CIREBON, 17 Februari 2026 – Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon dipenuhi jamaah pada malam pertama pelaksanaan Salat Tarawih Ramadhan 1447 H, Selasa (17/2/2026). Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Ustadz Dr. Muhlis, M.Pd.I. , memimpin jalannya ibadah dengan khusyuk dan menyampaikan kultum bertema “Meraih Hakikat Takwa” .

Tujuan Puasa: Meraih Derajat Takwa
Dalam kultumnya, Ustadz Dr. Muhlis mengawali dengan menjelaskan tujuan utama ibadah puasa Ramadhan sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an. Beliau mengutip firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
“Allah Subhanahu Wa Ta’ala secara tegas menyatakan bahwa tujuan akhir dari ibadah puasa adalah la’allakum tattakun—agar kamu menjadi orang-orang yang bertakwa. Takwa bukan sekadar klaim, tetapi harus diwujudkan dalam komitmen melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya,” jelas Ustadz Muhlis.
Beliau menambahkan bahwa orang yang bertakwa adalah mereka yang mampu mengimplementasikan nilai-nilai takwa dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam hubungan vertikal dengan Allah maupun hubungan horizontal dengan sesama manusia.

Empat Pilar Meraih Hakikat Takwa
Memasuki inti kultum, Ustadz Dr. Muhlis mengutip penjelasan Imam Ali bin Abi Thalib tentang empat hal yang harus tercermin dalam diri seseorang untuk meraih hakikat takwa. Keempat pilar ini menjadi panduan praktis bagi setiap muslim dalam meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaannya selama Ramadhan.
1. Al-Khaufu Minal Jalil (Takut kepada Allah)
Pilar pertama adalah rasa takut kepada Allah Yang Maha Agung. Ini bukan ketakutan yang membuat putus asa, melainkan khasyyah—rasa takut yang lahir dari pengagungan dan kecintaan kepada Allah.
“Orang yang bertakwa akan senantiasa istiqamah dalam melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, dalam keadaan apapun dan dimanapun ia berada. Rasa takut kepada Allah akan mencegahnya dari perbuatan maksiat, baik saat sendirian maupun di hadapan orang banyak,” papar Ustadz Muhlis.
Beliau mengutip firman Allah:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama (orang-orang yang berilmu).” (QS. Fathir: 28)
“Semakin tinggi ilmu seseorang tentang Allah, semakin besar rasa takutnya kepada-Nya. Ramadhan adalah madrasah untuk meningkatkan ilmu dan rasa takut kita kepada Allah,” tambahnya.
2. Al-‘Amalu Bit-Tanzil (Mengamalkan Al-Qur’an)
Pilar kedua adalah mengamalkan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Ustadz Muhlis menegaskan bahwa Al-Qur’an merupakan mashadirul ahkam (sumber hukum Islam) yang bersifat qath’i (pasti kebenarannya). Ia menjadi kiblat hukum bagi umat Islam dalam menjalankan agamanya.
إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ
“Sungguh, Al-Qur’an ini memberi petunjuk ke jalan yang paling lurus.” (QS. Al-Isra’: 9)
“Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an. Maka perbanyaklah membaca, mempelajari, dan mengamalkan isinya. Jadikan Al-Qur’an sebagai kompas kehidupan kita,” pesan Ustadz Muhlis.
3. Al-I’dadu Liyaumir Rahil (Persiapan Menghadapi Hari Akhir)
Pilar ketiga adalah persiapan optimal untuk menghadapi hari kematian dan perjumpaan dengan Allah. Persiapan ini dilakukan melalui amaliyah ibadah, baik ibadah mahdhah (ritual murni) seperti shalat, puasa, dan zakat, maupun ibadah ghairu mahdhah (sosial kemasyarakatan).
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)
“Ramadhan adalah bulan latihan untuk mempersiapkan bekal terbaik menuju akhirat. Setiap detiknya adalah investasi pahala yang tak ternilai,” tegas Ustadz Muhlis.
4. Ar-Ridha Bil Qalil (Rela dengan Pemberian Allah)
Pilar keempat adalah sikap selalu bersyukur dan ridha (menerima) atas apapun dan seberapapun rezeki yang diperoleh dari Allah. Ini adalah wujud dari tawadhu‘ (rendah hati) yang menjadi spirit meraih keberkahan.
Rasulullah SAW bersabda:
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَٰكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
“Kekayaan itu bukanlah dengan banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang hakiki adalah kekayaan jiwa.” (HR. Bukhari & Muslim)
“Orang yang ridha dengan pemberian Allah akan merasakan kebahagiaan dan ketenangan jiwa. Ia tidak silau dengan gemerlap dunia, dan selalu bersyukur dalam kondisi apapun. Inilah karakter orang bertakwa,” jelas Ustadz Muhlis.

Keutamaan Salat Tarawih
Sebelum menutup kultum, Ustadz Dr. Muhlis mengingatkan jamaah tentang keutamaan salat tarawih sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam :
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan (tarawih) karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari & Muslim)
Beliau juga mengutip hadis tentang keutamaan shalat berjamaah mengikuti imam hingga selesai:
إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ
“Sesungguhnya siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam (shalat malam) satu malam penuh.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Penutup: Meraih Keberkahan Ramadhan
Salat tarawih perdana di Masjid Santun berlangsung penuh kekhusyukan. Jamaah berharap Ramadhan tahun ini membawa keberkahan, rahmat, dan ampunan bagi seluruh umat Islam.
Acara ditutup dengan doa memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar diberikan kekuatan untuk menjalankan ibadah puasa, meningkatkan kualitas takwa, dan meraih hakikat takwa yang telah dipaparkan oleh Imam Ali bin Abi Thalib. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.


Tinggalkan Balasan