CIREBON — Suasana khidmat menyelimuti Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon pada pelaksanaan ibadah Salat Jumat, 8 Mei 2026. Bertindak sebagai khatib sekaligus imam, Ustadz Ahmad Nurjanah, S.E., S.Pd., M.Si., menyampaikan khutbah yang mengangkat tema tentang dua negeri dalam Al-Qur’an: kehancuran Negeri Saba’ karena lupa bersyukur dan kemuliaan Kota Makkah karena ketauhidan.
Sambutan Jamaah dan Persiapan Ibadah
Jamaah tampak hadir sejak siang hari, memenuhi ruang utama masjid hingga halaman. Tampak hadir Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Cirebon, Drs. Puji Nirmo beserta jajaran pimpinan lainnya.

Khutbah Pertama: Pesan Takwa dan Peringatan dari Negeri Saba’
Memasuki mimbar sekitar pukul 11.45 WIB, Ustadz Ahmad Nurjanah memulai khutbah dengan seruan takwa. Beliau membacakan firman Allah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102)
Khatib menjelaskan bahwa takwa bukan hanya menyelamatkan pribadi, tetapi juga keluarga, masyarakat, bahkan negeri. “Hari ini kita belajar dari dua negeri yang disebut dalam Al-Qur’an,” ujar beliau mengawali inti khutbah.
Negeri Saba’: Kemakmuran yang Hancur karena Lalai Bersyukur
Khatib mengisahkan tentang Negeri Saba’ yang disebut dalam Surat Saba’ ayat 15. Allah berfirman:
لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ ۖ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ
“Sungguh, bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan), ‘Makanlah dari rezeki yang diberikan Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.’” (QS. Saba’: 15)
Beliau menggambarkan betapa makmurnya negeri tersebut: kebun membentang di kanan-kiri, air mengalir teratur, Bendungan Ma’rib berdiri kokoh sebagai simbol kemajuan teknologi, perdagangan berkembang, dan rakyat hidup sejahtera.
Namun, kata khatib, mereka justru berpaling dari perintah bersyukur. Allah mengabadikan sikap mereka hanya dengan satu kalimat:
فَأَعْرَضُوا
“Maka mereka berpaling.”
Akibatnya, Allah mengirimkan banjir besar yang menghancurkan bendungan, kebun, dan kemakmuran mereka, lalu penduduknya tercerai-berai. “Yang meruntuhkan mereka bukanlah kemiskinan, bukan kurangnya proyek, tetapi hilangnya syukur dan datangnya kesombongan,” tegas Ustadz Ahmad Nurjanah mengutip firman Allah dalam QS. Saba’: 16.
Beliau kemudian membacakan QS. Ar-Ra’d: 11 sebagai penguatan:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”

Khutbah Kedua: Makkah, Lembah Tandus yang Dimuliakan Allah
Memasuki khutbah kedua, jamaah kembali diajak merenungkan Kota Makkah. Ustadz Ahmad Nurjanah mengutip doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dalam QS. Ibrahim: 37:
رَبَّ إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di suatu lembah yang tidak mempunyai tanaman di dekat rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati.”
Menurut penjelasan khatib, para mufasir seperti Ibnu Katsir dan Al-Qurthubi menyebut bahwa Makkah saat itu adalah lembah tandus tanpa sumber kehidupan alami. Namun, Nabi Ibrahim tidak menanam gandum atau membangun infrastruktur ekonomi; yang beliau tanam adalah tauhid, beliau bangun Ka’bah, dan beliau ajarkan ketundukan kepada Allah.
“Hasilnya? Hari ini Makkah menjadi pusat peradaban Islam, didatangi jutaan manusia dari seluruh dunia, rezeki datang dari berbagai penjuru,” ujar khatib. Beliau membacakan QS. At-Talaq: 2-3:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا . وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”

Pelajaran untuk Umat dan Negeri
Khatib menyimpulkan dua pelajaran besar:
- Negeri Saba’ hancur walaupun subur, karena lupa bersyukur dan meninggalkan tauhid.
- Kota Makkah dimuliakan walaupun tandus, karena tauhid dan ketaatan.
“Yang menentukan kemuliaan sebuah negeri bukanlah kekayaan alam atau kekuatan teknologi, tetapi hubungannya dengan Allah,” tegas Ustadz Ahmad Nurjanang.
Beliau mengajak jamaah untuk merenungkan beberapa pertanyaan kritis:
- Apakah rumah kita seindah Saba’ secara fisik, tetapi sepi dari ayat-ayat Allah?
- Apakah hati kita kokoh seperti bendungan Ma’rib, tetapi retak oleh maksiat-maksiat kecil yang dianggap biasa?
- Apakah kita terlalu sibuk membangun dunia hingga lalai membangun iman anak-anak?
Sebagai penutup, khatib membacakan QS. Ali ‘Imran: 139:
وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
“Dan janganlah kamu merasa lemah, dan janganlah kamu bersedih hati, padahal kamulah yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.”
Doa dan Penutup
Khutbah ditutup dengan doa yang dipanjatkan khatib. Ustadz Ahmad Nurjanah memohon kepada Allah agar jamaah tidak termasuk golongan yang lalai, agar nikmat yang diberikan tetap terjaga, dan agar negeri ini senantiasa dilimpahi keberkahan. “Hari ini kita memilih: menjadi generasi Saba’ yang hancur karena lupa syukur, atau generasi yang menjaga iman seperti Nabi Ibrahim,” pesan beliau.
Usai khutbah, iqamah dikumandangkan dan Salat Jumat dilaksanakan dengan tertib. Seluruh rangkaian ibadah berlangsung lancar dan penuh kekhusyukan. Jamaah tampak meninggalkan masjid dengan wajah-wajah yang teduh, seraya berjabat tangan dan saling memaafkan.
Peliput: Tim Liputan Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon
LokTanggal: Jumat, 8 Mei 2026 / 20 Syawal 1447 H


Tinggalkan Balasan ke puji nirmo Batalkan balasan