CIREBON, muhammadiyahciko – Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM) kembali diteguhkan sebagai panduan utama dalam membentuk karakter dan perilaku warga Muhammadiyah, khususnya di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA). Hal ini disampaikan oleh Ketua Lembaga Pengembangan Pembelajaran Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (LPP AIK) Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC), Novan Hardiyanto, S.Pd.I., M.M., dalam Pengkaderan Fungsional Dosen Al-Islam dan Kemuhammadiyahan Universitas Muhammadiyah Cirebon yang membahas peran strategis dosen AIK di lingkungan kampus.

Dalam pemaparannya, Novan Hardiyanto yang juga menjabat sebagai Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Cirebon ini menekankan bahwa PHIWM merupakan seperangkat nilai dan norma Islam yang bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Pedoman ini menjadi pola bagi tingkah laku warga Muhammadiyah dalam menjalani kehidupan sehari-hari, sehingga tercermin kepribadian Islami menuju terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
“PHIWM lahir dari Muktamar Muhammadiyah ke-44 di Jakarta pada tahun 2000 sebagai respons atas keprihatinan akan lunturnya nilai-nilai Islam dalam kehidupan warga Persyarikatan,” ujar Novan. Tujuan utama PHIWM, lanjutnya, adalah memberikan pedoman konkret bagi seluruh warga Muhammadiyah dalam menjalani kehidupan, mulai dari ranah pribadi, keluarga, bermasyarakat, hingga pengelolaan amal usaha.

Di lingkungan PTMA, implementasi PHIWM menjadi sangat strategis. Hal ini sejalan dengan upaya menjaga identitas kampus sebagai pusat peradaban Islam-Muhammadiyah yang melahirkan lulusan berkemajuan dan berkarakter. “Dosen AIK memiliki peran ganda sebagai pengajar, pendidik, dan teladan nyata dalam implementasi PHIWM di kampus,” tegasnya, mengutip hasil Rakornas AIK 2026 yang merevitalisasi peran dosen sebagai garda terdepan internalisasi nilai-nilai Islam di lingkungan kampus.
Dalam kesempatan tersebut, Novan juga menggarisbawahi urgensi penerapan PHIWM di Amal Usaha Kampus. Pedoman ini menjadi landasan moral dan etika bagi seluruh sivitas akademika dalam mengelola tata kelola kampus yang Islami, transparan, dan akuntabel. “Etos kerja Islam dalam PHIWM mencakup kerja keras, disiplin, tidak menyalahgunakan waktu, dan berorientasi pada pencapaian tujuan,” imbuhnya.

Mengakhiri pemaparan, Novan mengajak seluruh dosen dan tenaga kependidikan di lingkungan PTMA untuk menjadikan PHIWM sebagai ruh dan pedoman utama dalam setiap aktivitas kampus. “Masa depan Muhammadiyah ada di tangan kita. Internalisasi PHIWM harus dimulai dari diri sendiri, kemudian keluarga, dan meluas ke masyarakat,” pungkasnya.
Diketahui, PHIWM sendiri mencakup berbagai bidang kehidupan, di antaranya kehidupan pribadi (akidah, akhlak, ibadah, muamalah), keluarga, masyarakat, organisasi, pengelolaan amal usaha, profesi, berbangsa dan bernegara, hingga pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. (*)


Tinggalkan Balasan