Mata Kuliah: Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK 1)
Universitas Muhammadiyah Cirebon
Abstrak
Syari’at Islam sering disalahpahami sebagai himpunan aturan kaku yang membatasi kebebasan. Padahal, hakikat syari’at adalah jalan terang yang ditetapkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk membimbing hamba-Nya mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Artikel ini membahas pengertian syari’at Islam, rukun Islam sebagai fondasi utama, serta peran taqwa dalam membentuk kepribadian muslim yang paripurna. Pendekatan yang digunakan adalah normatif-teologis dengan merujuk pada Al-Qur’an dan hadits.
Kata Kunci: Syari’at, Rukun Islam, Taqwa, Menghamba kepada Allah, AIK 1
A. Pendahuluan
Segala puji bagi Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah menurunkan syari’at sebagai petunjuk bagi umat manusia. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam, sang pembawa risalah sempurna. Manusia diciptakan oleh Allah tidak lain untuk beribadah dan menghamba kepada-Nya. Namun, bagaimana cara menghamba yang benar? Inilah fungsi syari’at Islam: menjadi jalan (al-thariq) yang terang dan lurus menuju keridaan Ilahi.
Dalam konteks perkuliahan AIK 1 di Universitas Muhammadiyah Cirebon, pemahaman tentang syari’at tidak boleh parsial. Mahasiswa sebagai kader persyarikatan harus memahami bahwa syari’at bukan sekadar ritual, melainkan sistem hidup yang mengantarkan pada ketakwaan sejati.
B. Pengertian Syari’at Islam
Secara etimologi, kata syari’at (الشريعة) berasal dari akar kata syara’a yang berarti “jalan yang jelas menuju sumber air”. Masyarakat Arab kuno menggunakan istilah ini untuk menggambarkan jalur yang menuju ke mata air, tempat vital bagi kehidupan. Secara terminologi, syari’at Islam adalah seperangkat aturan hukum ilahi yang diturunkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam untuk mengatur hubungan manusia dengan Tuhan (habl min Allah) dan hubungan antarmanusia (habl min al-nās).
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٍ مِنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
“Kemudian Kami jadikan engkau (Muhammad) berada di atas suatu syari’at (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah itu dan janganlah engkau ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.”
(QS. Al-Jatsiyah [45]: 18)
Ayat ini menegaskan bahwa syari’at bukanlah pilihan, melainkan keharusan bagi orang beriman. Namun, syari’at bukan tujuan akhir, melainkan sarana untuk mencapai derajat tertinggi, yakni taqwa.
C. Rukun Islam: Fondasi Syari’at dalam Menghamba
Rukun Islam adalah lima pilar yang menjadi struktur dasar syari’at. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَحَجِّ الْبَيْتِ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ
Dari Abu ‘Abdurrahman ‘Abdullah bin ‘Umar bin al-Khatthab radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Islam dibangun di atas lima perkara: (1) persaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, (2) menegakkan shalat, (3) menunaikan zakat, (4) haji ke Baitullah, dan (5) puasa Ramadhan.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Kelima rukun ini adalah perwujudan nyata dari penghambaan diri (‘ubudiyah). Sebagai contoh, kita pilih Shalat sebagai salah satu rukun Islam yang paling kuat menggambarkan proses menghamba.
Dalil Al-Qur’an tentang Shalat
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.”
(QS. Thaha [20]: 14)
Tafsir ayat ini menunjukkan bahwa shalat adalah puncak komunikasi hamba dengan Khaliknya. Dalam shalat, seorang muslim melepaskan ego, ketergantungan pada dunia, dan berdiri dengan penuh kerendahan di hadapan Allah. Itulah hakikat menghamba.
D. Taqwa dan Pengaruhnya dalam Kehidupan
Taqwa (التقوى) secara bahasa berarti “menjaga” atau “melindungi diri”. Secara istilah, taqwa adalah melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya dengan penuh kesadaran dan keikhlasan. Taqwa merupakan buah dari pengamalan syari’at secara konsisten.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 183)
Puasa (salah satu rukun Islam) dilatihkan bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi untuk melahirkan taqwa. Demikian pula zakat membersihkan harta dan jiwa dari cinta dunia, haji mengajarkan kesabaran dan ketundukan total, serta shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.
Pengaruh Taqwa dalam Kehidupan Sehari-hari:
- Ketenangan Jiwa
Orang bertakwa tidak mudah cemas karena ia yakin Allah selalu bersamanya.
(QS. Al-A’raf: 96 – “Sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan membuka berkah dari langit dan bumi”) - Kemudahan dalam Setiap Urusan
Allah menjanjikan jalan keluar dari kesulitan bagi yang bertakwa.
(QS. Ath-Thalaq: 2-3 – “Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka”) - Kepekaan Sosial dan Moral
Taqwa mendorong seseorang untuk jujur dalam bisnis, adil dalam memimpin, dan peduli terhadap fakir miskin. Ini sejalan dengan misi Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang berkemajuan. - Kesuksesan Hakiki (Al-Falah)
Individu dan masyarakat yang bertakwa akan memperoleh kebahagiaan dunia-akhirat.
E. Kontekstualisasi bagi Mahasiswa Muhammadiyah Cirebon
Sebagai mahasiswa AIK 1 di Universitas Muhammadiyah Cirebon, pemahaman bahwa syari’at adalah “jalan menghamba” harus menjadi paradigma hidup. Bukan sekadar teori di ruang kelas, tetapi praktik nyata:
- Shalat tepat waktu menunjukkan disiplin dan pengakuan bahwa ada Yang Lebih Agung dari tugas kuliah dan aktivitas dunia.
- Puasa dan zakat membentuk kepedulian sosial, selaras dengan slogan “Muhammadiyah Rahmatan lil ‘Alamin”.
- Haji (bagi yang mampu) adalah latihan puncak kesetaraan dan kepasrahan kepada Allah.
Dengan demikian, syari’at tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan sebagai jalan penuh cahaya menuju kedekatan dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
F. Kesimpulan
Syari’at Islam adalah jalan lurus yang ditetapkan Allah untuk mengatur kehidupan manusia dalam beribadah kepada-Nya. Rukun Islam yang lima, terutama shalat, merupakan manifestasi konkret dari penghambaan tersebut. Tujuan akhir dari seluruh syari’at adalah melahirkan taqwa, yang berpengaruh besar terhadap ketenangan jiwa, kemudahan hidup, kepekaan sosial, dan kesuksesan hakiki. Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Cirebon diharapkan mampu menginternalisasi nilai-nilai ini sehingga menjadi kader persyarikatan yang beramal saleh dan berakhlak mulia.
Wallahu a’lam bi al-shawab.
Daftar Pustaka
- Al-Qur’an al-Karim dan Terjemahnya. (2019). Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, Kemenag RI.
- Al-Bukhari, Muhammad bin Isma’il. Shahih al-Bukhari. Bab al-Iman.
- Muslim bin al-Hajjaj. Shahih Muslim. Bab al-Iman.
- Tim Dosen AIK UMY. (2020). Pendidikan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Yogyakarta: LP3M UMY.
- Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah. (2015). Tafsir Tematik: Ibadah, Muamalah, dan Akhlak. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.


Tinggalkan Balasan