Memaknai Zaman Penuh Fitnah, Ustadz Drs. Somantri Perbangkara, M.Pd. Ingatkan Lima Sikap Umat Islam di Masjid Kampus 1 UMADA

CIREBON, 10 April 2026. – Suasana khidmat menyelimuti pelaksanaan salat Jumat di Masjid Kampus 1 Universitas Muhammadiyah Ahmad Dahlan (UMADA), (10/4/2026). Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Ustadz Drs. Somantri Perbangkara, M.Pd., menyampaikan khutbah dengan tema mendalam: “Memaknai Kondisi Zaman Saat Ini”.

Mengawali khutbah pertama, Ustadz Somantri membacakan Khutbatul Hajah secara lengkap,

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

Artinya: “Sesungguhnya segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya… (hingga akhir khutbatul hajah).”

Setelah itu, beliau menyampaikan wasiat takwa kepada diri sendiri dan seluruh jemaah.

“Saya berwasiat kepada diri saya dan kepada jamaah sekalian, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ dengan sebenar-benar takwa, yaitu menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.”

Zaman Penuh Ujian, Bukan untuk Dinikmati Saja

Dalam khutbahnya, Ustadz Somantri mengingatkan bahwa umat Islam saat ini hidup di zaman yang penuh perubahan cepat. Teknologi berkembang pesat, informasi menyebar tanpa batas, namun di sisi lain terjadi krisis moral, lemahnya kejujuran, dan menurunnya kepedulian sosial.

Beliau membacakan firman Allah dalam QS. Al-‘Ankabut: 2,

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

Artinya: “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan ‘kami beriman’, dan mereka tidak diuji?” (QS. Al-‘Ankabut: 2)

“Ayat ini menegaskan bahwa zaman yang kita hadapi adalah zaman ujian. Ujian bukan hanya dalam kesulitan, tetapi juga dalam kemudahan, teknologi, dan kenikmatan dunia,” ujar Ustadz Somantri.

Hadis tentang Tahun-Tahun Penipuan

Beliau juga mengutip sabda Rasulullah ﷺ,

سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ

Artinya: “Akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh penipuan.” (HR. Ahmad)

“Kita melihat hari ini: kebenaran sering diputarbalikkan, informasi tidak selalu bisa dipercaya, kejujuran menjadi barang langka. Inilah yang disebut sebagai fitnah zaman,” jelasnya.

Kerusakan Akhlak sebagai Bukti Nyata

Ustadz Somantri kembali mengutip Al-Qur’an, QS. Ar-Rum: 41,

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ

Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia…” (QS. Ar-Rum: 41)

Beliau menjelaskan bahwa kerusakan ini bukan hanya fisik, tetapi juga rusaknya akhlak, hilangnya rasa malu, serta pudarnya nilai kebenaran.

Era Informasi Tanpa Tabayyun

Menyoroti kondisi zaman yang ditandai melimpahnya informasi namun sedikit hikmah, khatib mengingatkan firman Allah dalam QS. Al-Hujurat: 6,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا

Artinya: “Jika datang kepada kalian orang fasik membawa berita, maka periksalah (tabayyun)…” (QS. Al-Hujurat: 6)

“Namun yang terjadi hari ini: banyak orang menyebarkan berita tanpa tabayyun, hoaks menyebar lebih cepat dari kebenaran, lisan dan jari menjadi sumber dosa,” tegasnya.

Menggenggam Bara Api

Ustadz Somantri kemudian membacakan hadis Rasulullah ﷺ,

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ، الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ

Artinya: “Akan datang suatu zaman, orang yang berpegang pada agamanya seperti menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi)

“Menjadi baik terasa berat, istikamah penuh tantangan, kebaikan kadang dianggap aneh. Namun justru di situlah nilai kemuliaan seorang mukmin,” pesan beliau.

Lima Sikap Menghadapi Zaman

Di akhir khutbah, Ustadz Drs. Somantri Perbangkara, M.Pd., menyampaikan lima langkah konkret bagi umat Islam dalam menghadapi kondisi zaman saat ini:

  1. Menguatkan iman – Mendekatkan diri kepada Al-Qur’an dan sunnah.
  2. Menjaga akhlak – Menjadi pribadi yang jujur, amanah, dan berintegritas.
  3. Bijak dalam informasi – Melakukan tabayyun sebelum menyebarkan berita.
  4. Menumbuhkan kepedulian sosial – Tidak menjadi pribadi yang individualis.
  5. Istiqamah dalam kebaikan – Meskipun sulit, tetaplah berada di jalan Allah.

Jemaah tampak khusyuk dan merenung. Usai salat, banyak jemaah yang mengaku mendapatkan pencerahan baru tentang bagaimana menyikapi tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam.

Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *