Kultum Ramadhan di Masjid Kampus 1 UMC: Harits Paparkan Empat Hikmah Puasa Menurut Syekh Ali as-Shabuni

CIREBON, 23 Februari 2026 – Suasana khidmat menyelimuti Masjid Kampus 1 Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) Jalan Tuparev pada pelaksanaan kultum Ramadhan, Senin (23/2/2026). Bertindak sebagai penceramah, BEM Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMC, Harits, menyampaikan tausiyah yang inspiratif dengan tema “Hikmah Puasa Ramadhan” .

Para mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan yang hadir tampak antusias menyimak pemaparan yang mengupas tentang hikmah-hikmah luar biasa di balik ibadah puasa Ramadhan.


Puasa: Ibadah yang Penuh Hikmah

Harits mengawali kultum dengan mengingatkan bahwa puasa Ramadhan bukan sekadar kewajiban tahunan, tetapi ibadah yang sarat dengan hikmah dan pelajaran berharga bagi kehidupan. Beliau merujuk pada pemikiran ulama terkemuka, Syekh Muhammad Ali as-Shabuni , yang merumuskan empat hikmah utama di balik disyariatkannya puasa.

“Puasa Ramadhan adalah madrasah iman yang mengajarkan kita banyak hal. Syekh Muhammad Ali as-Shabuni dalam kitabnya menjelaskan setidaknya ada empat hikmah luar biasa yang terkandung dalam ibadah puasa,” papar Harits.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman tentang tujuan puasa:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)


Hikmah Pertama: Bentuk Penghambaan kepada Allah

Hikmah pertama yang disampaikan Harits adalah bahwa puasa merupakan bentuk penghambaan (ta’abbud) yang murni kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

“Puasa adalah ibadah yang sangat personal antara hamba dengan Tuhannya. Tidak ada orang lain yang tahu apakah kita benar-benar berpuasa atau tidak, kecuali Allah. Inilah bentuk penghambaan yang paling murni,” jelas Harits.

Beliau mengutip hadis qudsi yang terkenal:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

“Setiap amal anak Adam dilipatgandakan pahalanya, satu kebaikan dibalas sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: ‘Kecuali puasa, karena sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.’” (HR. Muslim)

“Subhanallah, pahala puasa langsung diberikan oleh Allah tanpa batasan hitungan. Ini menunjukkan betapa istimewanya ibadah puasa sebagai bentuk penghambaan diri kepada-Nya,” tambah Harits.


Hikmah Kedua: Mendidik Jiwa dan Melatih Kesabaran

Hikmah kedua, puasa mendidik jiwa dan melatih kesabaran. Dengan menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu, seorang muslim dilatih untuk bersabar dalam ketaatan kepada Allah.

“Puasa mengajarkan kita untuk sabar. Sabar menahan lapar, sabar menahan haus, sabar menahan amarah, sabar dari perbuatan sia-sia. Ini adalah latihan kesabaran yang sangat efektif,” ujar Harits.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman tentang keutamaan orang-orang yang sabar:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang sabar akan diberi pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam juga bersabda:

الصَّوْمُ نِصْفُ الصَّبْرِ

“Puasa itu adalah setengah dari kesabaran.” (HR. Tirmidzi)

“Dengan berpuasa, kita dilatih untuk menjadi pribadi yang sabar. Dan orang yang sabar akan mendapatkan pahala tanpa batas dari Allah. Luar biasa, bukan?” tegas Harits.


Hikmah Ketiga: Menumbuhkan Rasa Cinta, Kasih Sayang, dan Empati

Hikmah ketiga, puasa menumbuhkan rasa cinta, kasih sayang, dan empati kepada sesama, terutama kepada mereka yang kurang beruntung.

“Ketika kita merasakan lapar dan dahaga saat berpuasa, kita diajak untuk merasakan apa yang dirasakan oleh saudara-saudara kita yang setiap hari kekurangan. Inilah yang menumbuhkan empati dan kepedulian sosial,” jelas Harits.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ

“Barangsiapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.” (HR. Bukhari & Muslim)

Beliau juga mengingatkan hadits tentang keutamaan memberi makan orang berbuka:

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

“Barangsiapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun.” (HR. Tirmidzi)

“Di bulan Ramadhan ini, mari kita tingkatkan kepedulian kita. Bantu saudara-saudara kita yang membutuhkan. Berbagi takjil, bersedekah, dan peduli kepada sesama. Inilah wujud nyata dari hikmah puasa,” ajak Harits.


Hikmah Keempat: Menyucikan Jiwa dan Mencapai Derajat Takwa

Hikmah keempat dan yang paling utama adalah menyucikan jiwa dan mencapai derajat takwa. Inilah tujuan akhir dari ibadah puasa sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an.

“Puasa adalah sarana untuk membersihkan jiwa dari kotoran dosa dan maksiat. Dengan berpuasa, kita dilatih untuk mengendalikan hawa nafsu, sehingga jiwa menjadi bersih dan suci,” papar Harits.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

“Takwa adalah tujuan akhir. Takwa berarti menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Dengan puasa yang berkualitas, insya Allah kita akan meraih derajat takwa yang mulia di sisi Allah,” tegas Harits.

Beliau mengingatkan bahwa puasa yang berkualitas bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjaga seluruh anggota tubuh dari perbuatan dosa. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makanan dan minumannya.” (HR. Bukhari)


Penutup: Meraih Hikmah Puasa dengan Istiqamah

Menutup kultum, Harits mengajak seluruh hadirin untuk meraih keempat hikmah puasa ini dengan istiqamah menjalankan ibadah di bulan Ramadhan.

“Masih banyak hari dan malam di depan kita. Mari kita jaga kualitas puasa kita. Jadikan puasa sebagai bentuk penghambaan kepada Allah, latihan kesabaran, sarana menumbuhkan empati, dan jalan menuju takwa. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang meraih hikmah puasa dan mendapatkan derajat takwa di sisi Allah. Aamiin,” pungkasnya.

Kultum Ramadhan di Masjid Kampus 1 UMC berlangsung dengan penuh khidmat. Para mahasiswa tampak antusias dan mendapatkan pencerahan baru tentang kedalaman hikmah di balik ibadah puasa. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya UMC untuk membina spiritualitas mahasiswa di bulan suci Ramadhan.

Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *