HAKIKAT MANUSIA DALAM PANDANGAN ISLAM

Avatar Arofah Firdaus

|

6 menit

|

📋

Dibaca: 634 x

(Kajian Filosofis Berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits untuk Mata Kuliah AIK1)

Abstrak
Manusia merupakan makhluk paling sempurna yang diciptakan Allah SWT. Namun, kesempurnaan ini sering disalahartikan sebagai kebebasan mutlak tanpa batasan. Dalam pandangan Islam, hakikat manusia tidak hanya dipandang dari aspek biologis, tetapi juga aspek spiritual dan moral. Artikel ini mengkaji tiga hal pokok: (a) hakikat manusia; (b) asal-usul kejadian manusia; dan (c) potensi manusia. Kajian ini merupakan bagian dari materi AIK1 di Universitas Muhammadiyah Cirebon, yang bertujuan membangun fondasi pemahaman Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Kata Kunci: Hakikat manusia, asal-usul manusia, potensi manusia, AIK1, Universitas Muhammadiyah Cirebon.


PENDAHULUAN

Mata kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan 1 (AIK1) merupakan mata kuliah wajib di seluruh Perguruan Tinggi Muhammadiyah, termasuk Universitas Muhammadiyah Cirebon. Salah satu tema sentral dalam AIK1 adalah pembahasan tentang manusia. Mengapa manusia perlu dikaji? Karena manusia adalah subjek sekaligus objek pendidikan, dakwah, dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Tanpa memahami hakikat dirinya, manusia akan mudah terperangkap dalam gaya hidup materialistis, sekuler, atau bahkan nihilistik. Oleh karena itu, Islam menawarkan konsep yang komprehensif tentang siapa sebenarnya manusia, dari mana asalnya, dan potensi apa yang ia miliki.


A. KAJIAN TENTANG HAKIKAT MANUSIA

Dalam pandangan Islam, hakikat manusia tidak sekadar homo sapiens (makhluk berpikir) atau zoon politicon (makhluk bermasyarakat). Lebih dari itu, manusia adalah ‘abdullah (hamba Allah) dan khalifah fil ardh (pemimpin di bumi).

Allah SWT berfirman dalam QS. at-Tiin (95): 4:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

Laqad khalaqnal-insāna fī aḥsani taqwīm.
Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. at-Tiin: 4)

Ayat ini menegaskan bahwa manusia diciptakan dalam ahsani taqwim — sebaik-baik bentuk, baik secara fisik, intelektual, maupun spiritual. Inilah yang membedakan manusia dari makhluk lain. Hakikat manusia bukanlah kebetulan evolusioner, melainkan kehendak langsung Sang Pencipta.

Rasulullah SAW juga bersabda:

إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ آدَمَ عَلَى صُورَتِهِ

Innallāha khalaqa Ādama ‘alā ṣūratihī.
Artinya: “Sesungguhnya Allah menciptakan Adam sesuai dengan sifat-sifat-Nya (yang layak bagi-Nya).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini tidak berarti menyamakan manusia dengan Allah secara fisik, melainkan bahwa manusia diberi potensi untuk memiliki sifat-sifat mulia milik Allah seperti Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Adil, dan Maha Bijaksana secara terbatas.

Dengan demikian, hakikat manusia dalam Islam bersifat dualistik namun integral: jasmani dan rohani, hamba dan khalifah, individu dan sosial.


B. ASAL-USUL KEJADIAN MANUSIA

Al-Qur’an menjelaskan secara bertahap asal-usul kejadian manusia. Ada dua tahap besar: penciptaan manusia pertama (Nabi Adam) dan proses reproduksi manusia selanjutnya.

1. Penciptaan Adam dari Tanah

Allah berfirman dalam QS. as-Sajdah (32): 7-8:

الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ ۖ وَبَدَأَ خَلْقَ الْإِنْسَانِ مِنْ طِينٍ ﴿٧﴾ ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ

Allażī aḥsana kulla syai’in khalaqah, wa bada’a khalqal-insāni min ṭīn (7). Ṡumma ja’ala naslahū min sulālatin min mā’in mahīn (8).
Artinya: “(7) Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya; dan Dia memulai penciptaan manusia dari tanah. (8) Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari sari pati air yang hina (air mani).” (QS. as-Sajdah: 7-8)

Ayat ini menegaskan bahwa asal-usul manusia bukan dari kera, melainkan dari ṭīn (tanah). Ini menunjukkan nilai egaliter manusia: semua berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah.

2. Tahapan Penciptaan Janin

Proses reproduksi manusia dijelaskan secara rinci dalam QS. al-Mu’minun (23): 14:

ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

Ṡumma khalaqnan-nuṭfata ‘alaqatan fa khalaqnal-‘alaqata muḍgatan fa khalaqnal-muḍgata ‘iẓāman fa kasawnal-‘iẓāma laḥman ṡumma ansya’nāhu khalqan ākhar, fatabārakallāhu aḥsanul-khāliqīn.
Artinya: “Kemudian Kami menjadikan air mani itu segumpal darah, lalu segumpal darah itu menjadi segumpal daging, lalu segumpal daging itu menjadi tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (QS. al-Mu’minun: 14)

Ayat ini menunjukkan bahwa embriologi modern baru ditemukan beberapa abad kemudian, sementara Al-Qur’an telah menyebutkannya sejak 14 abad lalu. Ini membuktikan keilmiahan wahyu sekaligus mengajarkan manusia untuk merenungkan proses penciptaannya.

Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ

Inna aḥadakum yujma’u khalquhū fī baṭni ummihī arba‘īna yauman nuṭfatan, ṡumma yakūnu ‘alaqatan miṡla żālika, ṡumma yakūnu muḍgatan miṡla żālika.
Artinya: “Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama 40 hari sebagai nutfah, kemudian menjadi ‘alaqah (segumpal darah) selama itu pula, kemudian menjadi muḍgah (segumpal daging) selama itu pula.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini semakin memperkuat deskripsi Al-Qur’an tentang tahapan kejadian manusia.


C. POTENSI MANUSIA

Islam mengajarkan bahwa manusia diberi potensi luar biasa oleh Allah. Potensi ini dapat dibagi menjadi tiga:

1. Potensi Fisik (Jasadiyah)

Manusia diberi tubuh yang sempurna: tangan untuk bekerja, kaki untuk berjalan, otak untuk berpikir. Potensi fisik harus dijaga, dikembangkan, dan digunakan di jalan kebaikan.

2. Potensi Akal (Aqliyah)

Akal membedakan manusia dari hewan. Dengan akal, manusia bisa menciptakan teknologi, sains, dan peradaban. Namun, akal tanpa petunjuk wahyu akan tersesat. Allah berfirman:

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Wallāhu akhrajakum min buṭūni ummahātikum lā ta‘lamūna syai’an wa ja‘ala lakumus-sam‘a wal-abṣāra wal-af’idah la‘allakum tasykurūn.
Artinya: “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur.” (QS. an-Nahl: 78)

3. Potensi Spiritual (Ruhiyah)

Potensi inilah yang paling mulia. Dengan ruh, manusia bisa mengenal Allah, beribadah, dan merasakan ketenangan. Tanpa potensi spiritual, manusia menjadi robot materialistis. Rasulullah SAW bersabda:

أَلاَ وَإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ القَلْبُ

Alā wa inna fīl-jasadi muḍgatan, iżā ṣalaḥat ṣalaḥal-jasadu kulluh, wa iżā fasadat fasadal-jasadu kulluh, alā wa hiyal-qalb.
Artinya: “Ingatlah, di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Jika ia baik, baik pula seluruh tubuh. Jika ia rusak, rusak pula seluruh tubuh. Ingatlah, ia adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Potensi hati inilah yang harus dilatih melalui keimanan dan ketakwaan.


IMPLIKASI DALAM KEHIDUPAN MAHASISWA

Pemahaman tentang hakikat manusia di Universitas Muhammadiyah Cirebon memiliki implikasi praktis:

  1. Menumbuhkan rasa syukur atas nikmat fisik, akal, dan ruh.
  2. Menghindari kesombongan karena manusia berasal dari tanah.
  3. Mengembangkan potensi secara seimbang (intelektual, spiritual, sosial).
  4. Menjadi khalifah yang amanah di kampus, keluarga, dan masyarakat.
  5. Memahami bahwa tujuan hidup bukan sekadar sukses duniawi, tetapi ridha Allah.

PENUTUP

Hakikat manusia dalam pandangan Islam adalah makhluk ciptaan Allah yang paling mulia, berasal dari tanah dan proses biologis yang bertahap, serta diberi potensi fisik, akal, dan spiritual. Potensi ini harus diaktualisasikan dalam kerangka ‘ubudiyah dan khilafah. Mata kuliah AIK1 di Universitas Muhammadiyah Cirebon menjadi wadah strategis untuk menanamkan pemahaman ini sejak dini, sehingga lahir generasi yang berkemajuan dan berakhlak mulia.

Wallahu a’lam biṣ-ṣawāb.


Daftar Pustaka

Al-Qur’an al-Karim dan Terjemahannya. (2019). Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.

Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari.

Muslim bin al-Hajjaj. Shahih Muslim.

Tim Dosen AIK Universitas Muhammadiyah Cirebon. (2023). Buku Ajar AIK1: Pengantar Studi Islam. Cirebon: UM Cirebon Press.

Shihab, M. Quraish. (2013). Tafsir al-Misbah. Jakarta: Lentera Hati.



Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

73 responses to “HAKIKAT MANUSIA DALAM PANDANGAN ISLAM”

  1. Avatar Keysha Dwi Agis
    Keysha Dwi Agis

    Artikel ini berhasil menggambarkan manusia sebagai makhluk yang memiliki keseimbangan antara jasmani dan rohani, serta memiliki peran penting sebagai hamba Allah dan khalifah di bumi. Penjelasan yang disampaikan juga membantu pembaca untuk memahami tujuan hidup manusia, yaitu beribadah kepada Allah dan menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab. Selain itu, pembahasan mengenai potensi akal, hati, dan fitrah manusia memberikan wawasan bahwa setiap individu memiliki peluang untuk berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Secara keseluruhan, artikel ini sangat bermanfaat karena mampu menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjalani kehidupan sesuai dengan nilai-nilai Islam dan mendorong pembaca untuk lebih memahami jati diri serta tujuan hidupnya.

