CIREBON, muhammadiyahciko – Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) resmi membuka kegiatan Pengkaderan Fungsional Dosen Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) dengan tema besar “Peradaban”. Acara yang berlangsung di Meeting Room Kampus 3 UMC ini diikuti oleh 35 peserta dosen dari berbagai fakultas dan menjadi momentum strategis dalam memperkuat karakter keislaman dan kemuhammadiyahan di lingkungan kampus.
Kegiatan yang dirangkai dalam sesi kedua ini menghadirkan dua pembicara kunci, yakni Wakil Rektor III UMC, Dr. Bagus Nurul Iman, M.Pd., dan Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMC, Prof. Dr. Ir. Gunawan. Keduanya menyoroti pentingnya integrasi nilai-nilai AIK tidak hanya sebagai mata kuliah wajib, tetapi sebagai fondasi peradaban yang harus melekat dalam setiap sendi kehidupan akademik.

Dr. Bagus Nurul Iman: AIK Bukan Sekadar Teori, Melainkan Jiwa dari Seluruh Mata Kuliah
Dalam sambutannya, Dr. Bagus Nurul Iman, M.Pd., menegaskan bahwa ciri utama lulusan UMC adalah insan akademik yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual dan moral yang kokoh. Ia menyampaikan bahwa nilai-nilai AIK harus berada dalam semua unsur mata kuliah lainnya, bukan hanya sekadar teori yang diajarkan di ruang kelas.
“Kita tidak ingin mencetak lulusan yang hanya pandai secara akademik, tetapi miskin karakter. AIK ini harus hidup dan terinternalisasi dalam setiap mata kuliah, baik itu ekonomi, teknik, kesehatan, maupun ilmu sosial. Ada unsur pedagogis yang kuat di sini. Dosen AIK harus mampu mendorong mahasiswa tidak hanya untuk berpikir, tetapi juga menuliskan gagasan-gagasan besar yang lahir dari nilai-nilai Islam,” ujar Dr. Bagus.
Ia juga menekankan bahwa pengkaderan ini menjadi wadah untuk menyatukan visi para dosen dalam mengemban amanah sebagai pendidik yang mencerdaskan dan mencerahkan. Para peserta didorong untuk menghasilkan karya tulis yang berbasis pada kajian Al-Qur’an dan Sunnah sebagai kontribusi nyata bagi peradaban bangsa.

Prof. Dr. Ir. Gunawan: Muhammadiyah Berdiri di Atas Rasionalitas dan Pemurnian Ajaran
Sambutan sekaligus pembukaan acara secara resmi dilakukan oleh Ketua BPH UMC, Prof. Dr. Ir. Gunawan. Dalam pidatonya, ia mengingatkan bahwa dosen AIK sering kali menjadi tumpuan utama bagi sivitas akademika dalam memahami Muhammadiyah dalam konteks Islam yang lebih luas dan mendalam.
Prof. Gunawan menyoroti sejarah panjang Muhammadiyah yang lahir dari semangat purifikasi atau pemurnian ajaran Islam. Pada masa awal, pemahaman Islam sering kali bercampur aduk dengan tradisi dan budaya yang tidak memiliki dasar kuat dari Al-Qur’an dan Sunnah. Karena itu, Muhammadiyah hadir untuk meluruskan dan mengembalikan umat pada pemahaman yang rasional dan sesuai tuntunan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam.
“Dahulu, dakwah Muhammadiyah banyak disokong oleh para juragan batik yang memiliki kepedulian tinggi terhadap pendidikan dan sosial. Mereka mengajarkan kita untuk membiasakan yang benar, bukan membiasakan yang tidak benar. Inilah esensi dari gerakan tajdid,” jelasnya.
Lebih lanjut, Prof. Gunawan menekankan bahwa pengkaderan fungsional ini bukan sekadar rutinitas, melainkan ruang untuk menerima dan mempraktikkan konstruksi pemikiran Muhammadiyah yang berlandaskan rasionalitas dan keadilan sosial. Ia juga mengingatkan bahwa amal usaha Muhammadiyah di bidang pendidikan dan kesehatan, seperti pendirian rumah sakit dan sekolah, adalah bukti nyata komitmen persyarikatan dalam menolong anak yatim dan fakir miskin, tanpa membedakan latar belakang agama.
“Muhammadiyah bergerak dari sisi yang benar dan rasional. Kita menolong siapa pun yang membutuhkan. Ini adalah wujud Islam rahmatan lil ‘alamin,” tegasnya.
Landasan Al-Qur’an dan Hadits dalam Gerakan Peradaban
Semangat pembukaan pengkaderan ini selaras dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Al-Qur’an yang memerintahkan umat Islam untuk berdakwah dengan hikmah dan kebijaksanaan, serta mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Sebagaimana firman-Nya:
QS. Ali ‘Imran [3]: 110
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
“Kuntum khaira ummatin ukhrijat linnaasi ta’muruuna bil ma’ruufi wa tanhauna ‘anil munkari wa tu’minuuna billah.”
Artinya: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah.”

Selain itu, Rasulullah shalallahu alaihi wa salam juga bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim:
Hadits Riwayat Muslim:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ
“Man ra’a minkum munkaran falyughayyirhu biyadihi, fa in lam yastathi’ fabi lisanihi, fa in lam yastathi’ fabi qalbihi, wa dhalika adh’afu al-iman.”
Artinya: “Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; dan jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemah iman.”
Semangat perubahan dan pemurnian inilah yang menjadi ruh dari pengkaderan fungsional dosen AIK UMC. Para peserta diharapkan menjadi agen perubahan yang membawa peradaban Islam yang rahmatan lil ‘alamin, baik di lingkungan kampus maupun masyarakat luas.
Penutup
Kegiatan pengkaderan ini diharapkan menjadi langkah awal bagi para dosen AIK untuk terus meningkatkan kapasitas diri, baik dalam aspek keilmuan, pedagogis, maupun pengamalan nilai-nilai Islam yang merujuk pada Al-Qur’an dan Sunnah. Dengan semangat kebersamaan dan komitmen terhadap kebenaran, UMC optimis dapat melahirkan generasi akademisi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga berperadaban mulia. (*)


Tinggalkan Balasan