CIREBON, 2 Maret 2026 – Suasana haru dan penuh makna menyelimuti Masjid Kampus 1 Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) Jalan Tuparev pada pelaksanaan kultum Ramadhan, Senin (2/3/2026). Bertindak sebagai penceramah, Alpin dari Himpunan Mahasiswa Manajemen (HIMAJEN), menyampaikan tausiyah yang menyentuh hati dengan tema “Keutamaan Beramal secara Ikhlas”.
Para mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan yang hadir tampak khusyuk menyimak pemaparan tentang pentingnya keikhlasan dalam beramal, sebuah tema yang sangat relevan di bulan Ramadhan yang penuh dengan berbagai aktivitas ibadah.
Ikhlas: Kunci Diterimanya Amal di Sisi Allah
Alpin mengawali kultum dengan mengutip hadits Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam yang menjadi landasan utama pembahasan tentang ikhlas. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dan menjadi pedoman penting bagi setiap muslim dalam beramal:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian. Akan tetapi Allah melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR. Muslim, no. 2564)
“Hadits ini mengajarkan kita bahwa standar penilaian Allah sangat berbeda dengan standar penilaian manusia. Manusia sering terpesona pada penampilan fisik, kekayaan, dan status sosial. Namun Allah tidak memandang semua itu. Yang Allah lihat adalah hati kita—apakah ikhlas atau tidak—dan amal kita—apakah sesuai dengan tuntunan atau tidak,” papar Alpin.
Beliau menjelaskan bahwa ikhlas adalah membersihkan niat hanya untuk Allah semata, tidak tercampuri dengan keinginan untuk dipuji, dilihat orang, atau mendapatkan keuntungan duniawi. Ikhlas adalah ruh dari setiap amal ibadah.
Amal yang Diterima Allah: Ciri dan Kriterianya
Memasuki inti pembahasan, Alpin menjelaskan bahwa amal yang diterima di sisi Allah memiliki ciri-ciri tertentu, dan ikhlas adalah syarat utamanya. Beliau kemudian memaparkan beberapa keutamaan yang akan diperoleh oleh orang-orang yang beramal dengan ikhlas.
1. Membuka Pintu Rezeki yang Tak Terduga
Orang yang ikhlas dalam beramal, terutama dalam bersedekah dan berinfak, akan dibukakan pintu rezeki oleh Allah dari arah yang tidak disangka-sangka. Hal ini sesuai dengan firman Allah:
وَمَا أَنفَقْتُم مِّن شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ ۖ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
“Dan apa pun yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya, dan Dialah sebaik-baik pemberi rezeki.” (QS. Saba’: 39)
“Janji Allah ini pasti. Ketika kita menginfakkan harta dengan ikhlas karena Allah, maka Allah akan menggantinya dengan rezeki yang lebih baik dan dari jalan yang tidak kita duga,” jelas Alpin.
2. Menumbuhkan Ketenangan dan Kebahagiaan Hati
Keikhlasan dalam beramal akan melahirkan ketenangan jiwa dan kebahagiaan hati. Orang yang ikhlas tidak terbebani dengan pujian atau celaan manusia. Ia merasa tenang karena yakin bahwa Allah menerima amalnya.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
“Ikhlas adalah bagian dari mengingat Allah. Ketika kita ikhlas, hati kita akan merasakan kedamaian dan kebahagiaan yang tidak bisa digantikan oleh harta benda,” ujar Alpin.
3. Amal yang Bernilai Abadi
Amal yang dilakukan dengan ikhlas akan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir, meskipun pelakunya telah meninggal dunia. Sebaliknya, amal yang dilakukan dengan riya’ (pamer) akan sirna dan tidak bernilai di sisi Allah.
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Apabila anak Adam meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)
“Amal yang ikhlas akan menjadi investasi abadi untuk akhirat. Pahalanya terus mengalir meskipun kita sudah tiada,” tegas Alpin.
4. Ditinggikan Derajat oleh Allah Shalallahu Alaihi Wasallam
Keutamaan terbesar dari amal yang ikhlas adalah Allah akan mengangkat derajat orang tersebut, baik di dunia maupun di akhirat. Allah mencintai hamba-Nya yang ikhlas dan mengangkat mereka ke tempat yang mulia.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)
“Keikhlasan adalah buah dari keimanan. Orang yang ikhlas, imannya kuat, dan Allah akan mengangkat derajatnya. Ia akan dihormati di dunia dan dimuliakan di akhirat,” papar Alpin.
Bulan Ramadhan: Momentum Melatih Keikhlasan
Alpin mengaitkan tema ini dengan bulan Ramadhan yang sedang kita jalani. Menurutnya, Ramadhan adalah bulan yang sangat tepat untuk melatih keikhlasan.
“Puasa adalah ibadah yang sangat personal. Tidak ada orang yang tahu apakah kita benar-benar berpuasa atau tidak, kecuali Allah. Ini adalah latihan ikhlas yang luar biasa. Ketika kita mampu menjaga puasa meskipun sendirian, itu berarti kita sedang melatih keikhlasan,” jelasnya.
Beliau juga mengingatkan bahwa banyak amalan di bulan Ramadhan yang rentan terhadap riya’, seperti shalat tarawih, sedekah, dan tadarus Al-Qur’an. Karena itu, penting untuk selalu memperbaiki niat.
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya segala amal perbuatan tergantung pada niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari & Muslim)
“Mari kita periksa niat kita. Apakah kita berpuasa, shalat tarawih, dan bersedekah karena Allah atau karena ingin dipuji orang? Perbaiki niat, jaga keikhlasan, insya Allah semua amal kita akan diterima di sisi-Nya,” ajak Alpin.
Penutup: Ikhlas adalah Kunci Segala Kebaikan
Menutup kultum, Alpin mengajak seluruh hadirin untuk senantiasa menjaga keikhlasan dalam setiap amal.
“Ikhlas adalah kunci segala kebaikan. Tanpa ikhlas, amal sekecil apa pun akan sia-sia. Dengan ikhlas, amal sekecil apa pun akan menjadi besar di sisi Allah. Mari kita jadikan Ramadhan ini sebagai momentum untuk memurnikan niat, membersihkan hati, dan meningkatkan keikhlasan dalam beribadah. Semoga Allah menerima semua amal kita dan menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang ikhlas. Aamiin,” pungkasnya.
Kultum Ramadhan di Masjid Kampus 1 UMC berlangsung dengan penuh khidmat. Para mahasiswa tampak merenung dan mendapatkan pencerahan tentang pentingnya keikhlasan dalam beramal. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya UMC untuk membina spiritualitas mahasiswa di bulan Ramadhan, sekaligus mengaktifkan peran organisasi kemahasiswaan dalam dakwah kampus. (Surono)


Tinggalkan Balasan