HAKIKAT MANUSIA DALAM PANDANGAN ISLAM

(Kajian Filosofis Berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits untuk Mata Kuliah AIK1)

Abstrak
Manusia merupakan makhluk paling sempurna yang diciptakan Allah SWT. Namun, kesempurnaan ini sering disalahartikan sebagai kebebasan mutlak tanpa batasan. Dalam pandangan Islam, hakikat manusia tidak hanya dipandang dari aspek biologis, tetapi juga aspek spiritual dan moral. Artikel ini mengkaji tiga hal pokok: (a) hakikat manusia; (b) asal-usul kejadian manusia; dan (c) potensi manusia. Kajian ini merupakan bagian dari materi AIK1 di Universitas Muhammadiyah Cirebon, yang bertujuan membangun fondasi pemahaman Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Kata Kunci: Hakikat manusia, asal-usul manusia, potensi manusia, AIK1, Universitas Muhammadiyah Cirebon.


PENDAHULUAN

Mata kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan 1 (AIK1) merupakan mata kuliah wajib di seluruh Perguruan Tinggi Muhammadiyah, termasuk Universitas Muhammadiyah Cirebon. Salah satu tema sentral dalam AIK1 adalah pembahasan tentang manusia. Mengapa manusia perlu dikaji? Karena manusia adalah subjek sekaligus objek pendidikan, dakwah, dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Tanpa memahami hakikat dirinya, manusia akan mudah terperangkap dalam gaya hidup materialistis, sekuler, atau bahkan nihilistik. Oleh karena itu, Islam menawarkan konsep yang komprehensif tentang siapa sebenarnya manusia, dari mana asalnya, dan potensi apa yang ia miliki.


A. KAJIAN TENTANG HAKIKAT MANUSIA

Dalam pandangan Islam, hakikat manusia tidak sekadar homo sapiens (makhluk berpikir) atau zoon politicon (makhluk bermasyarakat). Lebih dari itu, manusia adalah ‘abdullah (hamba Allah) dan khalifah fil ardh (pemimpin di bumi).

Allah SWT berfirman dalam QS. at-Tiin (95): 4:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

Laqad khalaqnal-insāna fī aḥsani taqwīm.
Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. at-Tiin: 4)

Ayat ini menegaskan bahwa manusia diciptakan dalam ahsani taqwim — sebaik-baik bentuk, baik secara fisik, intelektual, maupun spiritual. Inilah yang membedakan manusia dari makhluk lain. Hakikat manusia bukanlah kebetulan evolusioner, melainkan kehendak langsung Sang Pencipta.

Rasulullah SAW juga bersabda:

إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ آدَمَ عَلَى صُورَتِهِ

Innallāha khalaqa Ādama ‘alā ṣūratihī.
Artinya: “Sesungguhnya Allah menciptakan Adam sesuai dengan sifat-sifat-Nya (yang layak bagi-Nya).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini tidak berarti menyamakan manusia dengan Allah secara fisik, melainkan bahwa manusia diberi potensi untuk memiliki sifat-sifat mulia milik Allah seperti Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Adil, dan Maha Bijaksana secara terbatas.

Dengan demikian, hakikat manusia dalam Islam bersifat dualistik namun integral: jasmani dan rohani, hamba dan khalifah, individu dan sosial.


B. ASAL-USUL KEJADIAN MANUSIA

Al-Qur’an menjelaskan secara bertahap asal-usul kejadian manusia. Ada dua tahap besar: penciptaan manusia pertama (Nabi Adam) dan proses reproduksi manusia selanjutnya.

1. Penciptaan Adam dari Tanah

Allah berfirman dalam QS. as-Sajdah (32): 7-8:

الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ ۖ وَبَدَأَ خَلْقَ الْإِنْسَانِ مِنْ طِينٍ ﴿٧﴾ ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ

Allażī aḥsana kulla syai’in khalaqah, wa bada’a khalqal-insāni min ṭīn (7). Ṡumma ja’ala naslahū min sulālatin min mā’in mahīn (8).
Artinya: “(7) Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya; dan Dia memulai penciptaan manusia dari tanah. (8) Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari sari pati air yang hina (air mani).” (QS. as-Sajdah: 7-8)

Ayat ini menegaskan bahwa asal-usul manusia bukan dari kera, melainkan dari ṭīn (tanah). Ini menunjukkan nilai egaliter manusia: semua berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah.

