CIREBON – Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kesambi kembali menggelar pengajian rutin Ahad pagi yang berlangsung khidmat di Aula PCM Kesambi, Kota Cirebon, pada Ahad (24/5/2026). Kajian kali ini menghadirkan penceramah istimewa, Ustadz Assoc. Prof. Dr. Arief Hidayat Afendi, S.H.I., M.Ag., yang membahas tuntas seputar keutamaan dan amalan sunah di bulan Dzulhijjah berdasarkan Al-Qur’an dan sunah.
Hadir dalam kesempatan tersebut Ketua PCM Kesambi, H. Digyono, beserta jajaran pengurus. Kehadiran para tokoh Muhammadiyah ini menambah semarak kajian yang diikuti oleh puluhan jamaah dari berbagai ranting di wilayah Kesambi.

Dasar Hukum Keutamaan 10 Hari Pertama Dzulhijjah
Dalam tausiyahnya, Ustadz Arief mengawali dengan membacakan firman Allah dalam Surah Al-Fajr ayat 2:
وَ لَيَالٍ عَشْرٍ
Wa layālin ‘asyr
Artinya: “Dan malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 2)
Beliau menjelaskan bahwa para ulama tafsir sepakat bahwa “malam yang sepuluh” merujuk pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. “Ini adalah waktu yang sangat istimewa, di mana amal saleh lebih dicintai Allah daripada di hari-hari lainnya,” ujar dosen UMC tersebut.

Tiga Jenis Dzikir yang Dianjurkan
Ustadz Arief memaparkan tiga kategori dzikir yang menjadi amalan utama di awal Dzulhijjah:
- Dzikir Mutlak (Dzikir Umum) – Dzikir yang bisa dilakukan kapan saja tanpa batasan waktu dan keadaan, seperti membaca tasbih (سُبْحَانَ الله), tahmid (الْحَمْدُ لِلَّهِ), tahlil (لَا إِلَهَ إِلَّا الله), dan takbir (اللهُ أَكْبَرُ).
- Dzikir Khusus (Dzikir setelah sholat) – Dzikir yang diamalkan setelah menunaikan sholat fardu, seperti istigfar dan membaca doa-doa ma’tsurah.
- Dzikir yang Terikat Waktu dan Lafaz – Dzikir yang terbatas oleh waktu tertentu serta lafaz yang ditentukan. Beliau menjelaskan bahwa waktu dzikir jenis ini dimulai sejak terbit fajar pada tanggal 9 Dzulhijjah hingga terbenam matahari pada hari terakhir tasyrik (13 Dzulhijjah).
Puasa Arafah: Penghapus Dosa Dua Tahun
Selanjutnya, penceramah mengingatkan tentang keutamaan puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah. Beliau menyampaikan hadis riwayat Muslim:
صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ
Shaumu yaumi ‘Arafata ahtasibu ‘alallāhi an yukaffiras-sanatal-latī qablahu was-sanatal-latī ba‘dah
Artinya: “Puasa Arafah, aku berharap kepada Allah agar dapat menghapus dosa setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya.” (HR. Muslim)

Tata Cara Salat Iduladha Menurut Tarjih
Ustadz Arief juga memaparkan panduan salat Iduladha versi Tarjih Muhammadiyah:
- Mandi sebelum berangkat salat sebagai bentuk kesunahan.
- Tidak ada azan dan iqamah untuk salat Id.
- Rakaat pertama membaca Surah Al-A‘lā, rakaat kedua membaca Surah Al-Ghāsyiyah.
- Khutbah diawali dengan memuji Allah dan takbiran, serta tidak ada duduk di antara dua khutbah.
Tempat Salat Ied: Lapangan Lebih Dicintai
Beliau menegaskan bahwa tempat yang paling dicintai untuk menegakkan syiar Islam dalam salat Ied adalah lapangan atau tempat yang luas, bukan hanya di masjid. Hal ini untuk menampilkan kebesaran Islam dan kegembiraan umat.
Ibadah Kurban: Penyembelihan Hewan Qurban
Di akhir tausiyah, Ustadz Arief menyampaikan bahwa ibadah kurban hukumnya sunah muakkad bagi yang mampu. Penyembelihan hewan kurban dilaksanakan setelah salat Iduladha hingga akhir hari tasyrik (13 Dzulhijjah) sebagai bentuk kepedulian sosial dan ketakwaan kepada Allah Swt.
Sambutan Ketua PCM Kesambi
Ketua PCM Kesambi, H. Digyono, dalam sambutannya mengapresiasi pencerahan yang disampaikan Ustadz Arief. “Kami berharap jamaah bisa mengamalkan ilmu yang telah disampaikan, terutama amal saleh di sepuluh hari pertama Dzulhijjah yang penuh berkah ini,” tuturnya.
Pengajian ditutup dengan doa dan dilanjutkan dengan silaturahmi antarjamaah. Kegiatan rutin Ahad pagi ini menjadi salah satu program unggulan PCM Kesambi dalam membina umat berbasis Al-Qur’an dan sunah.
Pengirim berita : Muryanto, Tim Media PCM Kesambi
Editor: Redaksi


Tinggalkan Balasan