Suasana Khidmat Salat Jumat di Masjid Ad-Dien UMMADA, Ustadz Dr. Arief Hidayat Afendi Angkat Urgensi Meneladani Akhlak Nabi

·

Avatar Arofah Firdaus

|

4 menit

|

📋

Dibaca: 9 x

CIREBON, muhammadiyahciko – Suasana khusyuk dan penuh ketenangan menyelimuti pelaksanaan Salat Jumat di Masjid Ad-Dien Universitas Muhammadiyah Ahmad Dahlan (UMMADA), Kalitanjung, Kota Cirebon, pada Jumat (28/8). Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Assoc. Prof. Dr. Arief Hidayat Afendi, S.H.I., M.Ag., menyampaikan khutbah dengan tema mendalam tentang “Urgensi Maulid Adalah Mengikuti Akhlak Nabi”.

Mengawali khutbahnya, Dr. Arief mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Beliau menekankan bahwa peringatan Maulid Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam, bukan sekadar seremonial tahunan, melainkan momentum penting untuk merefleksikan dan meneladani akhlak mulia Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.

Akhlak Mulia Cermin Kebajikan dan Ketakwaan

Dalam khutbahnya, Dr. Arief mengutip firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang menegaskan kemuliaan akhlak Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam:

QS. Al-Qalam: 4
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.”

Beliau juga menyampaikan ayat lain yang menjadi landasan pentingnya akhlak mulia dalam kehidupan bermasyarakat:

QS. Āli ‘Imrān: 134
الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“(Yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.”

Khatib menjelaskan bahwa ayat ini mengajarkan umat Islam untuk memiliki sifat dermawan, mampu mengendalikan amarah, dan pemaaf. Tiga karakter inilah yang menjadi ciri utama orang bertakwa dan dicintai oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, “Ketakwaan bukan hanya tentang hubungan kita dengan Allah, tetapi juga bagaimana hubungan kita dengan sesama manusia. Orang yang bertakwa akan berusaha menjaga lisannya, perilakunya, serta mampu mengendalikan diri ketika menghadapi persoalan,” papar Dr. Arief.

Hadis tentang Kebajikan dan Akhlak Baik

Untuk memperkuat pesan khutbah, Dr. Arief menyampaikan dua hadis Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim serta Imam Bukhari dan Muslim.

Hadis dari An-Nawwās bin Sam’ān ra.
عن النَّوَّاسِ بْنِ سَمْعَانَ رضي الله عنه قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ عَنِ الْبِرِّ وَالْإِثْمِ، فَقَالَ: «الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ، وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي نَفْسِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ». (رواه مسلم)

Dari An-Nawwās bin Sam’ān ra., ia berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah saw. tentang kebajikan dan dosa, beliau bersabda, ‘Kebajikan itu adalah akhlak yang baik. Sedangkan perbuatan dosa adalah sesuatu yang mengganjal dalam hatimu dan engkau tidak mau diketahui orang lain.’” (HR. Muslim)

Dr. Arief menjelaskan bahwa hadis ini mengandung dua pelajaran penting. Pertama, kebajikan seluruhnya terkandung dalam akhlak baik terhadap Allah dan terhadap manusia. Kedua, segala sesuatu yang menimbulkan perasaan tidak tenang dalam hati termasuk perbuatan dosa yang wajib dijauhi. “Orang yang beriman, jika hendak melakukan dosa, hatinya akan terasa ganjal dan tidak tenang. Inilah fitrah iman yang harus kita jaga,” ujarnya.

Hadis dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Āṣ ra.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رضي الله عنهما قَالَ: لَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فَاحِشًا وَلَا مُتَفَحِّشًا، وَكَانَ يَقُولُ: «إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحْسَنَكُمْ أَخْلَاقًا». (متفق عليه)

Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Āṣ ra., ia berkata, “Rasulullah shalallahu alaihi wa salam bukanlah orang yang keji ucapan dan perbuatannya, dan bukan pula suka berbuat keji. Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya.’” (Muttafaq ‘Alaih)

Beliau menjelaskan bahwa sifat Rasulullah shalallahu alaihi wa salam sangat jauh dari kekejian baik dalam perkataan maupun perbuatan. Seorang mukmin wajib meneladani sifat ini. Selain itu, hadis ini juga menjadi anjuran untuk berlomba-lomba dalam berakhlak baik, karena akhlak baik adalah prinsip agama dan merupakan ukuran kesempurnaan iman seseorang.

Penutup dan Harapan

Di akhir khutbah, Dr. Arief mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan peringatan Maulid Nabi sebagai momentum transformasi diri dalam memperbaiki akhlak. “Marilah kita jadikan akhlak Nabi sebagai cermin kehidupan kita. Mari kita tinggalkan segala bentuk kekejian ucapan dan perbuatan, serta senantiasa menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain. Karena sesungguhnya, akhlak mulia adalah perhiasan terbaik bagi seorang mukmin,” pungkasnya.

Jamaah mengikuti jalannya salat dan khutbah dengan penuh khusyuk. Suasana masjid terasa hangat dan penuh makna, mencerminkan semangat kebersamaan dalam meneladani akhlak mulia Rasulullah shalallahu alaihi wa salam. Salat Jumat ditutup dengan doa bersama, memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar senantiasa diberikan kekuatan untuk mengamalkan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari. (*)

Peliput : Fahyudin dan Tim Media masjid Ad-Dien UMMADA.


Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

One response to “Suasana Khidmat Salat Jumat di Masjid Ad-Dien UMMADA, Ustadz Dr. Arief Hidayat Afendi Angkat Urgensi Meneladani Akhlak Nabi”

  1. Avatar Yandi Heryandi
    Yandi Heryandi

    Semoga berkah dan bermanfaat serta amanah.