menyampaikan kabar baik tentang Muhammadiyah, tapi justru terasa hambar dan tidak ada yang membaca?”.

Dari pertanyaan itu, Kelik mengajak peserta untuk menyelami filosofi teknik penulisan yang lebih dari sekadar merangkai kata. Di tengah derasnya arus informasi digital, setiap kader dan pengurus Muhammadiyah dituntut untuk menjadi komunikator ulung. Bukan hanya sekadar menyampaikan berita, tetapi juga mampu menanamkan kepercayaan publik melalui “cerita” yang baik. Kegiatan yang berlangsung di Hotel Grand Lumina UMC pada akhir Juli 2026 ini menjadi wadah bagi para peserta Pimpinan Daerah se-Jawa Barat untuk mengasah kemampuan tersebut.
Dalam penyampaian materinya, Kelik yang juga merupakan praktisi media dan akademisi ini menekankan bahwa publikasi organisasi modern tidak bisa lagi bersifat monolog. Era digital telah mengubah publik menjadi konsumen cerdas yang mencari koneksi emosional. Oleh karena itu, teknik penulisan berita harus memadukan unsur 5W+1H dengan pendekatan storytelling. “Teknik storytelling adalah seni bertutur seperti halnya siaran radio, tapi diterjemahkan ke dalam tulisan. Ini yang membuat artikel kita lebih hidup, lebih manusiawi, dan lebih mudah diingat,” jelasnya, mengutip prinsip penulisan yang relevan di era disrupsi informasi.

Lebih dari sekadar teknis jurnalistik, Kelik menyoroti pentingnya publikasi sebagai bagian dari strategi menjaga reputasi atau reputation management organisasi. Pelatihan yang difasilitasi oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat ini bertujuan membangun kesadaran bahwa setiap konten yang diunggah – baik itu berita, foto, maupun video – adalah cerminan nilai-nilai Muhammadiyah yang berkemajuan. Dengan demikian, reputasi yang baik bukan hanya soal citra di permukaan, tetapi tentang bagaimana organisasi benar-benar memberi manfaat dan membangun kepercayaan publik melalui kinerja yang terpublikasi dengan baik.
Sesi yang dipandu oleh dosen-dosen dari Perguruan Tinggi Muhammadiyah ini mendapat respons antusias dari peserta. Mereka tidak hanya dibekali teori, tetapi juga diajak praktik langsung mulai dari analisis konten hingga evaluasi media digital. Hal ini sejalan dengan keinginan Muhammadiyah untuk memperluas syiar dakwah di ruang digital yang semakin masif, di mana pengelolaan reputasi menjadi sebuah keharusan, bukan pilihan.
Dengan adanya pembekalan ini, MPI PWM Jawa Barat berharap para kader di tingkat wilayah hingga ranting mampu menjadi ujung tombak syiar digital. “Kegiatan Muhammadiyah di semua tingkatan harus dikelola secara serius dan disyiarkan secara optimal. Jangan sampai ada cerita baik yang terlewat dan tidak sampai kepada umat,” pungkas Kelik. Pelatihan ini menjadi langkah konkret bagi Muhammadiyah untuk tetap relevan dan menjadi sumber informasi Islam yang terpercaya di tengah gempuran informasi digital. (*)


Tinggalkan Balasan