CIREBON, 26 Februari 2026 – Masjid Annur Sangkana Kalijaga, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, dipenuhi jamaah pada pelaksanaan Salat Tarawih malam kesepuluh Ramadhan 1447 H, Kamis (26/2/2026). Bertindak sebagai imam sekaligus penceramah, Ketua Lazismu Jawa Barat, Ustadz Chafid Seffriyadi, M.Pd., menyampaikan kultum yang mendalam dengan tema “Syukur Nikmat” .
Tampak hadir Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Harjamukti Kota Cirebon Yandi Heryandi, MPd. Jamaah tampak khusyuk menyimak tausiyah yang mengupas tentang hakikat syukur dan bagaimana seharusnya seorang hamba menyikapi nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Syukur: Kunci Bertambahnya Nikmat
Ustadz Chafid Seffriyadi mengawali kultum dengan mengutip firman Allah dalam QS. Ibrahim ayat 7 yang menjadi landasan utama tentang syukur:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.’” (QS. Ibrahim: 7)
“Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan tegas menjanjikan tambahan nikmat bagi hamba-Nya yang bersyukur. Ini adalah motivasi terbesar bagi kita untuk senantiasa bersyukur dalam setiap keadaan. Sebaliknya, Allah memperingatkan tentang azab yang sangat berat bagi mereka yang mengingkari nikmat-Nya,” papar Ustadz Chafid.
Beliau menjelaskan bahwa syukur tidak hanya diucapkan dengan lisan, tetapi juga diwujudkan dengan hati dan perbuatan. Syukur dengan hati adalah mengakui bahwa semua nikmat berasal dari Allah, syukur dengan lisan adalah memuji Allah, dan syukur dengan perbuatan adalah menggunakan nikmat tersebut untuk ketaatan kepada-Nya.

Hakikat Syukur: Ketidakmampuan Manusia Membalas Nikmat Allah
Memasuki inti pembahasan, Ustadz Chafid mengajak jamaah merenungkan hakikat syukur yang sebenarnya. Beliau menjelaskan bahwa sesungguhnya manusia tidak akan pernah mampu untuk membalas atau mensyukuri nikmat Allah secara sempurna.
“Coba kita renungkan, nikmat apa yang paling berharga dalam hidup kita? Bukan harta, bukan jabatan, tetapi nikmat bernafas. Setiap detik kita bernafas tanpa bantuan alat. Coba bayangkan jika kita harus membeli oksigen seperti di rumah sakit, berapa biaya yang harus kita keluarkan? Namun Allah memberikan nikmat ini gratis, tanpa kita minta,” jelas Ustadz Chafid.
Beliau melanjutkan, “Ketika kita bersedekah satu juta rupiah, itu tidak akan pernah bisa menggantikan nikmat bernafas yang Allah berikan setiap detik. Inilah hakikat syukur: kita tidak akan pernah bisa membalas nikmat Allah, yang penting kita terus berbuat baik sebagai wujud rasa syukur kita.”
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda tentang keutamaan bersyukur:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin. Semua urusannya adalah kebaikan. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu baik baginya.” (HR. Muslim)
Syukur di Bulan Ramadhan
Ustadz Chafid mengaitkan tema syukur dengan bulan Ramadhan yang sedang kita jalani. Beliau mengingatkan bahwa dipertemukan dengan Ramadhan adalah nikmat besar yang patut disyukuri.
“Betapa banyak orang yang tahun lalu bersama kita berpuasa, kini telah berpulang ke rahmatullah. Mereka tidak sempat bertemu Ramadhan tahun ini. Maka kita yang masih diberi kesempatan bertemu Ramadhan harus bersyukur dengan mengisi bulan ini dengan ibadah sebanyak-banyaknya,” ajaknya.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman tentang keutamaan bulan Ramadhan:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ
“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah: 185)
“Syukur kita kepada Allah atas nikmat Ramadhan adalah dengan memperbanyak membaca Al-Qur’an, memperbanyak shalat malam, dan memperbanyak sedekah,” tegas Ustadz Chafid.
Doa Memohon Petunjuk Kebenaran
Di penghujung kultum, Ustadz Chafid mengajarkan sebuah doa yang sangat penting untuk diamalkan, terutama di bulan Ramadhan:
اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ
“Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan karuniakanlah kami untuk mengikutinya. Dan tunjukkanlah kepada kami kebatilan sebagai kebatilan dan karuniakanlah kami untuk menjauhinya.”
“Doa ini sangat penting, karena di zaman yang penuh dengan fitnah dan kesesatan, kita memohon kepada Allah agar diberikan kemampuan untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah, serta diberikan kekuatan untuk mengikuti kebenaran dan menjauhi kebatilan,” jelas Ustadz Chafid.
Beliau mengutip firman Allah tentang orang-orang yang diberikan petunjuk:
وَيَزِيدُ اللَّهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى
“Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk.” (QS. Maryam: 76)
Keutamaan Sedekah di Bulan Ramadhan
Sebagai Ketua Lazismu Jawa Barat, Ustadz Chafid juga mengingatkan tentang keutamaan bersedekah di bulan Ramadhan. Beliau mengutip hadits tentang keutamaan memberi makan orang berbuka:
مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا
“Barangsiapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun.” (HR. Tirmidzi)
“Di bulan Ramadhan ini, mari kita perbanyak sedekah melalui Lazismu. Sedekah kita akan disalurkan kepada yang berhak, terutama fakir miskin dan anak yatim. Ini adalah wujud syukur kita atas nikmat harta yang Allah berikan,” ajaknya.
Penutup: Syukur dengan Istiqamah
Menutup kultum, Ustadz Chafid Seffriyadi mengajak jamaah untuk senantiasa bersyukur dengan istiqamah, tidak hanya di bulan Ramadhan tetapi juga di luar Ramadhan.
“Mari kita jadikan Ramadhan ini sebagai momentum untuk melatih diri menjadi hamba yang pandai bersyukur. Syukuri setiap nikmat, sekecil apa pun. Dengan bersyukur, Allah janjikan tambahan nikmat. Dan tambahan nikmat terbesar adalah hidayah untuk terus berada di jalan-Nya hingga akhir hayat. Aamiin,” pungkasnya.
Salat Tarawih malam kesepuluh berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Jamaah yang hadir tampak merenung dan mendapatkan pencerahan tentang hakikat syukur serta pentingnya terus berbuat baik sebagai wujud rasa syukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.


Tinggalkan Balasan ke Muhammad Jamhari Abdurrahman Batalkan balasan