2. Tahapan Penciptaan Janin

Proses reproduksi manusia dijelaskan secara rinci dalam QS. al-Mu’minun (23): 14:

ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ

Ṡumma khalaqnan-nuṭfata ‘alaqatan fa khalaqnal-‘alaqata muḍgatan fa khalaqnal-muḍgata ‘iẓāman fa kasawnal-‘iẓāma laḥman ṡumma ansya’nāhu khalqan ākhar, fatabārakallāhu aḥsanul-khāliqīn.
Artinya: “Kemudian Kami menjadikan air mani itu segumpal darah, lalu segumpal darah itu menjadi segumpal daging, lalu segumpal daging itu menjadi tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (QS. al-Mu’minun: 14)

Ayat ini menunjukkan bahwa embriologi modern baru ditemukan beberapa abad kemudian, sementara Al-Qur’an telah menyebutkannya sejak 14 abad lalu. Ini membuktikan keilmiahan wahyu sekaligus mengajarkan manusia untuk merenungkan proses penciptaannya.

Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ

Inna aḥadakum yujma’u khalquhū fī baṭni ummihī arba‘īna yauman nuṭfatan, ṡumma yakūnu ‘alaqatan miṡla żālika, ṡumma yakūnu muḍgatan miṡla żālika.
Artinya: “Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama 40 hari sebagai nutfah, kemudian menjadi ‘alaqah (segumpal darah) selama itu pula, kemudian menjadi muḍgah (segumpal daging) selama itu pula.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini semakin memperkuat deskripsi Al-Qur’an tentang tahapan kejadian manusia.


C. POTENSI MANUSIA

Islam mengajarkan bahwa manusia diberi potensi luar biasa oleh Allah. Potensi ini dapat dibagi menjadi tiga:

1. Potensi Fisik (Jasadiyah)

Manusia diberi tubuh yang sempurna: tangan untuk bekerja, kaki untuk berjalan, otak untuk berpikir. Potensi fisik harus dijaga, dikembangkan, dan digunakan di jalan kebaikan.

2. Potensi Akal (Aqliyah)

Akal membedakan manusia dari hewan. Dengan akal, manusia bisa menciptakan teknologi, sains, dan peradaban. Namun, akal tanpa petunjuk wahyu akan tersesat. Allah berfirman:

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Wallāhu akhrajakum min buṭūni ummahātikum lā ta‘lamūna syai’an wa ja‘ala lakumus-sam‘a wal-abṣāra wal-af’idah la‘allakum tasykurūn.
Artinya: “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur.” (QS. an-Nahl: 78)

3. Potensi Spiritual (Ruhiyah)

Potensi inilah yang paling mulia. Dengan ruh, manusia bisa mengenal Allah, beribadah, dan merasakan ketenangan. Tanpa potensi spiritual, manusia menjadi robot materialistis. Rasulullah SAW bersabda:

أَلاَ وَإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ، أَلاَ وَهِيَ القَلْبُ

Alā wa inna fīl-jasadi muḍgatan, iżā ṣalaḥat ṣalaḥal-jasadu kulluh, wa iżā fasadat fasadal-jasadu kulluh, alā wa hiyal-qalb.
Artinya: “Ingatlah, di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Jika ia baik, baik pula seluruh tubuh. Jika ia rusak, rusak pula seluruh tubuh. Ingatlah, ia adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Potensi hati inilah yang harus dilatih melalui keimanan dan ketakwaan.


IMPLIKASI DALAM KEHIDUPAN MAHASISWA

Pemahaman tentang hakikat manusia di Universitas Muhammadiyah Cirebon memiliki implikasi praktis:

  1. Menumbuhkan rasa syukur atas nikmat fisik, akal, dan ruh.
  2. Menghindari kesombongan karena manusia berasal dari tanah.
  3. Mengembangkan potensi secara seimbang (intelektual, spiritual, sosial).
  4. Menjadi khalifah yang amanah di kampus, keluarga, dan masyarakat.
  5. Memahami bahwa tujuan hidup bukan sekadar sukses duniawi, tetapi ridha Allah.

