CIREBON, 29 April 2026 – Suasana khidmat menyelimuti Masjid Santun Muhammadiyah, Kota Cirebon, pada pelaksanaan kajian rutin Reboan, Rabu (29/4/2026). Bertindak sebagai penceramah, Ustadz Yandi Heryandi, M.Pd., menyampaikan materi mendalam bertajuk “PHIWM (Panduan Hidup Islami Warga Muhammadiyah) dalam Kehidupan Berkeluarga” yang disambut antusias oleh jamaah dari berbagai kalangan.
Mengawali tausiyahnya, Ustadz Yandi mengingatkan tentang kedudukan strategis keluarga sebagai fondasi utama bangsa. Beliau mengutip firman Allah Swt. dalam QS. ar-Rum [30]: 21 yang artinya, “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.”

Namun, beliau juga mengingatkan potensi cobaan dalam keluarga sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّ مِنْ اَزْوَاجِكُمْ وَاَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوْهُمْۚ وَاِنْ تَعْفُوْا وَتَصْفَحُوْا وَتَغْفِرُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ١٤ اِنَّمَآ اَمْوَالُكُمْ وَاَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌۗ وَاللّٰهُ عِنْدَهٗٓ اَجْرٌ عَظِيْمٌ ١٥
“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka, berhati-hatilah kamu terhadap mereka. Jika kamu memaafkan, menyantuni, dan mengampuni (mereka), sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu). Di sisi Allahlah (ada) pahala yang besar.” (QS. At-Taghabun [64]: 14-15)

10 Tanda Kehancuran Bangsa
Dalam paparannya yang menggetarkan, Ustadz Yandi mengutip teori sosiolog moral asal Amerika, Thomas Lickona (1992), tentang 10 ciri/tanda kehancuran sebuah bangsa, yaitu:
- Meningkatnya kekerasan remaja.
- Penggunaan bahasa dan kata-kata yang buruk.
- Meningkatnya perilaku merusak diri (narkoba, miras, seks bebas, dll.).
- Semakin kaburnya pedoman moral.
- Menurunnya etos kerja.
- Rendahnya rasa tanggung jawab individu sebagai bagian dari bangsa.
- Rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru.
- Membudayanya ketidakjujuran.
- Pengaruh kesetiaan kelompok remaja (geng) yang kuat dalam kekerasan.
- Meningkatnya rasa curiga dan kebencian terhadap sesama.
“Sebagian besar tanda-tanda ini berakar dari lemahnya pondasi keluarga. Karena itu, keluarga harus menjadi benteng pertama,” tegas Ustadz Yandi.

Fungsi Keluarga sebagai Pusat Kaderisasi dan Keteladanan
Lebih lanjut, pemateri yang juga akademisi ini menjelaskan bahwa keluarga memiliki fungsi kaderisasi. Orang tua bertanggung jawab mencetak generasi muslim yang akan melanjutkan perjuangan dakwah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam QS. An-Nisa’ [4]: 9:
وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا ٩
“Hendaklah merasa takut orang-orang yang seandainya (mati) meninggalkan setelah mereka, keturunan yang lemah (yang) mereka khawatir terhadapnya. Maka, bertakwalah kepada Allah dan berbicaralah dengan tutur kata yang benar (dalam hal menjaga hak-hak keturunannya).”
Beliau juga menekankan pentingnya keteladanan (uswah hasanah), yaitu menciptakan keluarga yang penuh kasih sayang, musyawarah, keadilan, serta menjauhkan anggota keluarga dari siksa neraka. Salah satu prioritas utama adalah pelaksanaan salat, sebagaimana perintah Allah dalam QS. Thaha [20]: 132:
وَأْمُرْ اَهْلَكَ بِالصَّلٰوةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَاۗ لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًاۗ نَحْنُ نَرْزُقُكَۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوٰى ١٣٢
“Perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan bersabarlah dengan sungguh-sungguh dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Kesudahan (yang baik di dunia dan akhirat) adalah bagi orang yang bertakwa.”

Aktivitas Keluarga Islami hingga Kepedulian Sosial
Ustadz Yandi menguraikan beberapa aktivitas utama yang mesti dihidupkan dalam keluarga, seperti membaca Al-Qur’an, membangun keimanan dan ketakwaan, serta menafkahi keluarga dengan harta halal. Beliau mengingatkan sabda Rasulullah saw.:
“(Daging yang tumbuh dari harta yang haram, maka neraka lebih berhak menjadi tempat kembalinya)” (HR. Al-Hakim no. 7166)
Selain itu, keluarga Muslim juga dituntut memiliki kepedulian sosial yang tinggi terhadap tetangga dan masyarakat luas, menciptakan qaryah thayyibah (negeri yang baik). Hal ini berpijak pada QS. al-A’raf [7]: 96:
وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.”
Kajian yang berlangsung dari ba’da Maghrib hingga menjelang Isya ini ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif dan doa bersama. Para jamaah tampak terinspirasi untuk mulai membenahi keluarga masing-masing sebagai upaya preventif mencegah kehancuran bangsa, sekaligus wujud nyata dari Gerakan Jamaah dan Dakwah Jamaah menuju terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, sebagaimana QS. Ali Imran [3]: 104.
Redaksi: Tim Peliput Masjid Santun Muhammadiyah Cirebon


Tinggalkan Balasan ke Yandi Heryandi Batalkan balasan