  2. Avatar Nova Meilynda
    Nova Meilynda

    masyaAllah tabarakallah, Hakikat manusia dalam pandangan Islam adalah makhluk ciptaan Allah yang paling mulia, berasal dari tanah dan proses biologis yang bertahap, serta diberi potensi fisik, akal, dan spiritual. Potensi ini harus diaktualisasikan dalam kerangka ‘ubudiyah dan khilafah.

  3. Avatar Nova Meilynda
    Nova Meilynda

    Hakikat manusia dalam pandangan Islam adalah makhluk ciptaan Allah yang paling mulia, berasal dari tanah dan proses biologis yang bertahap, serta diberi potensi fisik, akal, dan spiritual. Potensi ini harus diaktualisasikan dalam kerangka ‘ubudiyah dan khilafah.

  4. Avatar Muhamad Adibrata
    Muhamad Adibrata

    Menurut saya, materi tentang hakikat manusia dalam pandangan Islam ini sangat penting karena memberikan pemahaman mendasar tentang siapa manusia sebenarnya dan apa tujuan hidupnya. Konsep ini tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga sangat relevan dalam kehidupan sehari-hari.
    Nilai yang paling menarik adalah keseimbangan antara unsur jasmani dan rohani. Dalam kehidupan modern saat ini, banyak orang lebih fokus pada aspek materi dan melupakan kebutuhan spiritual. Padahal, Islam menekankan bahwa keduanya harus berjalan seimbang agar manusia dapat mencapai kebahagiaan yang hakiki.

  5. Avatar Salsabila Nadia
    Salsabila Nadia

    Menurut saya, artikel ini menjelaskan hakikat manusia dalam Islam dengan cukup jelas dan mudah dipahami. Penjelasannya menekankan bahwa manusia memiliki peran penting sebagai hamba dan juga khalifah di bumi. Selain itu, artikel ini juga mengingatkan bahwa manusia punya tanggung jawab moral dalam menjalani kehidupan. Saya merasa isi artikel ini relevan dengan kondisi saat ini, terutama dalam membentuk kesadaran diri. Secara keseluruhan, artikel ini memberikan pemahaman yang bermanfaat untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

  6. Avatar Ananda Felisa
    Ananda Felisa

    Menurut saya, materi ini sebenarnya adalah sebuah “tamparan” sekaligus pengingat yang sangat halus buat kita semua. Di zaman sekarang, kita sering kali terlalu sibuk mengejar karier, validasi di media sosial, atau menumpuk harta sampai lupa sebenarnya “kita ini siapa” dan “mau ke mana”.

  7. Avatar Rizki Maulidan
    Rizki Maulidan

    Artikel ini menegaskan bahwa dalam Islam, manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang memiliki dua peran utama, yaitu sebagai hamba (abd) dan khalifah di bumi. Manusia dibekali akal, hati, dan nafsu untuk menjalankan tanggung jawabnya. Oleh karena itu, manusia dituntut untuk menjaga keseimbangan antara ibadah kepada Allah dan tanggung jawab sosial agar hidupnya bermakna dan terarah.

  8. Avatar Alisya Reva Septiani
    Alisya Reva Septiani

    Artikel ini sangat baik karena mampu menggabungkan aspek keilmuan dan keimanan secara seimbang dalam membahas hakikat manusia. Penjelasannya runtut dan mudah dipahami, sehingga cocok untuk kalangan mahasiswa. Penguatan dengan ayat Al-Qur’an dan hadits membuat isi tulisan lebih meyakinkan dan bernilai religius. Selain itu, pembahasan tentang potensi manusia memberikan motivasi untuk terus mengembangkan diri. Secara keseluruhan, artikel ini memberikan wawasan yang mendalam sekaligus inspirasi untuk menjadi manusia yang lebih baik.

  9. Avatar aliyah naila
    aliyah naila

    Artikel tersebut menjelaskan bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang memiliki jasmani dan rohani. Manusia juga diberi akal untuk membedakan baik dan buruk. Dalam Islam, manusia berperan sebagai hamba Allah dan khalifah di bumi. Karena itu, manusia harus menjalani kehidupan sesuai ajaran Islam. Tujuannya agar memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat. Artikel ini sangat bermanfaat, terimakasih bapak.

  10. Avatar Nurul Maftukha
    Nurul Maftukha

    Terimakasih atas materinya, penjelasannya sangat mudah di pahami sehingga pembaca menjadi lebih paham mengenai materi hakikat manusia dalam pandangan Islam
    Hakikat manusia dalam pandangan Islam adalah makhluk ciptaan Allah yang paling mulia, berasal dari tanah dan proses biologis yang bertahap, serta diberi potensi fisik, akal, dan spiritual.