CIREBON, 24 April 2026 — Suasana khidmat menyelimuti Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon pada pelaksanaan salat Jumat, 24 April 2026. Jamaah yang memenuhi lantai masjid tampak khusyuk mengikuti rangkaian ibadah dari awal hingga akhir. Bertindak sebagai imam sekaligus khatib dalam kesempatan tersebut adalah Ustadz Assoc. Prof. Dr. Arief Hidayat Afendi, S.H.I., M.Ag.
Dalam khutbahnya, Ustadz Arief Hidayat mengangkat tema mendalam tentang hakikat beribadah sebagai kebutuhan hamba untuk bertaqorub (mendekatkan diri) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Beliau menekankan bahwa ibadah bukanlah beban, melainkan kebutuhan ruhani manusia untuk meraih ketenangan dan kedekatan dengan Sang Pencipta.

Ibadah atas Dasar Kebutuhan dan Taqorub
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam surah Adz-Dzariyat ayat 56:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Wa mā khalaqtul-jinna wal-insa illā liya‘budūn.
Artinya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”
Ustadz Arief menjelaskan, “Ayat ini menunjukkan bahwa ibadah adalah tujuan penciptaan kita. Namun, jangan pernah merasa bahwa Allah butuh ibadah kita. Justru kitalah yang butuh. Ibadah adalah media kita bertaqorub, mendekatkan diri kepada Allah. Semakin dekat kita kepada-Nya, semakin bahagia hidup kita.”
Beliau kemudian melantunkan sholawat kepada pimpinan umat akhir zaman, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
Allāhumma shalli ‘alā Muḥammadin wa ‘alā āli Muḥammad, kamā shallayta ‘alā Ibrāhīma wa ‘alā āli Ibrāhīma, innaka ḥamīdun majīd.
Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah limpahkan rahmat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.”

Kehati-hatian dalam Menghadapi Perkara Syubhat
Memasuki inti khutbah kedua, khatib mengingatkan tentang pentingnya menjaga kehati-hatian dalam perkara syubhat (samar-samar antara halal dan haram). Beliau mengutip makna sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:
“Tidaklah seseorang dimasukkan ke dalam golongan orang-orang bertakwa, yaitu orang yang berhati-hati.”
Ustadz Arief menegaskan bahwa salah satu ciri utama orang bertakwa adalah meninggalkan perkara syubhat. “Ketika kita sudah meninggalkan syubhat, ada dua hal yang kita peroleh: menjaga kesucian iman kita dan menjaga kesucian agama kita,” jelasnya.
Beliau kemudian menyampaikan hadis dari Hikmat bin Basir, bahwa Rasulullah bersabda:
إِنَّ الْحَلَالَ بَيِّنٌ، وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا أُمُورٌ مُشْتَبِهَاتٌ لَا يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ
Innal-ḥalāla bayyinun, wa innal-ḥarāma bayyinun, wa baynahumā umūrun musytabihātun lā ya‘lamuhunna kathīrun minan-nās.
Artinya: “Sesungguhnya yang halal itu jelas, dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya terdapat hal-hal yang syubhat (samar) yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Cara Mengetahui Kebaikan: Bertanya pada Hati
Menutup khutbahnya, Ustadz Arief memberikan panduan praktis untuk mengetahui keyakinan akan kebaikan bagi diri sendiri, keluarga, dan orang lain.
“Caranya mudah. Mintalah fatwa pada hatimu. Jika hatimu resah dan gelisah, maka di situ ada keraguan. Jika hatimu tenang dan lapang, maka di situ ada keberkahan,” pesannya.
Beliau mengingatkan bahwa hati yang bersih akan peka membedakan mana yang membawa kebaikan dan mana yang membawa keburukan, selama terus diasah dengan keimanan dan ketakwaan.
Salat Jumat pun ditutup dengan doa dipimpin oleh Ustadz Arief Hidayat. Jamaah tampak haru dan bersemangat membawa pulang pesan-pesan luhur tentang ibadah, kecintaan kepada Nabi, serta kehati-hatian dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Redaktur: Tim Liputan Masjid Santun Muhammadiyah


Tinggalkan Balasan