Tarawih Malam Ketujuh di Masjid Santun: Ustadz Aip Syarifudin Ingatkan agar Puasa Tidak Hanya Mendapat Lapar dan Dahaga

CIREBON, 23 Februari 2026 – Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon kembali dipenuhi jamaah pada pelaksanaan Salat Tarawih malam ketujuh Ramadhan 1447 H, Senin (23/2/2026). Bertindak sebagai penceramah, Ustadz Aip Syarifudin, S.Pd.I., menyampaikan kultum yang menggugah kesadaran dengan tema “Jangan Biarkan Puasamu Sia-sia”.

Jamaah yang memadati masjid hingga halaman tampak khusyuk menyimak tausiyah yang mengingatkan tentang besarnya ampunan dan pahala di bulan Ramadhan, serta pentingnya menjaga kualitas puasa dari hal-hal yang dapat menyia-nyiakannya.


Ramadhan: Bulan Ampunan dan Pelipatgandaan Pahala

Ustadz Aip Syarifudin mengawali kultum dengan mengingatkan bahwa Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan ampunan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Beliau mengutip beberapa hadits yang menunjukkan keistimewaan bulan suci ini.

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan karena iman dan karena berharap pahala, niscaya diampuni untuknya dosa-dosa yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang bangun malam shalat Tarawih di dalam bulan Ramadhan karena iman dan berharap pahala, maka diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Beliau juga mengingatkan tentang pelipatgandaan pahala di bulan Ramadhan sebagaimana hadits riwayat Imam Muslim:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ

“Setiap amal anak Adam dilipatgandakan pahalanya, satu kebaikan dibalas sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat.” (HR. Muslim)

“Begitu besar pahala dan ampunan yang Allah sediakan di bulan Ramadhan. Sungguh rugi orang yang melewati bulan ini tanpa mendapatkan ampunan dan pahala, melainkan hanya rasa lapar dan dahaga saja,” tegas Ustadz Aip.


Peringatan Nabi: Jangan Hanya Mendapat Lapar dan Dahaga

Ustadz Aip mengingatkan hadits Nabi yang sangat terkenal tentang orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan dahaga:

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath-Thabrani, dishahihkan Syaikh Al-Albani)

“Hadits ini adalah peringatan keras bagi kita. Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang hanya mendapatkan lapar dan dahaga dari puasa Ramadhan, sementara pahala dan ampunan berlalu begitu saja,” ujar Ustadz Aip.

Beliau kemudian menjelaskan tiga penyebab utama mengapa puasa seseorang bisa menjadi sia-sia.


Penyebab Pertama: Berkata Dusta

Penyebab pertama yang membuat puasa seseorang tidak berarti adalah kebiasaan berkata dusta. Ustadz Aip mengutip hadits riwayat Bukhari:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari)

“Inilah yang menyebabkan puasa seorang muslim menjadi sia-sia. Ia menahan lapar dan dahaga, tetapi lisannya masih saja berkata dusta. Padahal puasa seharusnya melatih kita untuk jujur dalam setiap perkataan,” jelas Ustadz Aip.


Penyebab Kedua: Berkata Lagwu (Sia-sia) dan Rofats (Kata-kata Porno)

Penyebab kedua adalah perkataan lagwu (sia-sia, tidak bermanfaat) dan rofats (kata-kata kotor atau porno). Ustadz Aip mengutip hadits riwayat Ibnu Majah:

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الْأَكْلِ وَالشَّرَبِ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ، إِنِّي صَائِمٌ

“Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu dan rofats. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, ‘Aku sedang puasa, aku sedang puasa’.” (HR. Ibnu Majah, dishahihkan Al-Albani)

“Hadits ini mengajarkan kita bahwa esensi puasa adalah menahan diri dari perkataan yang tidak bermanfaat dan kotor. Bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Jika ada orang yang mengganggu, cukup jawab dengan ‘Inni sha’im, aku sedang puasa’. Itu akan mengingatkan kita dan orang lain,” papar Ustadz Aip.


