Sekularisme, Materialisme, dan Ateisme; (Dampak Ideologi Tersebut pada Arah Riset Sains; Tantangan Post-Truth; serta Strategi Penguatan Akidah di Tengah Arus Modernitas Keilmuan)

ABSTRAK

Artikel ini membahas secara komprehensif tantangan ideologis dan epistemologis yang dihadapi umat Islam dalam pengembangan keilmuan kontemporer, dengan fokus pada tiga paham besar yaitu sekularisme, materialisme, dan ateisme. Melalui pendekatan filsafat ilmu dan teologi Islam, kajian ini menganalisis dampak ideologi-ideologi tersebut terhadap arah riset sains, khususnya kecenderungan sains sekuler yang membatasi realitas pada aspek fisik semata dan mengabaikan dimensi metafisik. Artikel ini juga mengkaji fenomena post-truth sebagai tantangan baru bagi keilmuan akidah di era digital, di mana emosi dan keyakinan personal sering kali mengesampingkan fakta objektif. Sebagai respons, dirumuskan strategi penguatan akidah yang terintegrasi dengan kemajuan sains, sebagaimana ditawarkan oleh paradigma Islam Berkemajuan dan epistemologi iqra’ bismirabbik. Dengan merujuk pada sumber-sumber primer Islam—Al-Qur’an dan Hadis—serta khazanah pemikiran Muhammadiyah, artikel ini menegaskan bahwa tauhid bukan sekadar doktrin teologis, melainkan fondasi etis bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan peradaban yang berkemajuan.

Kata Kunci: Sekularisme, Materialisme, Ateisme, Sains, Post-Truth, Akidah, Islam Berkemajuan


A. PENDAHULUAN

Perjalanan peradaban manusia modern tidak terlepas dari pergumulan antara keyakinan religius dan temuan-temuan ilmiah. Sejak era Pencerahan (Enlightenment) di Eropa abad ke-18, terjadi pergeseran paradigma yang mendasar dalam cara manusia memahami realitas. Positivisme Auguste Comte, dengan teori “tiga jenjang” (teologi, metafisika, dan positif), menempatkan pengetahuan ilmiah sebagai puncak pencapaian intelektual manusia, sekaligus mengesampingkan penjelasan-penjelasan metafisik dan religius. Pergeseran ini melahirkan tiga ideologi besar yang saling terkait: sekularisme, materialisme, dan ateisme.

Bagi umat Islam, tantangan ini terasa semakin kompleks di era kontemporer. Arus modernitas keilmuan yang didominasi oleh paradigma sekuler-materialistik telah merasuki hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan dan riset. Sains dipandang sebagai aktivitas yang “bebas nilai” (value-free), terpisah dari pertimbangan etis dan spiritual. Akibatnya, terjadi dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum, antara iman dan pengetahuan.

Lebih jauh lagi, munculnya era post-truth—di mana fakta objektif kehilangan pengaruhnya dalam membentuk opini publik dan digantikan oleh emosi serta keyakinan personal—menambah derajat keruwetan problematika ini. Kebenaran menjadi komoditas yang dapat dikonstruksi sesuai kepentingan kelompok tertentu, termasuk dalam hal-hal yang berkaitan dengan akidah.

Artikel ini bertujuan untuk menguraikan secara sistematis pengertian sekularisme, materialisme, dan ateisme; menganalisis dampaknya terhadap arah riset sains; menjelaskan tantangan post-truth bagi keilmuan akidah; serta merumuskan strategi penguatan akidah di tengah modernitas keilmuan berdasarkan perspektif Islam dan gagasan Islam Berkemajuan yang diusung oleh Muhammadiyah.


B. PENGERTIAN SEKULARISME, MATERIALISME, DAN ATEISME

1. Sekularisme: Pemisahan Agama dari Kehidupan Publik

Secara etimologis, sekularisme berasal dari kata Latin saeculum yang berarti “zaman” atau “dunia”. Dalam pengertian modern, sekularisme adalah paham yang memisahkan urusan duniawi dari urusan agama, atau menempatkan agama hanya pada ranah privat tanpa pengaruh dalam kehidupan publik dan kebijakan negara. Dr. Usman Syihab menjelaskan bahwa sekularisme dalam konteks sains berarti pembatasan penjelasan ilmiah hanya pada sebab-sebab efisien dan material, tanpa menyerahkan penjelasan kepada sebab-sebab epistemologis lainnya seperti sebab formal dan final yang berkaitan dengan agama . Paul Bond, seorang pengamat peradaban, mengakui bahwa revolusi sekularisme telah melahirkan kebebasan dan kepuasan, namun ia juga memperingatkan bahwa “Sekularisasi yang lengkap dalam ilmu pengetahuan, pendidikan, industri dan masyarakat di Barat dan Timur akan membawa kepada puncak kehancuran” .

Dalam perspektif Islam, sekularisme ekstrem ditolak karena agama (Islam) adalah sistem yang menyeluruh (syumuliyyah), mengatur hubungan0 manusia dengan Allah (habl min Allah) dan hubungan antar manusia serta dengan alam (habl min al-nas wa al-‘alam). Firman Allah:

۞ قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Katakanlah: Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam” (QS. Al-An’am [6]: 162).

Ayat ini menegaskan bahwa seluruh aspek kehidupan, termasuk aktivitas ilmiah, tidak dapat dipisahkan dari pengabdian kepada Allah.

2. Materialisme: Pengutamaan Materi di Atas Segalanya

Materialisme adalah paham yang meyakini bahwa realitas fundamental hanyalah materi (benda) dan segala fenomena—termasuk kesadaran, pikiran, dan nilai—dapat dijelaskan melalui interaksi material. Dalam epistemologi sains sekuler, materialisme melahirkan reduksionisme, yaitu kecenderungan untuk menjelaskan realitas kompleks hanya melalui komponen-komponen fisiknya . Materialisme menolak eksistensi realitas non-fisik seperti ruh, jiwa, atau entitas metafisik lainnya.

Francis Saunderaraj mengamati bahwa materialisme telah menimbulkan budaya fragmentatif dan individualisme yang mengakibatkan erosi tradisi, komunitas, dan kehidupan keluarga. Manusia hanya bertumpu pada rasionalitas yang dianggap sebagai sentral kehidupan, sementara kebenaran dan kondisi kehidupan manusia menjadi relatif, pluralistis, dan tidak konstan .

Islam memandang alam semesta tidak sekadar kumpulan materi, melainkan ciptaan Allah yang sarat makna dan tujuan. Allah berfirman:

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لَاعِبِينَ

“Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 16).

Prinsip ini menegaskan bahwa alam semesta memiliki tujuan penciptaan yang bersifat spiritual, sehingga ilmuwan yang mempelajarinya tidak boleh terjerumus pada pandangan materialistik yang sempit .

3. Ateisme: Penolakan terhadap Eksistensi Tuhan

Ateisme adalah paham yang menolak atau tidak meyakini eksistensi Tuhan atau entitas ilahi apa pun. Menurut penelitian dalam sejarah agama, pada hakikatnya manusia adalah homo religious—makhluk yang bertuhan—sehingga ateisme bukanlah bakat alamiah manusia . Namun, gerakan Renaissance dan humanisme di Eropa membuka pintu bagi pemikiran yang mengutamakan kebebasan manusia dan mengesampingkan lembaga keagamaan, yang akhirnya melahirkan paham-paham ateistik .

Perkembangan sains sekuler juga turut mendorong ateisme. Mulyadhi Kartanegara mencatat bahwa lebih dari 60% fisikawan dunia adalah ateis, dan tokoh evolusionis Charles Darwin mengakui bahwa ketidakpercayaannya pada agama Kristen “merayap perlahan-lahan di atas dadaku, tapi sempurna” .

Islam dengan tegas menolak ateisme. Konsep ketuhanan dalam Islam sangat jelas dan kokoh. Dalam Surah Al-Ikhlas ditegaskan:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ۝ اللَّهُ الصَّمَدُ ۝ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ۝ وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ

“Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah tempat bergantung segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia” (QS. Al-Ikhlas [112]: 1-4).


C. DAMPAK IDEOLOGI SEKULARISME, MATERIALISME, DAN ATEISME TERHADAP ARAH RISET SAINS

1. Reduksionisme dan Fragmentasi Ilmu

Ideologi sekularisme dan materialisme telah melahirkan epistemologi positivisme yang membatasi sumber pengetahuan pada indra dan akal semata, serta menganggap pengetahuan yang bersumber dari wahyu tidak ilmiah . Akibatnya, sains berkembang tanpa wisdom (kearifan). Ilmu dipecah-pecah ke dalam spesialisasi yang sempit, tanpa pandangan holistik tentang realitas. Mehdi Golshani, dalam tulisannya tentang Science and the Sacred, menyebutkan bahwa sains sekuler senang dengan spesialisasi yang berbuntut pada fragmentasi sains, sementara sains sakral mencari kesatuan yang mendasari tatanan penciptaan .

2. Penghilangan Dimensi Spiritual dan Etis

Sains sekuler menganggap alam fisik sebagai satu-satunya realitas yang ada dan tidak menyisakan tempat bagi Tuhan dalam tatanan alamiah . Hal ini menyebabkan pengabaian dimensi spiritual dan etis dalam riset ilmiah. Ilmu pengetahuan dijalankan tanpa pertimbangan nilai-nilai moral, yang pada gilirannya melahirkan krisis ekologi, krisis kemanusiaan, dan disorientasi etis. Sebagaimana diungkapkan Paul Bond, “Ilmu berkembang tanpa wisdom” .

3. Pengaburan Tujuan Ilmu Pengetahuan

Dalam epistemologi sekuler, kebenaran ilmiah diukur berdasarkan manfaat (utility), kemungkinan dapat dilakukan (workability), dan konsekuensi yang memuaskan (satisfactory result) . Tujuan ilmu bergeser dari pencarian kebenaran dan pengabdian kepada Tuhan, menjadi sekadar kepentingan pragmatis dan materialistis. Ilmuwan tidak lagi mempertanyakan “mengapa” (sebab final) dari realitas, melainkan hanya “bagaimana” (sebab efisien dan material).

4. Dikotomi Ilmu Agama dan Sains

Salah satu dampak paling nyata dari sekularisasi sains adalah terjadinya dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Ilmu agama dianggap sebagai urusan spiritual yang subjektif, sementara sains dianggap sebagai pengetahuan objektif yang bebas nilai. Dikotomi ini telah mengakibatkan keterbelakangan umat Islam dalam pengembangan sains dan teknologi, karena ilmu pengetahuan tidak lagi dipandang sebagai bagian dari ibadah dan pengabdian kepada Allah.


D. TANTANGAN POST-TRUTH BAGI KEILMUAN AKIDAH

1. Pengertian Post-Truth

Post-truth—yang terpilih sebagai Word of the Year oleh Oxford English Dictionary pada tahun 2016—merujuk pada kondisi di mana fakta objektif kurang berpengaruh dalam membentuk opini publik dibandingkan dengan daya tarik emosi dan keyakinan personal . McIntyre mendefinisikannya sebagai kondisi di mana kebenaran terancam, dan masyarakat terancam kehilangan arti dan substansi dari kebenaran itu sendiri .

2. Dampak Post-Truth bagi Keilmuan Akidah

Fenomena post-truth memberikan tantangan serius bagi keilmuan akidah karena beberapa alasan. Pertama, akidah sangat berkaitan dengan emosi dan keyakinan personal, sehingga rentan terhadap manipulasi informasi. Ketika emosi bersinggungan dengan keyakinan pribadi, nalar kritis seseorang cenderung dikesampingkan . Kedua, maraknya informasi “tidak bertuan” di media sosial membuat masyarakat kesulitan membedakan kebenaran ilmiah atau faktual dari hoaks dan kabar bohong . Ketiga, terbentuknya “kebenaran alternatif” (alternative facts) yang dikonstruksi oleh kelompok-kelompok tertentu untuk kepentingan politik dan ideologis mengancam kemurnian akidah .

3. Akidah di Tengah Banjir Informasi

Di era post-truth, pertanyaan tentang bagaimana menegakkan kebenaran akidah menjadi kian mendesak. Badrul Munir Chair dan Zainul Adzfar mengemukakan bahwa post-truth justru dapat dijadikan momentum untuk melakukan pengujian terbuka terhadap klaim kebenaran yang dilakukan oleh masing-masing kelompok keagamaan . Dengan demikian, keilmuan akidah dapat menjadi “teks yang terbuka” dan ditempatkan dalam konteks kehidupan masyarakat hari ini, sehingga dapat menyatu dengan realitas tanpa kehilangan esensinya.


