CIREBON, muhammadiyahciko – Suasana khusyuk menyelimuti Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon pada pelaksanaan Salat Jumat, 28 Agustus 2026. Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Ustadz Dr. Alvien S. Haerisma, S.E.I., M.S.I., menyampaikan khutbah dengan tema inspiratif: “Bulan Rabi’ul Awal: Kiprah Ekonomi Islam”, mengajak seluruh jamaah untuk memaknai bulan kelahiran Rasulullah sebagai momentum kebangkitan ekonomi berbasis syariat.
Dalam khutbahnya, Ustadz Alvien mengawali dengan seruan takwa dan rasa syukur atas segala nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Beliau menyampaikan bahwa ketakwaan adalah fondasi utama bagi kemajuan umat, sebagaimana firman Allah dalam Surah Ali Imran ayat 102:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.”

Rabi’ul Awal: Bulan Kelahiran dan Kebangkitan
Ustadz Alvien menjelaskan bahwa Rabi’ul Awal adalah bulan ketiga dalam kalender Hijriah. Secara bahasa, “Rabi’” berarti musim semi dan “Awal” berarti pertama, sehingga dapat dimaknai sebagai musim semi pertama atau masa pertumbuhan awal tanaman. Bulan ini sangat istimewa bagi umat Islam karena menjadi waktu kelahiran Baginda Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.
“Bulan Rabi’ul Awal adalah momentum untuk meneladani akhlak dan perjuangan Nabi, termasuk dalam bidang ekonomi,” ujar Ustadz Alvien di hadapan jamaah yang memadati masjid.
Nilai Ekonomi Islam dalam Keteladanan Nabi
Memasuki inti khutbah, beliau memaparkan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam adalah teladan utama dalam segala aspek kehidupan, termasuk ekonomi. Beliau mengutip firman Allah dalam Surah Al-Ahzab ayat 21:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Artinya: “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Beliau menegaskan bahwa keteladanan Nabi dalam berdagang dengan kejujuran (ash-shidqu) dan amanah menjadi pilar utama ekonomi Islam. Rasulullah bersabda:
التَّاجِرُ الصَّدُوقُ الأَمِينُ مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ
Artinya: “Pedagang yang jujur dan terpercaya (kelak akan dikumpulkan) bersama para nabi, shiddiqin, dan syuhada.” (HR. Tirmidzi, hasan)
Ekonomi Syariah: Keseimbangan Dunia dan Akhirat
Ustadz Alvien menekankan bahwa ekonomi Islam tidak hanya berorientasi pada keuntungan materi, tetapi juga keberkahan dan keadilan sosial. Beliau mengingatkan larangan riba sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 278:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang beriman.” (QS. Al-Baqarah: 278)
Beliau juga mengajak jamaah untuk mengimplementasikan nilai-nilai ekonomi syariah dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari kejujuran dalam berdagang, pengelolaan zakat dan infak, hingga kepedulian terhadap sesama.
“Momentum Rabi’ul Awal hendaknya kita jadikan sebagai titik tolak untuk membangun perekonomian yang halal, berkah, dan berkeadilan. Dengan meneladani Nabi, kita optimalkan potensi umat untuk kemaslahatan bersama,” pungkas Ustadz Alvien.
Tampak hadir dalam kesempatan tersebut jajaran Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Cirebon serta para tokoh masyarakat. Jamaah tampak antusias dan menyimak dengan saksama setiap pesan yang disampaikan. (*)
Peliput: Dakum, S.Pd. dan Tim Media masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon.


Tinggalkan Balasan