Penyebab Ketiga: Melakukan Berbagai Macam Maksiat

Penyebab ketiga adalah masih melakukan berbagai macam maksiat selama berpuasa. Ustadz Aip mengingatkan bahwa orang yang masih gemar melakukan maksiat di bulan Ramadhan, seperti berkata dusta, memfitnah, menggunjing, dan bentuk maksiat lainnya yang bukan pembatal puasa, maka puasanya tetap sah secara hukum, tetapi ia tidak mendapatkan ganjaran yang sempurna di sisi Allah.

“Ingatlah bahwa puasa bukanlah hanya menahan lapar dan dahaga saja, namun hendaknya seorang yang berpuasa juga menjauhi perbuatan yang haram. Puasa yang berkualitas adalah puasa yang mampu mencegah pelakunya dari perbuatan dosa,” tegas Ustadz Aip.

Beliau mengutip firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

“Tujuan puasa adalah mencapai takwa. Takwa berarti menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Jika puasa tidak mencegah kita dari maksiat, maka di mana letak takwanya?” tanya Ustadz Aip retoris.


Ramadhan di Pertengahan: Saatnya Evaluasi Diri

Memasuki malam ketujuh, Ustadz Aip mengajak jamaah untuk melakukan evaluasi diri. “Kita sudah memasuki sepertiga pertama Ramadhan. Mari kita evaluasi, sudahkah puasa kita berkualitas? Sudahkah kita meninggalkan dusta, perkataan sia-sia, dan berbagai maksiat? Ataukah kita masih bergelimang dosa namun tetap berpuasa?”

Beliau mengingatkan bahwa Ramadhan adalah kesempatan emas yang tidak boleh disia-siakan. “Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang merugi di bulan Ramadhan. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam sampai mengucapkan ‘Aamiin’ tiga kali ketika Jibril mendoakan celaka orang yang mendapati Ramadhan tetapi tidak diampuni dosanya.”

Dalam hadits riwayat Ibnu Khuzaimah, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ

“Celakalah seseorang yang memasuki bulan Ramadhan, kemudian Ramadhan berlalu sebelum dosanya diampuni.” (HR. Tirmidzi)


Penutup: Memohon Ampunan dan Keberkahan

Menutup kultum, Ustadz Aip Syarifudin mengajak jamaah untuk memperbanyak istigfar dan memohon ampunan kepada Allah.

“Mari kita jaga lisan kita dari dusta, jaga perkataan kita dari hal-hal sia-sia, jauhi segala maksiat. Perbanyak istigfar, perbanyak sedekah, perbanyak membaca Al-Qur’an. Semoga Allah menerima puasa kita, mengampuni dosa kita, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang bertakwa. Aamiin,” pungkasnya.

Salat Tarawih malam ketujuh berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Jamaah yang hadir tampak merenung dan terharu setelah mendapatkan pencerahan tentang pentingnya menjaga kualitas puasa, tidak hanya sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjaga lisan dan seluruh anggota tubuh dari perbuatan dosa.

Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 tanggapan untuk “Tarawih Malam Ketujuh di Masjid Santun: Ustadz Aip Syarifudin Ingatkan agar Puasa Tidak Hanya Mendapat Lapar dan Dahaga”

  1. Avatar Erli
    Erli

    Terimakasih ustadz Aip, kader Muhammadiyah kota Cirebon.
    Semoga Allah SAW menjaga keistiqomahan ibadah selama Ramadhan.

  2. Avatar Yandi Heryandi
    Yandi Heryandi

    Puasa tidak hanya menahan untuk tidak makan dan minum di siang hari, tapi menahan segala hawa nafsu dari maksiat kepada Allah

  3. Avatar Uung Qurochtul'ain
    Uung Qurochtul’ain

    Semoga di bulan Ramadhan ini kita mendapatkan Maghfiroh nya serta dapat meraih taqwa, aamiin