CIREBON, 4 Februari 2026 – Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon kembali menggelar Kajian Reboan yang mendalam pada Rabu (4/2/2026) malam. Kajian yang menghadirkan Assoc. Prof. Dr. Arief Hidayat Afendi, SHI., M.Ag., ini secara khusus membahas persiapan fikih menyambut bulan suci Ramadhan 1447 H. Dengan pemaparan yang sistematis, pemateri mengingatkan dan memberikan pemahaman yang jelas kepada jamaah mengenai berbagai hukum yang terkait dengan ibadah puasa.

Menyelesaikan Kewajiban dan Memahami Dasar-Dasar Puasa
Dr. Arief Hidayat membuka kajian dengan mengingatkan jamaah yang masih memiliki hutang puasa (qadha) Ramadhan tahun lalu untuk segera menyelesaikannya sebelum Ramadhan berikutnya tiba. Beliau menjelaskan bahwa puasa wajib dalam Islam ada tiga: Puasa Ramadhan, Puasa Nazar, dan Puasa Kafarat.
Beliau juga menjelaskan perbedaan niat antara puasa wajib dan sunnah. Untuk puasa wajib Ramadhan, niat harus dilakukan sebelum terbit fajar, sebagaimana hadis Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam :
مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَلَا صِيَامَ لَهُ
“Barangsiapa yang tidak berniat puasa (Ramadhan) sejak malam hari, maka tidak ada puasa baginya.” (HR. An-Nasa’i)
Sedangkan untuk puasa sunnah, seperti Senin-Kamis atau puasa Dawud, dibolehkan berniat setelah fajar selama belum makan atau minum sesuatu, karena kemurahan syariat dalam ibadah tathawwu’ (sukarela).

Amalan Sunnah dan Keutamaan di Bulan Ramadhan
Pemateri kemudian menguraikan amalan-amalan yang sangat dianjurkan selama Ramadhan:
- Sahur: Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam sangat menganjurkannya karena mengandung keberkahan. Beliau bersabda: تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً
“Bersahurlah, karena sesungguhnya dalam sahur itu terdapat berkah.” (HR. Al-Bukhari & Muslim) - Shalat Tarawih (Qiyam Ramadhan): Dr. Arief menjelaskan tata cara shalat Tarawih yang sesuai sunnah, merujuk pada praktek Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam sebagaimana diriwayatkan Aisyah Radhiallahu Anhu, yaitu dilakukan dengan empat rakaat-empat rakaat ditambah tiga rakaat witir. Beliau menegaskan, jamaah bebas memilih jumlah rakaat yang ringan atau panjang sesuai kemampuan, yang penting khusyuk dan tuma’ninah. Selain itu, beliau menyampaikan beberapa tuntunan sunnah terkait pelaksanaan shalat malam di bulan Ramadhan:
- Shalat Ba’diyah Isya: Dianjurkan untuk melaksanakan shalat sunnah ba’diyah Isya (dua rakaat).
- Shalat Iftitah/Khofifatain: Boleh dilakukan dua rakaat shalat ringan (khofifatain) dengan niat shalat sunnah sebagai pembuka sebelum memulai Tarawih berjamaah.
- Surat dalam Witir: Dianjurkan membaca surat Al-A’la (Sabbihisma) pada rakaat pertama, Al-Kafirun pada rakaat kedua, dan Al-Ikhlas pada rakaat ketiga shalat witir, mengikuti sunnah Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam.
> كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الْوِتْرِ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى وَقُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ وَقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
“Adalah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam membaca dalam shalat witir: Sabbihisma Rabbikal A’la (Al-A’la), Qul yaa ayyuhal kaafiruun (Al-Kafirun), dan Qul Huwallahu Ahad (Al-Ikhlas).” (HR. Abu Dawud, An-Nasa’i, Ibnu Majah)
Zakat, Takbir, dan Shalat Id: Menyempurnakan Ibadah Ramadhan
Kajian juga mencakup tuntunan menyambung Ramadhan dengan Syawal:
- Zakat Fitrah: Dr. Arief menekankan kewajiban menunaikan Zakat Fitrah sebelum shalat Idul Fitri untuk membersihkan (fitrah) orang yang berpuasa. Beliau secara khusus mengajak jamaah untuk menyalurkannya melalui Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Shadaqah Muhammadiyah (Lazismu) agar lebih terorganisir dan tepat sasaran. Allah berfirman: قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّىٰ . وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّىٰ
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri (dengan zakat), dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia shalat.” (QS. Al-A’la: 14-15) - Takbiran dan Shalat Id: Dr. Arief menjelaskan tata cara takbiran Idul Fitri dengan lafal “Allahu Akbar” diucapkan dua kali pada setiap takbir, sesuai sunnah. Beliau juga menjelaskan bahwa shalat Id disunnahkan di lapangan terbuka (bila memungkinkan), dilaksanakan dengan satu kali takbiratul ihram dan satu kali khutbah. Sebelum berangkat shalat Id, beliau mengingatkan sunnah makan atau minum sedikit terlebih dahulu pada hari Idul Fitri, sebagai pembeda dengan Idul Adha. Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
> كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَطْعَمَ، وَيَوْمَ النَّحْرِ لَا يَطْعَمُ حَتَّى يَرْجِعَ فَيَأْكُلَ مِنْ أُضْحِيَّتِهِ
> “Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam tidak keluar (shalat) pada hari Idul Fitri sebelum makan. Dan pada hari Idul Adha beliau tidak makan sampai beliau kembali (dari shalat), lalu makan dari hewan sembelihannya.” (HR. At-Tirmidzi)
Metode Penentuan Awal Ramadhan: Hisab Imkanur Rukyat
Mengenai penentuan awal Ramadhan, Dr. Arief memaparkan bahwa Muhammadiyah menggunakan metode Hisab Imkanur Rukyat. Metode ini adalah perhitungan astronomi yang menentukan awal bulan Hijriyah berdasarkan kriteria visibilitas hilal (kemungkinan terlihatnya bulan sabit). Artinya, awal bulan ditetapkan jika menurut perhitungan ilmiah, hilal sudah di atas ufuk dan memungkinkan untuk terlihat, meskipun tidak dilakukan rukyat (pengamatan) secara fisik.
Kajian ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif antara pemateri dan jamaah, yang semakin memperdalam pemahaman mereka tentang berbagai persoalan fikih seputar Ramadhan. Kajian ini memberikan bekal ilmu yang jelas dan praktis bagi jamaah untuk menyambut dan menjalankan ibadah di bulan suci dengan lebih siap dan khusyuk.


Tinggalkan Balasan ke Erli Batalkan balasan