Literasi dalam Wahyu: Menempa Peradaban Bermartabat

·

Editor:

|

3 menit

|

📋

Dibaca: 15 x

Dunia kembali memperingati Hari Literasi Internasional yang jatuh setiap tanggal 8 September. Tahun 2026 menandai peringatan ke-60 yang ditetapkan oleh UNESCO, dengan tema besar “Literacy for People, the Planet and Prosperity” (Literasi untuk Manusia, Planet, dan Kemakmuran). Momen ini menjadi pengingat mendalam bahwa kemampuan membaca dan menulis adalah fondasi bagi peradaban yang adil, damai, dan berkelanjutan.

Dalam sejarah peradaban Islam, perintah untuk membaca—iqra’—merupakan wahyu pertama yang diterima oleh Rasulullah Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam. Surat Al-Alaq ayat 1-5 tidak hanya menjadi pintu kenabian, tetapi juga menjadi landasan utama bagi umat manusia untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan kesadaran spiritual. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

Surat Al-Alaq Ayat 1-5 :


ٱقْرَأْ بِٱسْمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ ﴿١﴾ خَلَقَ ٱلْإِنسَٰنَ مِنْ عَلَقٍ ﴿٢﴾ ٱقْرَأْ وَرَبُّكَ ٱلْأَكْرَمُ ﴿٣﴾ ٱلَّذِى عَلَّمَ بِٱلْقَلَمِ ﴿٤﴾ عَلَّمَ ٱلْإِنسَٰنَ مَا لَمْ يَعْلَمْ ﴿٥﴾

Artinya:

  1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,
  2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah,
  3. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,
  4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,
  5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Ayat ini menegaskan bahwa literasi tidak hanya bersifat intelektual, tetapi juga terintegrasi dengan nilai-nilai ketuhanan. “Penguatan literasi begitu besar dampaknya, khususnya pada kesadaran diri seorang hamba-Nya,” demikian disampaikan dalam refleksi peringatan tahun ini. Kesadaran spiritual yang terkoneksi dengan wahyu akan melahirkan tanggung jawab moral untuk menjaga bumi, bukan melakukan pengrusakan atau permusuhan.

Literasi untuk Manusia dan Planet

Tema UNESCO tahun ini sejalan dengan urgensi menjaga lingkungan. Di tengah krisis iklim global, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia menjadi cermin gagalnya literasi lingkungan yang berorientasi pada keberlanjutan. Data terkini mencatat bahwa kebakaran hutan sepanjang 2026 telah melepaskan jutaan ton emisi karbon dioksida, mengancam target iklim nasional. Hal ini menunjukkan bahwa literasi yang hanya dikuasai tanpa moral dan kesadaran spiritual dapat berubah menjadi alat pembenar untuk keserakahan dan pengrusakan.

M. Amin Abdullah dalam bukunya Dinamika Islam Kultural menyatakan, “Dimensi spiritualitas keagamaan Islam akan tercermin dalam kepedulian dalam alam lingkungan dan persentuhan dengan lingkungan sosial dan budaya sekitarnya.” Literasi semestinya mendorong manusia untuk menjadi khalifah di muka bumi, menjaga ekosistem, dan membawa kemakmuran bagi semua makhluk.

Literasi untuk Kemakmuran dan Keadilan

Di tingkat nasional, peringatan ini mengusung semangat “Literasi untuk Sesama, Semesta dan Sejahtera”. Narasi ini mengajak seluruh elemen bangsa untuk membangun kebersamaan dan melepaskan diri dari buaian literasi yang mengandung kebohongan. Buya Ahmad Syafi’i Ma’arif dalam bukunya Mencari Autentisitas dalam Dinamika Zaman mengingatkan, “Di sini Al-Qur’an berulang-ulang menegaskan bahwa manusia juga belum mengembangkan rasa tanggung jawab itu secara memadai. … kemampuannya dalam melaksanakan tanggung jawab moral sering benar gagal.”

Momentum Hari Literasi ini menjadi ajakan untuk kembali kepada esensi menuntut ilmu. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Artinya: “Mencari ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim.”

Hadits ini menegaskan bahwa literasi adalah kewajiban universal, baik bagi laki-laki maupun perempuan. Dengan literasi yang bermutu, umat Islam diharapkan mampu berkontribusi positif bagi bangsa, menjauhi permusuhan, dan menguatkan persatuan untuk mewujudkan keadilan sosial.

Selamat Hari Literasi Internasional 2026. Marilah kita jadikan momen ini untuk terus mengkaji, menelaah, dan mengamalkan ilmu demi kemajuan peradaban yang mencerahkan. (*)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 responses to “Literasi dalam Wahyu: Menempa Peradaban Bermartabat”

  1. Avatar Moch sidik Sadali
    Moch sidik Sadali

    Semoga isi literasi dalam wahyu dapat diterima oleh para pemirsa serta bisa dijadikan sebagai pedoman dan pegangan sehari-hari.

    1. Avatar Arofah Firdaus
      Arofah Firdaus

      Terimakasih Bah… luar biasa, sehat selalu, tetap semangat.