E. STRATEGI PENGUATAN AKIDAH DI TENGAH ARUS MODERNITAS KEILMUAN

1. Memperluas Paham Tauhid: Dari Ritual ke Transformasi Sosial

Muhammadiyah, sebagai gerakan Islam yang lahir dari semangat tajdid dan ishlah, menawarkan posisi strategis dalam gagasan pembaruan akidah. Akidah Muhammadiyah tidak hanya purifikasi tauhid (penolakan terhadap takhayul, bidah, dan khurafat), tetapi juga rasionalisasi akidah dan pengembangan amal sosial . Mohammad Nur Rianto Al Arif menegaskan bahwa memperluas paham tauhid murni berarti menggeser orientasi dari sekadar pembahasan “apa yang harus diimani” menuju “apa yang harus diperjuangkan” .

Tauhid dalam perspektif ini bukan sekadar doktrin teologis yang diyakini, melainkan energi peradaban yang menggerakkan. Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ ۚ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ ۖ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنجِيلِ وَالْقُرْآنِ ۚ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ ۚ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُم بِهِ ۚ وَذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar” (QS. At-Taubah [9]: 111).

Ayat ini menunjukkan bahwa tauhid melahirkan komitmen total untuk berjuang di jalan Allah, termasuk dalam bidang ilmu pengetahuan dan peradaban.

2. Aktualisasi Epistemologi Iqra’ Bismirabbik

Salah satu strategi fundamental adalah mengaktualisasikan epistemologi iqra’ bismirabbik (bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu). Sebagaimana disampaikan Muzakkir Usman, pendidikan tinggi keagamaan Islam dituntut untuk menjadi episentrum pengembangan sains, teknologi, dan adab berbasis tauhid . Hal ini dapat diwujudkan melalui tiga langkah: (a) desain kurikulum holistik berbasis tauhid yang menempatkan tauhid sebagai poros yang memayungi seluruh bidang pengetahuan; (b) penerapan metode pengajaran heutagogy yang menumbuhkan kemandirian belajar; dan (c) penghidupan tradisi ilmiah dalam literasi dan penelitian .

3. Integrasi Ilmu dan Isu Kontemporer

Penguatan akidah di tengah modernitas keilmuan juga memerlukan integrasi antara khazanah turats (warisan klasik) dan isu-isu kontemporer. Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, misalnya, diarahkan untuk mendiskusikan konsep wujud, kausalitas, dan jiwa dalam pemikiran Ibnu Sina atau Mulla Sadra, lalu ditarik ke isu-isu seperti kecerdasan buatan (AI), kesadaran digital, dan bioetika . Dengan demikian, akidah tidak dipahami sebagai disiplin masa lalu, melainkan mitra dialog peradaban.

4. Penguatan Tiga Level Nalar: Bayani, Burhani, dan Irfani

Di era post-truth, metodologi berpikir menjadi sangat penting. Orientasi keilmuan akidah harus membentuk lulusan yang terampil dalam tiga level nalar: nalar bayani untuk memahami teks (Al-Qur’an dan Hadis); nalar burhani untuk membangun argumen logis yang rasional; dan nalar irfani untuk mengasah kepekaan batin . Ketiganya diajarkan secara terintegrasi dan saling menguatkan, sehingga mahasiswa mampu melakukan critical reading terhadap literatur Barat dan Timur, membedakan argumen dan propaganda, serta menyusun counter-narasi terhadap paham yang merusak akidah .

5. Menjadikan Akidah sebagai Fondasi Etos Kerja dan Amal Sosial

Salah satu karakteristik akidah Muhammadiyah yang membedakannya dari gerakan lain adalah pemahaman akidah sebagai dasar etos kerja dan amal sosial . Tauhid tidak membuat umat terasing dari realitas modern, melainkan justru menjadi landasan etis untuk mengelola modernitas. Dalam pandangan ini, tauhid mendorong lahirnya pendidikan yang mencerdaskan, ekonomi yang berkeadilan, kesehatan yang inklusif, serta tata kelola pemerintahan yang amanah .

