CIREBON, 18 Maret 2026 – Masjid Al Ikhlas Drajat, Kecamatan Kesambi, Kota Cirebon, dipenuhi jamaah pada pelaksanaan Salat Tarawih malam ke-30 sekaligus malam terakhir Ramadhan 1447 H, Rabu (18/3/2026). Suasana haru dan refleksi menyelimuti setiap sudut masjid. Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Ustadz H. Dedi Ahyadi menyampaikan kultum yang sangat menyentuh dengan tema “Evaluasi Diri Selama Melaksanakan Ibadah Shaum Ramadhan 1447 H”.
Turut hadir dalam kesempatan tersebut Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kesambi, H. Digyono, beserta jajaran pengurus dan warga Muhammadiyah se-Kecamatan Kesambi. Jamaah tampak khusyuk menyimak tausiyah perpisahan di penghujung bulan suci.

Malam Terakhir: Saatnya Evaluasi Diri
Ustadz H. Dedi Ahyadi mengawali kultum dengan mengajak jamaah untuk merenungkan perjalanan ibadah selama sebulan penuh. “Ini adalah malam terakhir Ramadhan. Sebentar lagi kita akan memasuki bulan Syawal. Sudah saatnya kita melakukan evaluasi diri, bertanya pada hati, sudah sejauh mana kita memanfaatkan bulan yang penuh berkah ini,” paparnya.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam QS. Al-Hasyr ayat 18:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)
“Ayat ini memerintahkan kita untuk introspeksi. Lihatlah apa yang telah kita persiapkan untuk hari esok, untuk akhirat kita. Ramadhan adalah kesempatan emas, jangan sampai berlalu sia-sia,” tegas Ustadz Dedi.
Evaluasi Kualitas Puasa
Ustadz Dedi mengajak jamaah untuk mengevaluasi kualitas puasa yang telah dijalankan. Apakah puasa kita hanya sekadar menahan lapar dan dahaga, atau benar-benar membentuk pribadi yang bertakwa?
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالْعَطَشُ
“Betapa banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ibnu Majah)
“Jangan sampai kita termasuk golongan ini. Kita telah bersusah payah selama sebulan, jangan hanya mendapatkan lapar dan haus. Mari kita evaluasi, sudahkah puasa kita meningkatkan ketakwaan? Sudahkah kita menjaga lisan dari perkataan sia-sia? Sudahkah kita menjaga mata dari pandangan haram? Sudahkah kita menjaga hati dari iri dan dengki?” tanya Ustadz Dedi.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 183:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
“Tujuan akhir puasa adalah takwa. Sudahkah kita meraihnya? Mari kita renungkan,” ajaknya.
Evaluasi Kualitas Ibadah
Selain puasa, Ustadz Dedi juga mengajak untuk mengevaluasi kualitas ibadah-ibadah lain yang dilakukan selama Ramadhan, seperti shalat tarawih, tadarus Al-Qur’an, sedekah, dan i’tikaf.
Shalat Tarawih : Apakah kita shalat tarawih dengan khusyuk atau hanya sekadar menggugurkan kewajiban? Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa melaksanakan shalat malam di bulan Ramadhan (tarawih) karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari & Muslim)
Tadarus Al-Qur’an : Sudah berapa juz kita baca? Apakah kita hanya membaca tanpa memahami maknanya? Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ
“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah: 185)
Sedekah : Sudah berapa banyak kita bersedekah? Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam adalah manusia paling dermawan, dan lebih dermawan lagi di Ramadhan. Apakah kita meneladani beliau?
I’tikaf : Sudahkah kita menyempatkan diri untuk i’tikaf di sepuluh hari terakhir, meraih Lailatul Qadar?
Evaluasi Perubahan Diri
Ustadz Dedi menekankan bahwa evaluasi yang paling penting adalah melihat perubahan diri setelah Ramadhan. Apakah kita menjadi pribadi yang lebih baik?
“Setelah Ramadhan, kita akan kembali ke kehidupan normal. Apakah kita akan kembali kepada kebiasaan buruk? Ataukah kita akan mempertahankan kebaikan yang telah kita latih selama sebulan? Inilah ujian sesungguhnya,” tegasnya.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِن بَعْدِ قُوَّةٍ أَنكَاثًا
“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali.” (QS. An-Nahl: 92)
“Jangan seperti orang yang setelah bersusah payah memintal benang, justru mengurainya kembali. Kita telah bersusah payah beribadah selama Ramadhan, jangan sia-siakan dengan kembali kepada maksiat,” pesan Ustadz Dedi.
Tanda Diterimanya Ibadah
Ustadz Dedi menjelaskan bahwa tanda diterimanya ibadah adalah kebaikan setelahnya. Jika setelah Ramadhan kita semakin baik, itu pertanda amal kita diterima. Jika sebaliknya, maka kita perlu khawatir.
Para ulama salaf biasa berdoa selama enam bulan setelah Ramadhan agar amalan mereka diterima. Mereka khawatir ibadahnya ditolak.
Aisyah RA meriwayatkan bahwa ia bertanya kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam tentang ayat:
وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ
“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS. Al-Mu’minun: 60)
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam menjawab:
هُمُ الَّذِينَ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَتَصَدَّقُونَ وَهُمْ يَخَافُونَ أَنْ لَا يُقْبَلَ مِنْهُمْ
“Mereka adalah orang-orang yang berpuasa, shalat, dan bersedekah, sementara mereka takut bahwa amalan mereka tidak diterima.” (HR. Tirmidzi)
Penutup: Memohon Ampunan dan Keistiqamahan
Menutup kultum, Ustadz H. Dedi Ahyadi mengajak jamaah untuk memperbanyak doa memohon ampunan dan keistiqamahan. Beliau mengajak membaca doa yang diajarkan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau menyukai maaf, maka maafkanlah aku.”
“Marilah kita akhiri Ramadhan ini dengan istigfar dan doa. Semoga Allah menerima amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan memberikan kita kekuatan untuk istiqamah setelah Ramadhan. Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin,” pungkasnya.
Ketua PCM Kesambi, H. Digyono, dalam kesempatan tersebut juga menyampaikan ucapan selamat Idul Fitri dan permohonan maaf kepada seluruh jamaah. “Atas nama keluarga besar PCM Kesambi, kami mengucapkan selamat Idul Fitri 1447 H, mohon maaf lahir dan batin. Semoga kita semua kembali ke fitrah, suci bersih seperti bayi yang baru lahir,” ujarnya.
Salat Tarawih malam terakhir berlangsung dengan penuh kekhusyukan dan haru. Jamaah yang hadir tampak merenung, tersentuh oleh ajakan untuk evaluasi diri dan refleksi di penghujung Ramadhan.


Tinggalkan Balasan