CIREBON, 18 Maret 2026 – Masjid Umar bin Khattab di Kompleks Universitas Muhammadiyah Ahmad Dahlan (UMADA) dan SMK Farmasi Muhammadiyah Cirebon dipenuhi jamaah pada pelaksanaan kuliah Subuh, Rabu (18/3/2026). Di hari terakhir Ramadhan 1447 H, suasana haru dan refleksi menyelimuti setiap sudut masjid. Bertindak sebagai penceramah, Ustadz Drs. Somantri Perbangkara, M.Pd.I., menyampaikan tausiyah yang menyentuh hati dengan tema “Mereka yang Kembali pada Kesucian” .
Jamaah yang hadir tampak khusyuk menyimak tausiyah yang mengajak untuk merenungkan hakikat kemenangan sejati setelah sebulan penuh berpuasa, serta bagaimana menjaga kesucian yang telah diraih.
Hari Kemenangan: Kembali kepada Fitrah
Ustadz Somantri mengawali kuliah Subuh dengan menjelaskan makna hakiki dari hari kemenangan (Idul Fitri). Bukan sekadar perayaan, tetapi momentum kembalinya seorang hamba kepada fitrah (kesucian) setelah ditempa oleh madrasah Ramadhan selama sebulan penuh.
“Hari kemenangan bukan sekadar perayaan dengan baju baru dan hidangan lezat. Lebih dari itu, ia adalah momentum kembalinya seorang hamba kepada fitrah, kepada kesucian, setelah sebulan penuh ditempa oleh Ramadhan,” papar Ustadz Somantri.
Beliau mengutip firman Allah dalam QS. Ar-Rum ayat 30:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum: 30)
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam juga bersabda:
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci). Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari & Muslim)
“Manusia pada dasarnya dilahirkan dalam keadaan bersih dari dosa. Ramadhan menjadi sarana untuk kembali kepada kondisi suci tersebut. Inilah makna Idul Fitri yang sesungguhnya,” jelas Ustadz Somantri.
Beliau juga mengutip penjelasan Imam Al-Ghazali tentang hakikat puasa. Menurut Imam Al-Ghazali, puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi membersihkan hati dari penyakit seperti riya’, dengki, dan cinta dunia yang berlebihan.
Tanda-Tanda Orang yang Kembali Suci
Memasuki inti pembahasan, Ustadz Somantri memaparkan empat tanda orang yang benar-benar kembali kepada kesucian setelah Ramadhan.
1. Dosanya Diampuni
Tanda pertama dan paling utama adalah diampuninya dosa-dosa oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ini menjadi awal lembaran baru kehidupan yang bersih.
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari & Muslim)
“Ini adalah tanda utama: lembaran baru kehidupan. Setelah Ramadhan, kita memulai hidup dengan catatan bersih, seperti bayi yang baru lahir. Jangan kotori lagi dengan dosa dan maksiat,” pesan Ustadz Somantri.
2. Hatinya Bersih dan Lembut
Tanda kedua adalah hati yang semakin bersih dan lembut setelah menjalani latihan Ramadhan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam QS. Asy-Syams ayat 9:
قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya.” (QS. Asy-Syams: 9)
Ustadz Somantri mengutip penjelasan Ibnu Taimiyah bahwa kesucian hati adalah sumber kebahagiaan sejati, bukan harta atau jabatan. Hati yang bersih akan merasakan ketenangan dan kedamaian, meskipun hidup dalam keterbatasan materi.
3. Istiqamah Setelah Ramadhan
Tanda ketiga adalah konsisten dalam beribadah, tidak hanya baik saat Ramadhan tetapi juga setelahnya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan (ajal).” (QS. Al-Hijr: 99)
“Orang yang benar-benar kembali suci tidak hanya baik saat Ramadhan, tetapi ia mampu mempertahankan kualitas ibadahnya setelah Ramadhan berlalu. Ia istiqamah dalam ketaatan,” tegas Ustadz Somantri.