PENUTUP

Hakikat manusia dalam pandangan Islam adalah makhluk ciptaan Allah yang paling mulia, berasal dari tanah dan proses biologis yang bertahap, serta diberi potensi fisik, akal, dan spiritual. Potensi ini harus diaktualisasikan dalam kerangka ‘ubudiyah dan khilafah. Mata kuliah AIK1 di Universitas Muhammadiyah Cirebon menjadi wadah strategis untuk menanamkan pemahaman ini sejak dini, sehingga lahir generasi yang berkemajuan dan berakhlak mulia.

Wallahu a’lam biṣ-ṣawāb.


Daftar Pustaka

Al-Qur’an al-Karim dan Terjemahannya. (2019). Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.

Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari.

Muslim bin al-Hajjaj. Shahih Muslim.

Tim Dosen AIK Universitas Muhammadiyah Cirebon. (2023). Buku Ajar AIK1: Pengantar Studi Islam. Cirebon: UM Cirebon Press.

Shihab, M. Quraish. (2013). Tafsir al-Misbah. Jakarta: Lentera Hati.


Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan ke ZULFAIDA SABILAH Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

48 tanggapan untuk “HAKIKAT MANUSIA DALAM PANDANGAN ISLAM”

  1. Avatar Soka Julistiyani rahayu
    Soka Julistiyani rahayu

    Alhamdulillah, terima kasih Bapak, artikel ini sangat memberikan pemahaman tentang hakikat manusia dalam pandangan Islam. Penjelasan yang disertai dalil Al-Qur’an dan hadits membuat materi lebih jelas dan mudah dipahami. Saya jadi lebih mengerti bahwa manusia memiliki dimensi fisik, akal, dan spiritual yang harus dikembangkan secara seimbang. Selain itu, bagian implikasi bagi mahasiswa juga relevan untuk kehidupan sehari-hari. Semoga ilmu ini menjadi bekal bagi kami untuk menjadi pribadi yang lebih baik sebagai hamba Allah dan khalifah di bumi.

  2. Avatar Devi Cinta Aurellia
    Devi Cinta Aurellia

    terimakasihhhh bapakk atass artikelnyaa saya mengertii bahwa artikel tersebut menjelaskan hakikat manusia secara jelas dan sistematis berdasarkan Al-Qur’an dan hadits. Pembahasan tentang potensi manusia dan implikasinya dalam kehidupan. mahasiswa membuat artikel ini relevan dengan kehidupan sehari-hari, sehingga mudah dipahami dan diterapkan. Artikel ini juga memberikan motivasi agar manusia tidak hanya mengejar kesuksesan dunia, tetapi juga memperhatikan aspek spiritual dan tanggung jawab sebagai khalifah di bumi. Ke depannya, artikel ini bisa lebih kuat jika ditambahkan contoh nyata dalam kehidupan mahasiswa agar pembaca semakin mudah mengaitkan teori dengan praktik di kehidupan sehari-hari.

  3. Avatar Solehati ferisca apriliyani
    Solehati ferisca apriliyani

    dalam artikel ini hakikat manusia dalam pandangan islam sudah menjelaskan dengan cukup baik bahwa manusia adalah manusia adalah memililiki kedudukan yang mulia karena diciptakan dengan kesempurnaan serta di bekali akal, hati, dan nafsu. Penjelasan mengenai peran manusia sebagai hamba Allah dan khalifah di bumi juga sangat penting, karena menunjukkan bahwa manusia tidak hanya hidup untuk dirinya sendiri, tetapi juga memiliki tanggung jawab besar terhadap lingkungan dan sesama

  4. Avatar Raffi Fauzi Lazuardi
    Raffi Fauzi Lazuardi

    Artikel ini pinter bikin kita ngerasa berharga banget karena disebut sebagai ciptaan paling sempurna (Ahsanul Taqwim). Tapi di saat yang sama, kita langsung diingetin kalau kita itu cuma hamba (Abdullah). Jadi ada vibes “kamu itu hebat, tapi jangan sombong, karena ada tugas besar di pundakmu

