Menjaga Fitrah Manusia di Tengah Arus Subhat dan Syahwat

CIREBON, 1 Mei 2026 – Suasana khusyuk menyelimuti Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon pada pelaksanaan salat Jumat, (1/5/2026). Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Ustadz Indra Sudrajat, ME.Sy, menyampaikan khutbah yang menggetarkan hati jamaah dengan tema pentingnya menjaga fitrah manusia dari kerusakan subhat (syubhat) dan syahwat.

Dalam khutbahnya, Ustadz Indra mengawali dengan menjelaskan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menanamkan fitrah dalam hati setiap manusia. Fitrah ini menjadi penentu alami tentang apa yang disukai dan dibenci menurut ketentuan Ilahi.

QS. Ar-Rum ayat 30:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Fa aqim wajhaka lid-dīni ḥanīfa, fiṭratallāhi allatī faṭara an-nāsa ‘alaih, lā tabdīla likhalqillāh, żālikad-dīnul-qayyim, wa lākinna akśara an-nāsi lā ya‘lamūn.

Artinya: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam sesuai) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Khatib menegaskan bahwa ketetapan tentang apa yang disukai Allah adalah sesuatu yang tidak bisa diubah. Rusaknya fitrah manusia disebabkan oleh dua hal utama, yaitu subhat (kerancuan berpikir) dan syahwat (hawa nafsu).

Bahaya Subhat: Mengotori Akal Sebagai Keistimewaan Manusia

Ustadz Indra menjelaskan bahwa akal adalah anugerah istimewa yang membedakan manusia dari makhluk lainnya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menjanjikan kemudahan bagi orang-orang yang berilmu. Namun, generasi muda saat ini mengalami perubahan karena akal dan pikirannya dipenuhi oleh subhat (keraguan dan pemikiran sesat).

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

Hadis Riwayat Bukhari-Muslim:

إِنَّ الْحَلَالَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ

Innal halāla bayyinun wa innal harāma bayyinun

Artinya: “Sesungguhnya yang halal itu jelas, dan yang haram itu pun jelas.”

“Subhat membuat seseorang sulit membedakan antara yang hak dan batil. Dampaknya sangat berbahaya karena merusak cara pandang, terutama pada generasi muda,” ujar Ustadz Indra.

Syahwat Tanpa Adab: Jalan Menghalalkan Segala Cara

Pada poin kedua, khatib mengingatkan bahwa di antara kita ada yang diuji dengan keinginan-keinginan (syahwat) tanpa dibekali adab. Ia menekankan pentingnya membekali setiap keinginan dengan adab agar tidak menjadikan seseorang menghalalkan segala cara, termasuk menjatuhkan orang lain.

Perkataan Sayyidina Umar bin Khattab RA:

“Persaingan yang sehat tidak saling menjatuhkan lawannya.”

Jika subhat dan syahwat telah melekat dalam pikiran, maka seseorang akan sulit mendapatkan hidayah. Lebih jauh lagi, ketika fitrah sudah tidak ada pada generasi muda, maka akan lahir generasi yang tidak saling menghargai, menghormati, dan tidak ada rasa tolong-menolong di antara mereka.

Kembali ke Fitrah Allah

Di akhir khutbahnya, Ustadz Indra mengajak seluruh jamaah, terutama para orang tua, untuk mengembalikan fitrah dalam keluarga. “Jika kita kembalikan fitrah kepada Allah, maka akan tumbuh rasa malu (haya’) sebagai benteng moral. Ajak keluarga kita untuk kembali ke fitrah Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” pesannya.

Jamaah tampak terenyuh dan merenung. Salat Jumat ditutup dengan doa khusyuk, memohon kepada Allah agar dijauhkan dari subhat dan syahwat, serta dianugerahi hati yang senantiasa berada dalam fitrah-Nya.

Redaksi: Tim Liputan Masjid Santun Muhammadiyah Cirebon


Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *