CIREBON, muhammadiyahciko – Suasana khusyuk menyelimuti pelaksanaan Kuliah Subuh dalam rangkaian acara Pengkaderan Fungsional Dosen Al-Islam dan Kemuhammadiyahan UMC pada Ahad pagi, 30 Agustus 2026. Bertempat di kampus 3 UMC, kegiatan yang diikuti oleh para dosen AIK ini menghadirkan narasumber utama, Assoc Prof Dr KH Toto Santi Aji, M.Ag., yang menyampaikan tausiyah dengan tema sentral tentang pentingnya menyadari nikmat iman dan Islam serta menghidupkan indikasi keimanan dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan UMC dalam memperkuat pemahaman dan pengamalan nilai-nilai Islam di lingkungan akademik, terutama bagi para pengajar mata kuliah AIK yang menjadi penciri perguruan tinggi Muhammadiyah.

Rasa Syukur dan Hakikat Keimanan
Mengawali tausiyahnya, Ustadz Toto Santi Aji mengajak seluruh peserta untuk senantiasa bersyukur atas nikmat iman dan Islam. Beliau menekankan bahwa nikmat ini adalah anugerah terbesar yang sering kali luput dari perhatian.
“Kita sering sibuk menghitung nikmat dunia, namun lupa bahwa karunia terbesar adalah ketika Allah menganugerahkan hidayah kepada kita untuk mengenal-Nya dan menjadi bagian dari umat Islam,” ujar beliau.
Kesadaran ini, lanjutnya, merupakan fondasi awal untuk memahami dan mengamalkan ajaran Islam secara kaffah (menyeluruh).
Indikasi Keimanan dalam Al-Qur’an
Pada kesempatan tersebut, Assoc Prof Dr KH Toto Santi Aji, M.Ag. mengupas beberapa indikasi keimanan yang dijelaskan Allah dalam Al-Qur’an. Merujuk pada Surat Al-Anfal ayat 2, beliau menekankan bahwa mukmin sejati memiliki karakteristik yang tampak dalam sikap batin dan lahiriah.

QS Al-Anfal ayat 2
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَۙ
Innamal-mu’minûnalladzîna idzâ dzukirallâhu wajilat qulûbuhum wa idzâ tuliyat ‘alaihim âyâtuhû zâdat-hum îmânaw wa ‘alâ rabbihim yatawakkalûn
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah mereka yang jika disebut nama Allah, gemetar hatinya dan jika dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhannya mereka bertawakal,”.

Beliau menjelaskan bahwa gemetar hati yang dimaksud bukanlah rasa takut yang melumpuhkan, melainkan rasa takut yang diiringi dengan khusyuk, penghormatan, dan kesadaran akan kebesaran Allah. Hati yang bergetar saat nama Allah disebut menjadi indikasi pertama adanya iman yang hidup. Tafsir Jalalayn menambahkan bahwa gemetar ini muncul karena mengingat ancaman dan keagungan Allah, sehingga mendorong seseorang untuk senantiasa taat.
Reaksi Tubuh saat Ayat Al-Qur’an Dibacakan
Indikasi kedua yang ditekankan adalah ketika ayat-ayat Allah dibacakan. Seorang mukmin sejati tidak akan tinggal diam, tetapi imannya bertambah. Ustadz Toto mengaitkan hal ini dengan reaksi tubuh yang tergerak, hingga tersungkur menangis sebagai manifestasi getaran jiwa yang mendalam.
“Apabila dibacakan Al-Qur’an, hati yang hidup akan merespons. Ada air mata yang mengalir, ada bulu roma yang merinding, dan itu adalah isyarat keimanan yang sedang berdenyut,” jelasnya.
Beliau mengutip penafsiran bahwa mendengar ayat-ayat suci seharusnya menambah keyakinan dan pengetahuan tentang Allah, serta menumbuhkan rasa tunduk yang mendalam.

Keutamaan Salat Khusyuk dan Hadis tentang Hati
Selanjutnya, narasumber menyampaikan tentang keutamaan salat yang khusyuk, merujuk pada QS Al-Mu’minun ayat 1-2
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ﴿١﴾ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ ﴿٢﴾
Qad aflaḥal-mu’minūn (1) Allażīna hum fī ṣalātihim khāshi’ūn (2)
Artinya: “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya,”.
yang menegaskan bahwa keberuntungan bagi orang-orang yang khusyuk dalam salatnya. Salat yang khusyuk menjadi cerminan keimanan yang kokoh sekaligus benteng dari perbuatan keji dan munkar.
Hadis tentang Pentingnya Hati (Mudghah)
Dalam tausiyahnya, beliau juga menyampaikan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, yang menjadi rujukan penting tentang peran sentral hati.
Hadits
أَلاَ وَإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ القَلْبُ
Artinya: “Ingatlah, di dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuhnya. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ingatlah, ia adalah hati (qalbu).” (HR. Bukhari & Muslim).
Penjelasan hadis ini menguatkan bahwa kualitas hati sangat menentukan baik buruknya seluruh perilaku manusia. Imam Nawawi menjelaskan bahwa hadis ini adalah penekanan untuk senantiasa berusaha memperbaiki hati dan menjaganya dari kerusakan, karena segala gerak lahiriah berpangkal dari kondisi batiniah. Ustadz Toto menyimpulkan bahwa seluruh indikasi keimanan—mulai dari getaran hati, respons terhadap ayat, hingga kekhusyukan salat—bermuara pada kondisi hati yang bersih dan peka.
Doa Memohon Pembersihan Diri dan Tobat
Menutup sesi, Assoc Prof Dr KH Toto Santi Aji, M.Ag. memimpin doa memohon ampunan dan pembersihan diri dari dosa, mengutip doa iftitah yang diajarkan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam:
Doa Iftitah
اَللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ، اَللَّهُمَّ نَقِّنِيْ مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اَللَّهُمَّ اغْسِلْنِيْ مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ
Allahumma baid baini wa baina khathayaya kama ba’adta bainal masyriqi wal maghrib. Allahumma naqqini min khathayaya kama yunaqqats tsaubul abyadhu minad danas. Allahummaghsilni min khathayaya bil ma’i was tsalji wal barad.
Artinya: “Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, sucikanlah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana pakaian putih disucikan dari kotoran. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, salju, dan embun.”.
Beliau menjelaskan makna mendalam dari doa ini: seorang hamba yang ingin menjadi hamba yang peka hatinya haruslah mengakui dosa dan kesalahan, kemudian bertaubat dan memohon ampun dengan sungguh-sungguh. “Tidak mengakui dosa adalah penghalang terbesar untuk mendekat kepada Allah. Mereka yang hatinya peka adalah mereka yang selalu merasa berdosa dan bergegas untuk bertaubat,” pungkas beliau.
Penutup
Kegiatan Kuliah Subuh dalam Pengkaderan Fungsional Dosen AIK ini berlangsung dengan penuh khidmat. Para dosen yang hadir mengaku mendapatkan pencerahan baru, khususnya dalam memahami indikasi keimanan dan korelasinya dengan tanggung jawab mereka sebagai pendidik di lingkungan Universitas Muhammadiyah Cirebon.
Semoga kegiatan ini menjadi pemicu semangat bagi seluruh sivitas akademika UMC untuk terus menguatkan internalisasi nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan di setiap aspek kehidupan. (*)


Tinggalkan Balasan