  5. Avatar Anggi Kirania Putri Fadillah
    Anggi Kirania Putri Fadillah

    ini menjelaskan bahwa manusia dalam pandangan Islam memiliki kedudukan istimewa sebagai ciptaan Allah yang diberi akal dan tanggung jawab.
    Manusia tidak hanya terdiri dari jasmani, tetapi juga rohani yang menjadi dasar pembentukan akhlak dan kepribadian.
    Selain itu, manusia memiliki peran sebagai khalifah di bumi yang harus menjaga dan mengelola kehidupan dengan baik.
    Tujuan utama hidup manusia adalah beribadah kepada Allah dan mencari ridha-Nya dalam setiap aktivitas.
    Artikel ini juga menekankan pentingnya memahami hakikat manusia agar hidup lebih terarah dan bermakna.
    Secara keseluruhan, isi artikel memberikan pemahaman yang mendalam tentang jati diri manusia dalam Islam.

  6. Avatar Muhammad Fathin Al-Furqon
    Muhammad Fathin Al-Furqon

    Artikel ini memberikan ulasan komprehensif mengenai hakikat manusia yang memadukan aspek penciptaan fisik dan spiritual. Penekanannya pada peran manusia sebagai hamba sekaligus khalifah memberikan pesan moral yang kuat tentang tanggung jawab etis di dunia. Tulisan ini sangat edukatif dalam menjelaskan bahwa kemuliaan manusia bergantung pada keseimbangan antara ketaatan kepada Sang Pencipta dan kemanfaatan bagi sesama.

  7. Avatar Zahra Amalia safitri
    Zahra Amalia safitri

    Menurut saya, artikel ini menjelaskan bahwa manusia dalam Islam tidak hanya dilihat dari fisik, tetapi juga dari sisi spiritual dan tanggung jawabnya. Penjelasannya membuat kita sadar bahwa hidup punya tujuan, bukan hanya untuk dunia. Isinya juga relevan agar tidak terlalu fokus pada hal material. Pembahasannya runtut dan mudah dipahami. Secara keseluruhan, artikel ini bisa jadi pengingat untuk memperbaiki diri.

  8. Avatar ZULFAIDA SABILAH
    ZULFAIDA SABILAH

    Terimakasih bapak atas materi yang sangat bermanfaat ini, saya dapat menarik kesimpulan dari materi “HAKIKAT MANUSIA DALAM PANDANGAN ISLAM”. Dalam pandangan Islam, manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang memiliki kedudukan mulia sebagai hamba Allah (‘abdullah) yang beribadah kepada-Nya dan khalifah di bumi yang bertugas menjaga serta memakmurkan bumi. Manusia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya (ahsani taqwim) dengan unsur jasmani dan rohani. Asal-usul manusia dimulai dari Nabi Adam yang diciptakan dari tanah, sedangkan keturunannya berkembang melalui proses nutfah, ‘alaqah, hingga mudghah sampai menjadi manusia sempurna. Selain itu, manusia juga diberi potensi fisik, akal, dan spiritual yang harus digunakan secara seimbang agar dapat menjalankan tugasnya sebagai hamba Allah dan pemimpin di bumi dengan baik.

  9. Avatar Dafan noviyanto eka saputra
    Dafan noviyanto eka saputra

    Masya allah artikel ini membahas hakikat manusia dalam pandangan islam di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM). Sebagai institusi pendidikan yang berakar pada nilai-nilai Islam berkemajuan

  10. Avatar Sherly Lintang Lestari
    Sherly Lintang Lestari

    Alhamdulillah terima bapak artikel yang sangat edukatif, artikel ini dikemas dengan baik di dalamnya membahas pandangan Islam secara singkat, padat, dan jelas, dengan menekankan bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang terdiri dari jasmani dan rohani, memiliki akal, nafs, dan ruh, serta diberi amanah sebagai khalifah di bumi yang bertanggung jawab kepada Allah melalui ibadah, akhlak mulia, dan pengelolaan lingkungan; penyajiannya sistematis, mudah dipahami, dan relevan untuk pendidikan dasar Islam, walaupun dapat lebih kuat jika ditambah contoh penerapan konkret dalam kehidupan modern.