Penguatan Narasi Islam Berkemajuan dalam Pendidikan AIK: Prof. Dr. K.H. Ahmad Dahlan, M.Ag. Bekalkan Visi Besar bagi Dosen AIK di UMC

·

Avatar Arofah Firdaus

|

4 menit

|

📋

Dibaca: 12 x

CIREBON, muhammadiyahciko – Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) kembali meneguhkan komitmennya dalam mencetak sumber daya manusia unggul yang berlandaskan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK). Dalam kegiatan Pengkaderan Fungsional Dosen AIK UMC yang berlangsung baru-baru ini, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Barat, Prof. Dr. K.H. Ahmad Dahlan, M.Ag., menyampaikan materi yang komprehensif mengenai penguatan narasi Islam Berkemajuan.

Kegiatan yang digelar Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (LPP AIK) UMC ini dihadiri oleh puluhan dosen pengampu mata kuliah AIK. Pengkaderan Fungsional Dosen Al-Islam dan Kemuhammadiyahan ini merupakan langkah strategis untuk memastikan nilai-nilai AIK tidak hanya menjadi mata kuliah wajib, namun juga ruh yang menggerakkan seluruh aktivitas akademik di lingkungan kampus Muhammadiyah.

Dosen AIK: Lebih dari Sekadar Pengajar, Harus Menjadi Mubaligh dan Teladan

Dalam pemaparannya, Prof. Ahmad Dahlan menekankan bahwa seorang dosen AIK harus memiliki karakter warmah (kelembutan dan kasih sayang) serta menjadi teladan bagi lingkungan sekitarnya. Beliau menggarisbawahi sebuah rencana besar Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk menghadirkan guru besar (profesor) dari rumpun AIK di masa depan, menandakan pengakuan atas pentingnya kedalaman keilmuan di bidang ini.

“Dosen AIK harus menjadi tutor dan mubaligh Muhammadiyah. Mereka adalah sumber nilai dan sumber konsep dengan prinsip harus mampu membaca ruang dakwah,” tegas Prof. Ahmad Dahlan.

Beliau menyoroti pentingnya kecerdasan yang holistik. Seorang pendidik tidak cukup hanya cerdas secara verbal, tetapi juga perlu mengasah kecerdasan personal, emosional, dan spiritual. “Muhammadiyah paham tentang aksioma bahwa kita punya kecerdasan yang berbeda-beda. Tidak hanya verbal, tetapi karena kecerdasan yang berbeda-beda, lalu apa yang membuat tertarik dan termotivasi menjadi dosen AIK? Menurut beliau salah satunya adalah kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan melihat silabus AIK sebagai jalan dakwah,” jelasnya.

Hal ini sejalan dengan prinsip dasar pendidikan bahwa mengajar adalah aktivitas profesional yang memerlukan landasan pengetahuan yang memadai tentang peserta didik, teori belajar, hingga metode yang efektif.

Lima Ciri Islam Berkemajuan

Pada intinya, Prof. Ahmad Dahlan memaparkan lima ciri utama Islam Berkemajuan yang harus menjadi fondasi pengajaran AIK di UMC:

  1. Berlandaskan Tauhid (Ya’lu wala Yu’la ‘alaih): Setiap aktivitas dakwah dan pendidikan harus dimulai dan ditujukan hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Konsep ini menegaskan bahwa nilai-nilai Islam harus menjadi panglima dalam setiap gerak langkah, tanpa ada yang dapat mengungguli keagungan-Nya. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an: وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ “Dan bagi Allah-lah kemuliaan, dan bagi Rasul-Nya, dan bagi orang-orang mukmin.” (QS. Al-Munafiqun: 8).
  2. Bersumber pada Al-Qur’an dan Sunnah: Segala konsep dan nilai yang diajarkan harus merujuk pada dua sumber utama Islam. Hal ini memastikan bahwa materi AIK memiliki sandaran yang kuat dan tidak terlepas dari akar ajarannya. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda: تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ “Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara, kalian tidak akan tersesat selama berpegang teguh kepada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR. Malik).
  3. Menghidupkan Ijtihad dan Tajdid: Dinamika zaman menuntut pembaruan pemikiran. Dosen AIK didorong untuk tidak statis dan terus melakukan ijtihad agar ajaran Islam tetap relevan dengan konteks kekinian tanpa meninggalkan prinsip dasar.
  4. Mengembangkan Wasathiyah (Moderasi): Sikap moderat dan seimbang menjadi kunci. Dosen AIK tidak boleh bersikap kaku (saklek) dalam menyikapi perbedaan. Mereka harus memperbanyak referensi dan mempertimbangkan berbagai aspek agar dakwah tidak terkesan memberatkan. Proses pembelajaran harus berkesinambungan.
  5. Mewujudkan Rahmat Bagi Seluruh Alam (Rahmatan lil ‘alamin): Ini adalah tujuan tertinggi. Materi AIK harus dirancang sedemikian rupa agar disukai dan dapat membentuk mahasiswa yang moderat, bukan ekstrem. Sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya: 107).

Khairah Ummah dan Tantangan Ke Depan

Prof. Ahmad Dahlan berharap dengan penguatan narasi ini, Khairah Ummah (sebaik-baik umat) di lingkungan akademik dapat tercerahkan. Islam Berkemajuan yang digambarkan sebagai tamadhun atau pencerahan, seperti yang terjadi di Madinah, harus diwujudkan dalam kehidupan kampus yang madani.

Dengan penguatan 10 inovasi metode yang telah digagas secara nasional, seperti menjadikan AIK sebagai core values pendidikan dan living values di kampus, diharapkan dosen mampu menjadi katalisator penguatan profil peserta didik yang berkemajuan. Pembinaan melalui program seperti Baitul Arqam bagi dosen dan tenaga kependidikan juga menjadi instrumen penting untuk menyatukan visi ideologis Muhammadiyah. Penguatan ini diharapkan mampu melahirkan generasi akademisi yang tidak hanya kompeten secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas moral dan spiritual yang tinggi. (*)


Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *