CIREBON, muhammadiyahciko – Suasana khidmat dan penuh ketenangan menyelimuti Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon pada pelaksanaan ibadah Salat Jumat, 21/8/26 hari ini. Jamaah dari berbagai penjuru kota tampak hadir untuk menunaikan kewajiban mingguan dan menyimak pesan-pesan keagamaan yang disampaikan oleh khatib.
Bertindak sebagai imam sekaligus khatib pada kesempatan ini adalah Ustadz Upang Ibrahim. Dalam khutbahnya yang menggugah, beliau mengangkat tema tentang mahalnya harga iman dan takwa di tengah gempuran narasi-narasi yang meragukan keimanan di era digital saat ini.

Khutbah Pertama: Antara Dialog Tukang Cukur dan Pelanggannya
Mengawali khutbahnya, Ustadz Upang menyampaikan sebuah analogi menarik melalui dialog antara seorang tukang cukur dan pelanggannya. Beliau memaparkan bagaimana tukang cukur tersebut meragukan keberadaan Tuhan dengan dalih masih banyaknya penderitaan dan kesedihan di dunia. “Jika Tuhan itu ada, tidak mungkin ada manusia yang menderita dan tertimpa bencana,” ujar sang tukang cukur dalam narasi yang disampaikan Ustadz Upang.
Namun, pelanggannya memberikan jawaban cerdas. Ia melihat seseorang di luar dengan rambut acak-acakan dan kusut, lalu berkata kepada tukang cukur, “Saya tidak percaya ada tukang cukur di dunia ini. Jika ada, seharusnya tidak ada orang dengan rambut seperti itu.” Tukang cukur menjawab, “Itu karena dia tidak mau datang ke tukang cukur.” Dari sinilah pelanggan tersebut menyimpulkan, “Itulah Tuhan. Tuhan itu ada, tetapi banyak orang yang tidak mau mencari dan mendatangi-Nya”.
Ustadz Upang menjelaskan bahwa banyak narasi di media sosial saat ini yang berusaha menjerumuskan keimanan umat Islam. Anak-anak kita disuguhi tontonan yang meragukan keberadaan Allah dengan pertanyaan-pertanyaan seperti “mengapa kita harus percaya kepada yang gaib?”.
“Padahal jawaban atas pertanyaan itu sudah jelas dalam firman Allah,” tegas Ustadz Upang.
Beliau kemudian membacakan QS. Al-Baqarah ayat 3:
الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ
Allażīna yu’minụna bil-gaibi wa yuqīmụnaṣ-ṣalāta wa mimmā razaqnāhum yunfiqụn
Artinya: (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan salat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.

Khutbah Kedua: Persatuan Umat di Tengah Perbedaan Fikih
Pada khutbah kedua, Ustadz Upang mengingatkan jamaah tentang bahaya perpecahan yang diakibatkan oleh perbedaan fikih yang seringkali diperdebatkan secara berlebihan. Beliau menegaskan bahwa umat Islam saat ini disibukkan dengan perbedaan-perbedaan yang justru membuat mereka terpecah belah, dan hal ini sangat disukai oleh musuh-musuh Islam.
“Sudah saatnya umat Islam bersatu dan membuat konter terhadap ajaran-ajaran yang meragukan keimanan. Jangan biarkan perbedaan fikih memecah belah kita,” ujar beliau dengan tegas.
Mengakhiri khutbahnya, Ustadz Upang mengutip sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:
بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ غَرِيبًا كَمَا بَدَأَ فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
Bada’al-Islāmu gharīban wa saya’ūdu gharīban kamā bada’a fa thūbā lil-ghurabā’
Artinya: “Islam datang dalam keadaan asing, dan akan kembali asing sebagaimana permulaannya, maka beruntunglah orang-orang yang asing” (HR. Muslim) .
Beliau menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “orang-orang yang asing” dalam hadis ini adalah mereka yang tetap istiqamah dalam kebaikan dan memperbaiki sunnah Rasulullah di tengah kerusakan yang melanda umat.
Penutup
Salat Jumat yang dipimpin oleh Ustadz Upang Ibrahim berlangsung dengan khusyuk dan diakhiri dengan doa. Jamaah berharap pesan-pesan yang disampaikan dapat menjadi pengingat dan penguat iman di tengah berbagai tantangan zaman.
“Semoga kita semua senantiasa diberikan kekuatan untuk menjaga iman dan takwa, serta menjadi bagian dari orang-orang yang asing yang disebutkan dalam hadis Rasulullah,” pungkas Ustadz Upang sebelum menutup khutbahnya. (*)
Peliput : Dakum, S.Pd., dan Tim Media masjid Santun.


Tinggalkan Balasan