CIREBON – Suasana khidmat menyelimuti Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon pada Rabu, 15 Juli 2026, dalam gelaran Pengajian Reboan. Kegiatan yang berlangsung dari setelah salat Maghrib hingga menjelang waktu Isya ini menghadirkan penceramah Ustadz Dedi Ahyadi, yang mengupas tuntas kisah inspiratif tentang kesabaran Nabi Ayub ‘alaihissalam.
Pengajian yang rutin diadakan ini menjadi momen penting bagi jamaah untuk memperdalam pemahaman keislaman, khususnya mengenai keteladanan para nabi dalam menghadapi ujian hidup.

Nabi Ayub ‘alaihissalam adalah bagian dari keturunan Nabi Ishak ‘alaihissalam. Beberapa ayat dalam Al-Qur’an menyebutkan kemuliaan nasab para nabi, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:
وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ ۚ كُلًّا هَدَيْنَا ۚ وَنُوحًا هَدَيْنَا مِنْ قَبْلُ ۖ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِ دَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ وَأَيُّوبَ وَيُوسُفَ وَمُوسَىٰ وَهَارُونَ ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ
Artinya: “Dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Yakub kepadanya. Masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan sebelum itu Kami telah memberi petunjuk kepada Nuh, dan di antara keturunannya: Daud, Sulaiman, Ayub, Yusuf, Musa, dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. Al-An’am: 84)
وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَعِيسَىٰ وَأَيُّوبَ وَيُونُسَ وَهَارُونَ وَسُلَيْمَانَ ۚ وَآتَيْنَا دَاوُودَ زَبُورًا
Artinya: “Dan Kami telah mewahyukan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub, dan anak cucunya, Isa, Ayub, Yunus, Harun, dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud.” (Q.S. An-Nisa’: 163)

Dalam ceramahnya, Ustadz Dedi Ahyadi menjelaskan bahwa Nabi Ayub adalah seorang yang kaya raya dengan harta melimpah serta dikaruniai istri dan keturunan yang banyak. Namun, Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengujinya dengan musibah yang menghilangkan seluruh harta dan anak-anaknya. Nabi Ayub tetap bersabar dan tidak pernah mengeluh.
Ujian yang paling berat dialami oleh para nabi, kemudian orang-orang saleh setelahnya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 155-156:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
Artinya: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un’ (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).”
Setelah kehilangan harta dan anak, Nabi Ayub diuji dengan penyakit yang sangat berat. Para ulama berbeda pendapat mengenai jenis dan lamanya penyakit tersebut. Ada yang mengatakan penyakit kusta (judzam) , dan ada pula yang menyebutkan lamanya tiga tahun menurut riwayat Wahab, sementara menurut riwayat Anas mencapai tujuh tahun beberapa bulan .
Dalam kondisi sakit yang sangat parah, Nabi Ayub dijauhi oleh semua orang, kecuali dua kerabatnya yang selalu menengok setiap hari. Satu-satunya orang yang setia menemaninya adalah istrinya yang bernama Rahmah binti Efrasim bin Yusuf bin Ya’qub .

Istrinya rela bekerja sebagai buruh upahan untuk menghidupi Nabi Ayub. Namun, lama-kelamaan orang-orang tidak mau lagi menggunakan jasanya karena takut tertular penyakit. Akhirnya, sang istri menjual salah satu kepang rambutnya kepada wanita pejabat untuk membeli makanan, hingga kepalanya botak setelah menjual kepang yang kedua .
Suatu ketika, Nabi Ayub mendengar perkataan salah seorang kerabatnya yang meragukan kesabarannya. Hal itu mendorong Nabi Ayub untuk berdoa dengan penuh kerendahan hati. Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengabadikan doa tersebut dalam firman-Nya:
وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
Artinya: “Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, ‘(Ya Tuhanku), sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.’” (Q.S. Al-Anbiya’: 83)
Allah mengabulkan doa Nabi Ayub. Dalam Q.S. Al-Anbiya ayat 84, Allah berfirman:
فَاسْتَجَبْنَا لَهُ فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ ۖ وَآتَيْنَاهُ أَهْلَهُ وَمِثْلَهُمْ مَعَهُمْ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَذِكْرَىٰ لِلْعَابِدِينَ
Artinya: “Maka Kami kabulkan (doa)-nya, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya, dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan (Kami lipatgandakan jumlah mereka) sebagai rahmat dari Kami dan peringatan bagi semua yang beribadah kepada Kami.” (Q.S. Al-Anbiya’: 84)