Beliau mengutip perkataan Hasan Al-Basri , seorang tabi’in terkemuka: “Tanda diterimanya amal adalah kebaikan setelahnya.” Jika setelah Ramadhan kita semakin baik, itu pertanda amal kita diterima.
4. Semakin Dekat dengan Al-Qur’an
Tanda keempat adalah semakin dekat dengan Al-Qur’an. Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an, maka setelahnya interaksi dengan kitab suci harus tetap hidup.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ
“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah: 185)
“Orang yang kembali suci akan hatinya tetap terikat pada wahyu. Tilawah tidak berhenti di Ramadhan, tetapi terus berlanjut sepanjang tahun,” jelas Ustadz Somantri.
Orang yang Gagal Kembali Suci
Di sisi lain, ada juga orang yang gagal meraih kesucian meskipun telah berpuasa sebulan penuh. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالْعَطَشُ
“Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.” (HR. Ahmad)
Ciri-ciri orang yang gagal kembali suci antara lain:
- Kembali kepada maksiat setelah Ramadhan
- Lalai dari ibadah dan kewajiban
- Hati kembali keras dan tidak tersentuh oleh nasihat
“Jangan sampai kita termasuk golongan ini. Kita telah bersusah payah selama sebulan, jangan sia-siakan dengan kembali kepada kebiasaan buruk,” pesan Ustadz Somantri.
Bagaimana Menjaga Kesucian Itu?
Ustadz Somantri memberikan empat kiat untuk menjaga kesucian yang telah diraih selama Ramadhan:
1. Istiqamah dalam Ibadah Kecil Tapi Rutin
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling konsisten (terus-menerus) dilakukan, meskipun sedikit.” (HR. Bukhari & Muslim)
“Jangan remehkan amalan kecil yang rutin. Lebih baik sedikit tapi konsisten daripada banyak tapi hanya sesaat,” jelasnya.
2. Menjaga Hati
Hindari penyakit hati seperti iri, dengki, dan riya’. Perbanyak dzikir dan introspeksi diri. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَن كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ
“Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.” (QS. Qaf: 37)
3. Lingkungan yang Baik
Berteman dengan orang-orang saleh dan menjaga majelis ilmu. Lingkungan yang baik akan menguatkan iman dan menjaga kesucian hati.
4. Muhasabah (Evaluasi Diri)
Setiap hari bertanya pada diri sendiri: “Apakah aku lebih baik dari kemarin?” Jika belum, segera perbaiki. Jika sudah, syukuri dan tingkatkan.
Umar bin Khattab RA berkata:
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا
“Hisablah (introspeksi) dirimu sendiri sebelum kamu dihisab (oleh Allah).”
Penutup: Hati Baru, Bukan Baju Baru
Menutup kultum, Ustadz Somantri menyampaikan pesan menyentuh yang menggugah kesadaran.
“Jangan sampai kita hanya bergembira di hari raya, tetapi kehilangan makna. Orang yang kembali suci bukan yang memakai baju baru, tetapi yang memiliki hati baru. Hati yang bersih, lembut, dan dekat dengan Allah.”
Beliau mengutip perkataan indah dari Ibnu Rajab Al-Hanbali :
لَيْسَ الْعِيدُ لِمَنْ لَبِسَ الْجَدِيدَ، إِنَّمَا الْعِيدُ لِمَنْ آمَنَتْ مَعَاصِيهِ
“Bukanlah hari raya bagi orang yang memakai pakaian baru, sesungguhnya hari raya adalah bagi orang yang dosa-dosanya telah diampuni.”
Doa Penutup:
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ عَادُوا إِلَى الْفِطْرَةِ، وَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَثَبِّتْنَا عَلَى الِاسْتِقَامَةِ
“Ya Allah, jadikan kami termasuk orang-orang yang kembali kepada fitrah, ampunilah dosa-dosa kami, dan tetapkanlah kami dalam keistiqamahan.”
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Kuliah Subuh di penghujung Ramadhan ini berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Jamaah yang hadir tampak merenung dan terharu, mendapatkan pencerahan tentang makna kembali kepada kesucian serta pentingnya menjaga amal ibadah setelah Ramadhan berlalu.


Tinggalkan Balasan