CIREBON, 2 Januari 2026 – Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon kembali melaksanakan salat Jumat yang penuh khidmat pada Jumat (2/1/2026). Khutbah disampaikan oleh Prof. Dr. Achmad Kholiq, M.Ag. dengan tema yang relevan mengenai refleksi atas berbagai bencana yang terjadi.
Tampak hadir dalam kesempatan tersebut Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Cirebon, Drs. Puji Nirmo, beserta sejumlah pimpinan lainnya. Dalam pengantarnya, khatib mengajak jamaah untuk senantiasa bersyukur masih diberi kesempatan memenuhi panggilan suci Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk melaksanakan salat Jumat. “Rasa syukur adalah cara yang tepat untuk mendekatkan diri kepada Allah. Semoga kehadiran kita menjadi catatan amal yang penting,” ujarnya.

Iman, Takwa, dan Refleksi atas Bencana
Prof. Kholiq mengawali khutbah dengan ajakan untuk terus meningkatkan iman dan takwa serta tidak jemu berbuat kebaikan. Beliau mengajak jamaah merenungkan pelajaran dari berbagai bencana yang melanda negeri. “Bencana bukan sekadar fenomena alam biasa. Ada kausalitas, ada sebab-akibat, dan di sisi lain ia juga merupakan bagian dari ketetapan Allah,” jelasnya.
Beliau menjelaskan bahwa banyak bencana yang pemicunya adalah ulah manusia sendiri. Dengan merujuk pada sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam, beliau memaparkan tiga karakter manusia yang dapat mendatangkan kerusakan:
- As-Sukūn as-Ṣadīd – Kikir Berlebihan dan Individualis: Sifat pelit yang ekstrem, tidak punya kepedulian, dan enggan berbagi dapat menghilangkan solidaritas sosial dan memicu bencana.
- Al-Ijāb bin-Nafs – Sombong dan Membanggakan Diri: Kesombongan adalah akar kehancuran. Beliau mengingatkan kisah iblis yang enggan sujud pada Adam, Fir’aun yang mengaku tuhan, dan Qarun yang dihancurkan karena kesombongannya. “Kaum ‘Ad dan Samud pun diluluhlantakan karena kesombongan mereka,” tegasnya.
- Hawā al-Mutāba’ah – Mengikuti Hawa Nafsu dan Hedonisme: Keserakahan dan gaya hidup yang hanya mengejar kesenangan duniawi akan membawa kehancuran.
“Bima kasabat aidināsa – apa yang ditimpakan bencana itu disebabkan oleh perbuatan tangan manusia sendiri,” ungkap Prof. Kholiq, menguatkan penjelasannya.
Bencana sebagai Ujian dan Teguran
Di sisi lain, bencana juga bisa datang kepada orang-orang baik sebagai ujian, sebagaimana yang dialami Nabi Ayyub AS. Bisa juga menjadi teguran bagi orang yang lalai agar kembali ke jalan yang benar. Beliau mengutip firman Allah dalam Q.S. Ibrahim ayat 7:
لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.”
“Jika kita bersyukur, alam akan memberkahi kita. Sebaliknya, jika ingkar, bencana besar bisa datang. Menjaga lingkungan bukan pilihan, melainkan kewajiban,” serunya.
Beliau menutup khutbah dengan mengingatkan bahwa ujian adalah bagian dari perjalanan menuju surga. “La yadkhulu ahadukum al-jannata hattā yuftanū – Tidak seorang pun di antara kalian akan masuk surga sebelum diuji,” pesannya, merujuk pada sabda Nabi. Ujian itu bisa berupa sakit, kesulitan ekonomi, atau masalah rumah tangga. “Bila kita sabar, insya Allah kita termasuk orang-orang yang dijanjikan surga.”
Khutbah ditutup dengan doa agar bangsa Indonesia dilindungi dari segala bencana, dijauhkan dari sifat-sifat yang merusak, dan diberikan kekuatan untuk senantiasa bersyukur serta berbuat kebajikan.


Tinggalkan Balasan ke Arofah Firdaus Batalkan balasan