Ibnu Abbas menceritakan bahwa Allah menyembuhkan Nabi Ayub seperti semula dan melipatgandakan harta serta anak-anaknya dua kali lipat. Ada riwayat lain yang menyebutkan bahwa Allah menghujani Nabi Ayub dengan belalang dari emas. Nabi Ayub mengumpulkan belalang tersebut, lalu Allah bertanya, “Apakah itu sudah cukup dengan rahmat-Ku?” Nabi Ayub menjawab, “Tidak, karena jika mendapat rahmat dari Allah, kita tidak akan pernah puas.” Hal ini diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. dari Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam
بَيْنَمَا أَيُّوبُ يَغْتَسِلُ عُرْيَانًا خَرَّ عَلَيْهِ جَرَادٌ مِنْ ذَهَبٍ، فَجَعَلَ أَيُّوبُ يَحْثِي فِي ثَوْبِهِ، فَنَادَاهُ رَبُّهُ: يَا أَيُّوبُ، أَلَمْ أَكُنْ أَغْنَيْتُكَ عَمَّا تَرَى؟ قَالَ: بَلَى وَعِزَّتِكَ، وَلَكِنْ لَا غِنَى بِي عَنْ بَرَكَتِكَ
Artinya: “Tatkala Ayub mandi dalam keadaan telanjang, tiba-tiba jatuhlah belalang dari emas kepadanya. Lalu Ayub mengumpulkannya ke dalam bajunya. Maka Tuhannya memanggilnya: ‘Wahai Ayub, bukankah Aku telah memberikan kecukupan kepadamu dari apa yang engkau lihat?’ Ia menjawab: ‘Benar, dan demi kemuliaan-Mu, tetapi aku tidak pernah merasa cukup dari berkah-Mu.’” (HR. Ahmad)
Nabi Ayub wafat pada usia 93 tahun, dan ada yang berpendapat lebih dari itu. Di antara keturunannya adalah Hauman, yang kemudian dilanjutkan oleh Bisyir, yaitu Nabi Zulkifli. Istri Nabi Yakub adalah Lia binti Yakub.
Dalam Q.S. Sad ayat 41-44, Allah juga menjelaskan bahwa penyakit yang menimpa Nabi Ayub berasal dari setan, air sebagai obat penyembuh, perintah mengumpulkan kembali keluarganya dan melipatgandakan keturunan sebagai rahmat, serta perintah mengambil seikat rumput untuk dipukulkan kepada istrinya sebagai penebusan sumpah tanpa menyakiti.
Nabi Ayub adalah teladan sempurna dalam kesabaran dan ketawakalan kepada Allah. Kisah beliau mengajarkan bahwa ujian adalah sunnatullah bagi hamba-Nya yang beriman, dan kesabaran akan membuahkan hasil yang indah baik di dunia maupun di akhirat. Semoga kita semua dapat meneladani kesabaran Nabi Ayub dalam menghadapi setiap cobaan hidup.
Pengajian Reboan yang diisi oleh Ustadz Dedi Ahyadi ini mendapat sambutan hangat dari jamaah Masjid Santun Muhammadiyah. Diharapkan kisah Nabi Ayub ini dapat menjadi pelajaran berharga bagi seluruh umat Islam dalam meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala Kegiatan ditutup dengan doa dan dilanjutkan dengan salat Isya berjamaah.
Peliput : Dakum, S.Pd. dan Tim Media Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon


Tinggalkan Balasan