CIREBON, 20 Maret 2026 – Ribuan jamaah memadati halaman kampus SDIT Muhammadiyah Harjamukti, Kota Cirebon, pada pelaksanaan Salat Idul Fitri 1447 H, Jumat (20/3/2026). Suasana khidmat dan penuh syukur menyelimuti jamaah yang datang sejak pagi untuk menunaikan shalat sunnah Idul Fitri setelah sebulan penuh berpuasa di bulan Ramadhan.
Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Kepala SDIT Muhammadiyah Harjamukti, Encup Supriatna, S.Pd., menyampaikan khutbah yang mendalam dengan tema “Ramadhan Mendidik, Idul Fitri Memaknai”.

Ramadhan: Bulan Tarbiyah bagi Ruhani dan Jasmani
Encup Supriatna mengawali khutbah dengan mengajak jamaah merenungkan hakikat Ramadhan sebagai bulan pendidikan. “Ramadhan adalah bulan tarbiyah, bulan pendidikan bagi ruhani dan jasmani. Kita diajarkan bersabar dalam menahan hawa nafsu untuk tidak melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah dengan tujuan kita menjadi orang yang bertakwa, karena sebaik-baik bekal adalah ketakwaan kepada Allah,” paparnya.
Beliau mengutip firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 197:
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ
“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku, wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat!” (QS. Al-Baqarah: 197)
“Kita telah melalui bulan Ramadhan yang penuh dengan kebaikan dan berkah. Kita berpuasa di siang harinya dan shalat tarawih di malam harinya, serta mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan beragam ibadah demi mengharap pahala-Nya dan takut akan siksa-Nya. Semua itu adalah proses pendidikan yang Allah berikan kepada kita,” jelasnya.

Menjaga Kualitas Ibadah Pasca Ramadhan
Memasuki inti khutbah, khatib mengingatkan bahwa bulan Ramadhan telah berlalu. Namun, Tuhan pemilik bulan-bulan itu hanya satu, yaitu Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Oleh karena itu, kita tidak boleh kembali berbuat maksiat setelah Ramadhan pergi.
“Kini bulan Ramadhan telah berlalu. Maka jangan sampai kita kembali berbuat maksiat, karena Tuhan pemilik bulan-bulan itu hanya satu. Jangan sampai kita merusak amal saleh yang kita bangun selama bulan Ramadhan dengan amal salah setelahnya, karena tanda diterimanya amalan adalah kebaikan yang diikuti dengan kebaikan, sedangkan kembali berbuat maksiat setelah bertobat, dosanya lebih besar daripada dosa yang dilakukan sebelum bertobat,” tegas Encup Supriatna.
Beliau mengingatkan bahwa di depan kita kelak ada mizan (timbangan) yang akan menimbang amal baik dan buruk kita. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Mu’minun ayat 102-103:
فَمَن ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ . وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنفُسَهُمْ فِي جَهَنَّمَ خَالِدُونَ
“Barangsiapa berat timbangan (kebaikan)-nya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barangsiapa ringan timbangan (kebaikan)-nya, mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri; mereka kekal di dalam neraka Jahanam.” (QS. Al-Mu’minun: 102-103)

Idul Fitri: Momentum Memaknai Pendidikan Ramadhan
Khatib menjelaskan bahwa Idul Fitri adalah momentum untuk memaknai seluruh proses pendidikan yang telah kita lalui selama Ramadhan. Pendidikan tersebut tidak boleh berhenti hanya di bulan suci, tetapi harus berlanjut di bulan-bulan berikutnya.
“Idul Fitri memaknai. Artinya, kita harus mengambil makna terdalam dari seluruh rangkaian ibadah yang telah kita lakukan. Kesabaran yang kita latih, keikhlasan yang kita pupuk, kepedulian yang kita tumbuhkan, semua itu harus menjadi karakter yang melekat dalam diri kita, bukan hanya sekadar ritual musiman,” paparnya.
Encup Supriatna mengajak jamaah untuk terus istiqamah dalam kebaikan, menjaga shalat lima waktu, memperbanyak sedekah, dan tetap menjaga hubungan baik dengan sesama. “Jangan sampai setelah Ramadhan, kita kembali kepada kebiasaan buruk. Karena tanda orang yang berhasil dalam pendidikannya adalah ketika ia mampu mempertahankan bahkan meningkatkan kualitas kebaikannya setelah masa pendidikan berlalu,” tambahnya.

Penutup: Doa dan Harapan
Di akhir khutbah, Encup Supriatna memimpin doa dan mengajak jamaah untuk memohon kepada Allah agar diberikan keistiqamahan dan diterima segala amal ibadah selama Ramadhan.
اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَرُكُوعَنَا وَسُجُودَنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْعَائِدِينَ وَالْفَائِزِينَ
“Ya Allah, terimalah dari kami puasa kami, shalat malam kami, rukuk kami, sujud kami, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang kembali (kepada fitrah) dan orang-orang yang mendapat kemenangan.”
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”
Salat Idul Fitri di halaman kampus SDIT Muhammadiyah Harjamukti berlangsung dengan penuh kekhusyukan dan kebahagiaan. Jamaah yang hadir tampak merenung dan terharu, mendapatkan pencerahan tentang makna Ramadhan sebagai bulan pendidikan dan pentingnya memaknai serta mempertahankan kualitas ibadah setelah bulan suci berlalu.


Tinggalkan Balasan ke Salman Yahya Batalkan balasan