Pelaksanaan Salat Jumat di Masjid Ad-Dien UMMADA: apt. Didin Ahidin, S.Si., M.Farm. Mengajak Jamaah Merenungi Hakikat Musibah

·

Avatar Arofah Firdaus

|

4 menit

|

📋

Dibaca: 20 x

CIREBON, muhammadiyahciko – Suasana khusyuk dan penuh tadabur menyelimuti Masjid Ad-Dien UMMADA Kalitanjung, Kota Cirebon, pada pelaksanaan ibadah Salat Jumat (21/8/26), hari ini. Jamaah dari kalangan sivitas akademika Universitas Muhammadiyah Ahmad Dahlan (UMMADA) Cirebon dan masyarakat sekitar tampak hadir untuk menunaikan kewajiban mingguan serta menyimak pesan-pesan keagamaan yang disampaikan oleh khatib.

Bertindak sebagai imam sekaligus khatib pada kesempatan ini adalah apt. Didin Ahidin, S.Si., M.Farm., yang dikenal sebagai akademisi sekaligus Ketua Halal Center. Dalam khutbahnya yang mendalam dan menggugah, beliau mengangkat tema tentang musibah dan bencana alam yang akhir-akhir ini marak terjadi, baik di dalam negeri maupun di mancanegara.

Khutbah Pertama: Musibah, Bencana, dan Keimanan

Mengawali khutbahnya, Ustadz Didin menyoroti berbagai peristiwa duka yang melanda dunia beberapa waktu terakhir, mulai dari gempa bumi dahsyat di Venezuela dan Kolombia yang memakan ribuan korban jiwa, hingga bencana gempa bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur, yang juga menimbulkan banyak korban dan kerusakan.

“Sebagian orang mengatakan bencana alam yang terjadi hanyalah gejala alamiah semata, fenomena alam biasa,” ujar beliau. “Namun, jika kita lihat dari kacamata kita sebagai orang yang beriman kepada Allah, tidak ada satu musibah pun yang terjadi kecuali atas izin Allah.”

Untuk menegaskan hal ini, Ustadz Didin membacakan firman Allah dalam QS. At-Taghabun ayat 11:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Mā aṣāba min muṣībatin illā bi’iżnillāh, wa may yu’min billāhi yahdi qalbah, wallāhu bikulli syai’in ‘alīm

Artinya: “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa (seseorang) kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” .

Khatib juga mengingatkan bahwa segala bencana yang menimpa di bumi dan pada diri manusia telah tercatat dalam Lauhul Mahfuzh sejak sebelum penciptaan. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Hadid ayat 22:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

Mā aṣāba min muṣībatin fil-arḍi wa lā fī anfusikum illā fī kitābin min qabli an nabra’ahā, inna żālika ‘alallāhi yasīr

Artinya: “Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah” .

Khutbah Kedua: Musibah sebagai Ujian atau Peringatan?

Pada khutbah kedua, Ustadz Didin mengajak jamaah untuk merenungkan hakikat musibah yang terjadi. Beliau menjelaskan bahwa musibah dapat menjadi dua hal: ujian keimanan atau peringatan atas dosa-dosa manusia.

“Apakah musibah dan bencana yang terjadi ini adalah ujian dari Allah untuk kita orang-orang yang beriman? Karena kita pasti akan diuji dalam kehidupan ini,” ujar beliau seraya membacakan QS. Al-Baqarah ayat 155:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Wa lanabluwannakum bisyai’in minal-khawfi wal-jū’i wa naqṣin minal-amwāli wal-anfusi waṡ-ṡamarāt, wa basysyiriṣ-ṣābirīn

Artinya: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar” .

Di sisi lain, musibah juga bisa menjadi teguran dan peringatan Allah atas dosa-dosa, kemaksiatan, dan kedurhakaan umat manusia. Beliau mengutip QS. Asy-Syura ayat 30:

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

Wa mā aṣābakum min muṣībatin fa bimā kasabat aidīkum wa ya’fū ‘an kaṡīr

Artinya: “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” .

Lebih lanjut, Ustadz Didin mengingatkan bahwa kerusakan di darat dan laut yang menyebabkan bencana seringkali disebabkan oleh ulah tangan manusia itu sendiri, seperti yang diabadikan dalam QS. Ar-Rum ayat 41:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Ẓaharal-fasādu fil-barri wal-baḥri bimā kasabat aidin-nāsi liyużīqahum ba’ḍallażī ‘amilū la’allahum yarji’ūn

Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” .

Penutup: Kembali ke Jalan Kebenaran dan Solidaritas

Menutup khutbahnya, Ustadz Didin mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan musibah dan bencana sebagai momentum introspeksi dan kembali ke jalan ketakwaan. Beliau mengingatkan bahwa Allah telah berjanji akan melimpahkan keberkahan bagi negeri yang penduduknya beriman dan bertakwa, sebagaimana dalam QS. Al-A’raf ayat 96.

Khatib juga mengajak jamaah untuk mendoakan saudara-saudara yang terkena musibah, terutama di wilayah Sumatera dan Aceh, dan menyerukan agar mereka dibantu dengan pengumpulan donasi.

Beliau menutup dengan doa:

اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

Allāhumma arinal-ḥaqqa ḥaqqan warzuqnat-tibā’ah, wa arinal-bāṭila bāṭilan warzuqnaj-tinābah

Artinya: “Ya Allah, perlihatkanlah kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan karuniakanlah kami kemampuan untuk mengikutinya, dan perlihatkanlah kepada kami kebatilan sebagai kebatilan dan karuniakanlah kami kemampuan untuk menjauhinya.”

Salat Jumat berlangsung dengan khusyuk dan diakhiri dengan doa untuk keselamatan dan ketabahan bagi seluruh korban bencana. (*)

Peliput : Fahyudin dan Tim Media masjid Ad-Dien UMMADA


Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

One response to “Pelaksanaan Salat Jumat di Masjid Ad-Dien UMMADA: apt. Didin Ahidin, S.Si., M.Farm. Mengajak Jamaah Merenungi Hakikat Musibah”

  1. Avatar Fahyudin
    Fahyudin

    Khutbah yang menggugah hati. Semoga kita bisa mengambil hikmah dari setiap ujian dan dijauhkan dari segala bencana.
    Aamiin