CIREBON, 13 Februari 2026 – Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon kembali menjadi pusat pencerahan spiritual pada pelaksanaan Salat Jumat, 13 Februari 2026. Bertindak sebagai Imam sekaligus Khatib, Ustadz Ahmad Nurjanah, SE., S.Pd., M.Si. , menyampaikan khutbah bertema persiapan menyambut bulan suci Ramadhan.
Mukadimah: Seruan Takwa dan Kesiapan Menyongsong Ramadhan
Khatib mengawali khutbah dengan seruan takwa yang menjadi fondasi setiap ibadah.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102)
Ustadz Ahmad Nurjanah mengingatkan bahwa kita saat ini berada di ujung bulan Sya’ban, gerbang terakhir sebelum memasuki bulan Ramadhan yang penuh berkah. “Bulan Sya’ban adalah momentum strategis untuk mempersiapkan diri, membina jiwa, dan memperbaiki kualitas ibadah. Jangan biarkan Sya’ban berlalu tanpa makna,” ujar beliau.

Sya’ban: Bulan Latihan dan Pembiasaan Diri
Khatib menjelaskan bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban sebagai bentuk persiapan menyambut Ramadhan. Hal ini diriwayatkan dalam hadis shahih:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُ، وَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ إِلَّا رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ فِي شَهْرٍ أَكْثَرَ مِنْهُ صِيَامًا فِي شَعْبَانَ
Dari Aisyah RA, ia berkata: “Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam biasa berpuasa hingga kami mengira beliau tidak berbuka, dan beliau berbuka hingga kami mengira beliau tidak berpuasa. Aku tidak pernah melihat Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam menyempurnakan puasa sebulan penuh selain di bulan Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa daripada di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari, no. 1969; Muslim, no. 1156)
“Hadis ini menunjukkan bahwa Sya’ban adalah bulan latihan. Beliau membiasakan diri dengan puasa sunnah agar ketika Ramadhan tiba, fisik dan jiwa sudah siap menjalankan ibadah puasa wajib dengan optimal,” jelas Ustadz Ahmad Nurjanah.
Beliau menambahkan, “Jika kita sudah terbiasa berpuasa di bulan Sya’ban, maka menjalani puasa Ramadhan selama sebulan penuh akan terasa lebih ringan. Inilah hikmah di balik kesunnahan memperbanyak puasa di bulan ini.”

Al-Qur’an: Penguat Iman dan Penenteram Jiwa
Memasuki pesan kedua, khatib mengajak jamaah untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an, baik di bulan Sya’ban maupun kelak di bulan Ramadhan. Beliau mengutip sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam :
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari, no. 5027)
Khatib juga menegaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا
“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar (syifa’) dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, sedangkan bagi orang-orang yang zalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian.” (QS. Al-Isra’: 82)
“Bacaan Al-Qur’an akan memperkuat keimanan dan membersihkan hati. Ayat-ayat suci ini adalah nutrisi ruhani yang sangat kita butuhkan, terutama dalam mempersiapkan diri menyambut bulan diturunkannya Al-Qur’an, yaitu Ramadhan,” papar Ustadz Ahmad Nurjanah.
Melatih Jiwa agar Lebih Disiplin dan Siap Beribadah
Khatib kemudian menyoroti aspek kedisiplinan sebagai buah dari pembiasaan ibadah di bulan Sya’ban. Beliau mengutip firman Allah:
إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا
“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa’: 103)
“Kedisiplinan dalam ibadah, baik puasa, shalat, maupun tilawah, adalah kunci keberhasilan meraih predikat takwa di bulan Ramadhan. Sya’ban adalah waktu yang tepat untuk membangun habit (kebiasaan) ibadah,” tegasnya.
Beliau mengajak jamaah untuk memanfaatkan sisa hari di bulan Sya’ban dengan:
- Memperbanyak puasa sunnah sebagai latihan fisik dan spiritual.
- Meningkatkan tadarus Al-Qur’an untuk membangun kedekatan dengan kitab suci.
- Membiasakan shalat tepat waktu dengan kesadaran penuh akan pengawasan Allah.
- Memperbaiki kualitas ibadah dari sekadar rutinitas menjadi penghambaan yang penuh makna.
Penutup: Doa dan Harapan Bertemu Ramadhan
Mengakhiri khutbah, Ustadz Ahmad Nurjanah memanjatkan doa yang diajarkan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam ketika memasuki bulan Sya’ban:
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ، وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
“Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikanlah kami (dengan umur yang sehat) hingga bulan Ramadhan.” (HR. Ahmad, al-Baihaqi, dan ath-Thabrani. Dinilai hasan oleh al-Albani)
Khatib berpesan, “Marilah kita sambut Ramadhan dengan persiapan terbaik. Jadikan Sya’ban sebagai bekal ruhani yang kokoh. Semoga Allah mempertemukan kita dengan Ramadhan dalam keadaan sehat, lapang, dan penuh semangat beribadah. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.”
Khutbah yang singkat namun sarat makna ini ditutup dengan doa dan pelaksanaan Salat Jumat berjamaah dengan khusyuk. Jamaah tampak antusias meresapi pesan-pesan persiapan spiritual, menandakan kesiapan mereka untuk memasuki bulan suci Ramadhan 1447 H dengan bekal iman yang lebih matang.


Tinggalkan Balasan