CIREBON – Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Lemahwungkuk Kota Cirebon kembali menggelar pengajian bulanan dengan penuh khidmat pada Sabtu 23/5/2026, bertempat di salah satu amal usaha. Mengusung tema “Ketika Iman Dibuktikan”, pengajian ini dihadiri oleh perwakilan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di wilayah Lemahwungkuk, antara lain Klinik Grubugan, SMK Muhammadiyah, SMP Muhammadiyah 1, SD Muhammadiyah 1, dan SD Muhammadiyah 2.
Acara yang berlangsung dalam suasana penuh keberkahan ini menghadirkan penceramah Ustadz H. Dedi Ahyadi, yang menyampaikan pesan mendalam tentang hakikat iman yang tidak cukup hanya sekadar pengakuan di lisan, tetapi harus dibuktikan dengan tindakan nyata, ketakwaan, kesabaran, serta kesiapan berkorban.

Iman Bukan Sekadar Pengakuan Lisan
Dalam tausiyahnya, Ustadz H. Dedi Ahyadi menegaskan bahwa iman adalah keyakinan yang harus dibuktikan melalui amal perbuatan. Tanpa ujian dan pengorbanan, iman hanya akan menjadi teori yang tak terwujud dalam kehidupan.
ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْغَفُورُ
Allażī khalaqal-mauta wal-ḥayāta liyabluwakum ayyukum aḥsanu ‘amalā, wa huwal-‘azīzul-gafūr.
“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”
(QS. Al-Mulk [67]: 2)
Beliau menjelaskan bahwa ujian hidup adalah sunatullah yang harus dihadapi dengan kesabaran dan keikhlasan. Di sinilah iman sejati teruji, bukan saat segala sesuatu berjalan mulus, melainkan saat tantangan datang silih berganti.

Teladan Nabi Ibrahim: Cinta Tertinggi dalam Pengorbanan
Mengambil hikmah dari kisah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, Ustadz Dedi mengajak jamaah untuk merenungkan bagaimana Nabi Ibrahim rela meninggalkan zona nyaman, menghadapi penolakan kaumnya, hingga menerima ujian berat berupa perintah menyembelih putra kesayangannya, Ismail.
وَإِذِ ٱبْتَلَىٰٓ إِبْرَٰهِۦمَ رَبُّهُۥ بِكَلِمَٰتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّى جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا ۖ قَالَ وَمِن ذُرِّيَّتِى ۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِى ٱلظَّٰلِمِينَ
Wa iżtabalā Ibrāhīma rabbuhū bikalimātin fa atammahunn, qāla innī jā‘iluka lin-nāsi imāmā, qāla wa min żurriyyatī, qāla lā yanālu ‘ahdiẓ-ẓālimīn.
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: ‘Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.’ Ibrahim berkata: ‘(Dan saya mohon juga) dari keturunanku.’ Allah berfirman: ‘Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim.’”
(QS. Al-Baqarah [2]: 124)
Kisah perjuangan Siti Hajar yang berlari antara bukit Shafa dan Marwa demi keselamatan putranya, serta ketegarannya menerima perintah Allah ketika Ismail harus disembelih, menjadi pelajaran berharga tentang cinta sejati yang tidak melupakan ketaatan kepada Sang Pencipta.

Dialog Penuh Ketaatan Antara Ibrahim dan Ismail
Ustadz Dedi mengutip dialog haru antara Nabi Ibrahim dan putranya Ismail ketika perintah penyembelihan datang:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْىَ قَالَ يَٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ
Falammā balagha ma‘ahu as-sa‘ya qāla yā bunayya innī arā fī al-manāmi annī adzbaḥuka fanẓur māżā tarā, qāla yā abati if‘al mā tu’mar, satajidunī in syā’allāhu minaṣ-ṣābirīn.
“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu?’ Ia menjawab: ‘Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’”
(QS. Ash-Shaffat [37]: 102)
Kisah ini mencapai puncaknya ketika Allah menggantikan Ismail dengan seekor sembelihan yang besar sebagai bentuk rahmat dan ujian yang lulus dengan sempurna.
وَفَدَيْنَٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ
Wa fadaināhu biżibḥin ‘aẓīm.
“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”
(QS. Ash-Shaffat [37]: 107)
Pelajaran untuk Kehidupan Masa Kini
Mengakhiri tausiyahnya, Ustadz H. Dedi Ahyadi mengingatkan bahwa Idul Adha dan ibadah kurban mengajarkan umat Islam untuk tidak mencintai dunia secara berlebihan. Jabatan, harta, kekuasaan, rumah mewah, bahkan anak keturunan, semuanya adalah titipan dari Allah. Allah sebagai Zat yang menitipkan berhak mengambilnya kapan saja.
إِنَّمَآ أَمْوَٰلُكُمْ وَأَوْلَٰدُكُمْ فِتْنَةٌ ۚ وَٱللَّهُ عِندَهُۥٓ أَجْرٌ عَظِيمٌ
Innamā amwālukum wa awlādukum fitnah, wallāhu ‘indahū ajrun ‘aẓīm.
“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah pahala yang besar.”
(QS. At-Taghabun [64]: 15)
Beliau menutup dengan harapan agar setiap jamaah dapat menjadikan dunia sebagai jembatan menuju kebahagiaan akhirat, bukan sebagai tujuan akhir yang melalaikan dari mengingat Allah.
Suasana Pengajian dan Partisipasi AUM
Pengajian bulanan PCM Lemahwungkuk ini berlangsung dengan tertib dan penuh antusias. Kehadiran perwakilan dari berbagai AUM menunjukkan sinergi yang kuat dalam menjalankan dakwah dan pembinaan umat di lingkungan Muhammadiyah Kota Cirebon. Kegiatan ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Ustadz H. Dedi Ahyadi, dilanjutkan dengan silaturahmi antar jamaah.
Semoga pengajian ini membawa keberkahan dan memperkuat ketakwaan serta keikhlasan kita semua dalam beribadah dan berkorban di jalan Allah.
Pengirim berita : Imron Rosyadi, Tim Media PCM Lemahwungkuk Kota Cirebon


Tinggalkan Balasan