Sebagaimana firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنزَلَ مِن قَبْلُ ۚ وَمَن يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang diturunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya. Barang siapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sungguh ia telah tersesat dengan kesesatan yang jauh” (QS. An-Nisa’ [4]: 136).

Ayat ini mengajarkan bahwa keimanan yang sejati adalah keimanan yang terus-menerus diperbaharui dan diperdalam, tidak hanya dalam ranah teoretis tetapi juga dalam praktik kehidupan sehari-hari.


F. KESIMPULAN

Sekularisme, materialisme, dan ateisme merupakan tiga ideologi besar yang saling terkait dan telah memberikan dampak signifikan terhadap arah riset sains modern. Melalui epistemologi positivisme, sains sekuler membatasi realitas pada aspek fisik semata, mengabaikan dimensi metafisik dan spiritual, serta menghasilkan fragmentasi ilmu dan pengaburan tujuan pengetahuan.

Di sisi lain, era post-truth menghadirkan tantangan baru bagi keilmuan akidah, di mana kebenaran objektif sering kali dikalahkan oleh emosi dan keyakinan personal. Namun, kondisi ini juga dapat menjadi momentum untuk melakukan pengujian terbuka terhadap klaim kebenaran, sehingga keilmuan akidah menjadi lebih kontekstual dan relevan dengan kehidupan masyarakat kontemporer.

Sebagai respons, strategi penguatan akidah di tengah arus modernitas keilmuan harus diarahkan pada: (a) perluasan paham tauhid dari sekadar doktrin teologis menjadi energi transformasi sosial; (b) aktualisasi epistemologi iqra’ bismirabbik dalam pendidikan dan riset; (c) integrasi khazanah klasik dengan isu-isu kontemporer; (d) penguatan nalar bayani, burhani, dan irfani; serta (e) pemahaman akidah sebagai fondasi etos kerja dan amal sosial. Dengan strategi ini, tauhid bukan hanya menjadi keyakinan yang dihafal, tetapi menjadi kekuatan yang menggerakkan peradaban, sebagaimana diusung oleh gagasan Islam Berkemajuan.


DAFTAR PUSTAKA

Syihab, Usman. Sekitar Epistemologi Islam. Jakarta: UIN Jakarta Press, 2016.

Chair, Badrul Munir, dan Zainul Adzfar. “Kebenaran di Era Post-Truth dan Dampaknya bagi Keilmuan Akidah.” Fikrah: Jurnal Ilmu Aqidah dan Studi Keagamaan 9, no. 2 (2021): 265-282.

Taufiqurrohman, Cecep. “Muhammadiyah dalam Peta Pembaruan Akidah: Memadukan Tauhid Murni dan Ijtihad Modern.” Seminar Sehari Risalah Akidah Islam, Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, 27 September 2025.

Akil, Muhammad Anshar. “Alam Semesta Menurut Al-Qur’an.” UIN Alauddin Makassar, 2023.

“Kebenaran di Era Post-Truth dan Dampaknya bagi Keilmuan Akidah.” Directory of Open Access Journals, 2021.

Hermanto, Agus. “Orientasi Prodi Aqidah dan Filsafat Islam Dalam Menjawab Tantangan Dunia Modern.” Majelis Ulama Indonesia Lampung, 2026.

Zain, Mohammad Damami. “Islam Menolak Ateisme.” Suara Muhammadiyah, 15 Oktober 2025.

Chair, Badrul Munir, dan Zainul Adzfar. “Kebenaran di Era Post-Truth dan Dampaknya bagi Keilmuan Akidah.” Fikrah: Jurnal Ilmu Aqidah dan Studi Keagamaan 9, no. 2 (2021): 265-282.

Al Arif, Mohammad Nur Rianto. “Mewujudkan Akidah Islam Berkemajuan.” Suara Muhammadiyah, 25 Februari 2026.

Usman, Muzakkir. “Perguruan Tinggi Keagamaan Islam sebagai Episentrum Keilmuan Berbasis Tauhid.” Studium General STIT Hidayatullah Samarinda, 15 September 2025.

Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *