Muhammadiyah, sebagai gerakan Islam yang berkemajuan, senantiasa membuka pintu selebar-lebarnya bagi siapa pun yang ingin berkiprah dan mengabdi, tanpa memandang latar belakang organisasi atau pemikiran sebelumnya. Hal ini disampaikan oleh Ustadz Mujiman, Mubaligh Muhammadiyah asal Bantul, Yogyakarta, dalam sebuah pengajian yang penuh wawasan.
CIREBON, muhammadiyahciko.or.id – Isu mengenai “penyusup” di tubuh Persyarikatan Muhammadiyah kembali menjadi perbincangan hangat di kalangan warga. Menanggapi hal ini, Ustadz Mujiman memberikan pencerahan yang komprehensif dan menyejukkan, menekankan bahwa Muhammadiyah adalah rumah besar yang terbuka bagi semua elemen masyarakat.
Dalam tausiyahnya, Ustadz Mujiman memulai dengan meluruskan definisi “penyusup”. Beliau menjelaskan, “Kalau orang Salafi masuk Muhammadiyah itu termasuk penyusup atau bukan? Nah, kita harus kembali dulu ke pengertian penyusup. Penyusup itu masuknya diam-diam. Kalau masuknya terang-terangan berarti bukan penyusup.”
Ustadz Mujiman menegaskan bahwa Muhammadiyah adalah persyarikatan yang bersifat inklusif. “Siapa saja bisa berkontribusi untuk berjuang bersama-sama di Muhammadiyah. Prinsipnya kan hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah,” ujarnya. Beliau memberikan contoh beragam latar belakang tokoh yang telah berkiprah di Muhammadiyah, mulai dari kalangan nasionalis seperti Ir. Soekarno dan Jenderal Soedirman, hingga dari kalangan Nahdliyin seperti Prof. Din Syamsuddin dan Prof. Abdul Mu’thi.
Inti dari pesan Ustadz Mujiman adalah bahwa Muhammadiyah memiliki lima karakteristik utama yang dikenal dengan Al-Khasais al-Khamsah (Lima Ciri Islam Berkemajuan). Siapa pun yang berkiprah di Muhammadiyah, apa pun latar belakangnya, hendaknya menerima dan mengamalkan lima karakter ini .
📜 Al-Khasais al-Khamsah: Landasan Islam Berkemajuan
Berikut adalah penjelasan Ustadz Mujiman tentang lima karakteristik tersebut yang menjadi pegangan bagi seluruh warga Persyarikatan:
- At-Tauhid (Bertauhid)
Landasan utama adalah mentauhidkan Allah. Ustadz Mujiman menyatakan, “Maka kalau masih mentauhidkan Allah bisa diterima. Maka siapa pun, apa pun latar belakangnya kalau bertauhid bisa diterima.” - Ar-Ruju’ ilal Qur’an was Sunnah (Kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah)
Muhammadiyah menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai pedoman utama. Beliau menegaskan, “Kalau berkiprah di Muhammadiyah tapi kembalinya kepada klenik atau perdukunan, nah itu baru bermasalah.” Sebagaimana firman Allah: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا.”Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa: 59) - Ihya’ul Ijtihad wat Tajdid (Menghidupkan Ijtihad dan Pembaruan)
Ustadz Mujiman menjelaskan bahwa tajid memiliki dua sayap: purifikasi (pemurnian) dalam akidah dan ibadah, serta dinamisasi dalam bidang muamalah. “Silakan berinovasi silakan berkreasi,” katanya. Hal ini selaras dengan sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam : إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا “Sesungguhnya Allah mengutus untuk umat ini pada setiap awal seratus tahun (seorang) yang akan memperbaharui agamanya.” (HR. Abu Dawud) - Tanmiyatul Wasathiyah (Mengembangkan Sikap Pertengahan)
Muhammadiyah mengajarkan sikap moderat atau wasathiyah. “Bersikap pertengahan, tidak keras, tapi juga tidak lembek. Tidak ghuluw (berlebih-lebihan) kepada guru ngajinya, tapi juga bukan tidak hormat,” tegas Ustadz Mujiman. Hal ini sesuai dengan firman Allah: وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا.”Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.” (QS. Al-Baqarah: 143) - Rahmatan lil ‘Alamin (Rahmat bagi Seluruh Alam)
Karakter ini menjadi tujuan akhir dari gerakan dakwah Muhammadiyah, yaitu membawa rahmat dan kebaikan bagi semua makhluk.
🤝 Muhammadiyah sebagai Rumah Besar
Mengakhiri tausiyahnya, Ustadz Mujiman mengajak seluruh warga untuk saling bahu-membahu dan berlomba dalam kebaikan, bukan saling menuduh. “Maka Persyarikatan Muhammadiyah itu ibarat rumah besar, punya latar belakang yang berbeda, hendaknya saling bahu-membahu saling fastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan,” pesannya.
Beliau juga mengingatkan untuk menjauhi para pengadu domba. “Justru malah yang diragukan tuh yang menuduh-nuduh penyusup itu karena mengadu domba. Baik, jauhi para pengadu domba, siapa pun bisa berkiprah dan bisa membesarkan bersama-sama untuk mengabdi di Muhammadiyah,” pungkasnya.
Perbedaan latar belakang dalam pengabdian bukanlah penghalang selama semua berpegang pada prinsip dan karakter dasar yang telah ditetapkan, yaitu Al-Khasais al-Khamsah. Wallahu a’lam bishawab.
Sumber liputan: Facebook Ustadz Mujiman


Tinggalkan Balasan