CIREBON, 29 Juli 2026 – Suasana khusyuk menyelimuti Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon pada pelaksanaan pengajian Reboan, Rabu malam (29/7/2026). Kegiatan yang berlangsung dari usai salat Maghrib hingga menjelang Isya ini menghadirkan penceramah utama, Ustadz Dr. H. Muchlis, M.Pd.I., yang menyampaikan materi dengan pendekatan teologis mendalam bertema “Islam: Dinamis, Berkemajuan, dan Membangun Harmoni Sosial.”
Acara dihadiri oleh puluhan jamaah dari berbagai kalangan, mulai dari tokoh masyarakat, ibu-ibu, hingga generasi muda. Mereka tampak antusias menyimak tausiah yang dikemas dengan gaya komunikatif, berbasis dalil Al-Qur’an dan hadis, serta relevan dengan konteks kehidupan modern.

Pendekatan Teologis: Totalitas Keislaman dan Keluasan Rahmat Allah
Dalam pembukaan materinya, Ustadz Dr. H. Muchlis mengajak jamaah merenungi tiga ayat kunci yang menjadi fondasi pemahaman teologis tentang keislaman yang utuh dan dinamis.
Pertama, beliau mengutip QS. Al-Maidah (5): 6, yang berbunyi:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ…
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai kedua mata kaki…” (QS. Al-Maidah: 6).
Beliau menjelaskan bahwa ayat ini bukan sekadar tata cara wudu, melainkan simbol totalitas ibadah dan kesucian lahir-batin. “Wudu mengajarkan bahwa setiap gerakan ibadah harus dilandasi kesiapan fisik dan spiritual. Islam tidak mengenal pemisahan antara ritual dan kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Kedua, beliau menukil QS. Ali ‘Imran (3): 19:
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ…
Artinya: “Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam…”
Ayat ini, kata Ustadz Muchlis, menegaskan bahwa Islam adalah satu-satunya jalan yang diridai Allah. Namun, beliau menambahkan, “Islam bukan agama yang kaku. Ia adalah sistem kehidupan yang lentur, adaptif, dan selalu relevan sepanjang zaman.”
Ketiga, beliau membacakan QS. Al-An’am (6): 125:
فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ…
Artinya: “Barang siapa yang Allah kehendaki untuk memberinya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk) Islam…”
Ayat ini, menurut beliau, menunjukkan bahwa keimanan bukanlah beban, melainkan kelapangan hati. “Orang yang hatinya terbuka pada Islam akan merasakan kedamaian, kemudahan, dan semangat untuk terus belajar serta berbuat baik,” paparnya.

Islam Agama Dinamis, Bukan Stagnan
Dengan merujuk pada ketiga ayat tersebut, Ustadz Muchlis menegaskan bahwa Islam adalah agama yang dinamis dan berkemajuan. “Islam tidak pernah anti-perubahan. Yang salah adalah perubahan yang melenceng dari syariat, tetapi perubahan yang membawa maslahat dan kemajuan justru sejalan dengan semangat Al-Qur’an,” tegasnya.
Beliau mengutip QS. Al-Furqan (25): 63–72, yang menggambarkan perangai mulia seorang muslim yang berakidah, di antaranya:
وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا (QS. Al-Furqan: 63)
Artinya: “Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu ialah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan ‘salam’.”
Beliau menekankan bahwa ayat ini mengajarkan sikap santun, rendah hati, dan menjauhi permusuhan, bahkan terhadap orang yang tidak beradab. “Itulah ciri muslim sejati—berakhlak mulia, bukan hanya saleh secara ritual, tetapi juga saleh secara sosial,” imbuhnya.

Islam Mengatur Hubungan Keluarga dan Masyarakat
Memasuki sesi kedua, Ustadz Muchlis mengupas tuntas tentang tata hubungan dalam keluarga dan kemasyarakatan. Beliau menyatakan bahwa Islam sangat memperhatikan harmoni rumah tangga sebagai fondasi masyarakat yang sehat. “Keluarga adalah madrasah pertama. Jika keluarga kuat, masyarakat pun kuat,” katanya.
Selanjutnya, beliau memaparkan sembilan prinsip hubungan dengan tetangga yang bersumber dari ajaran Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam, di antaranya:
- Menyebarkan salam sebagai tanda kasih sayang dan pengakuan terhadap sesama.
- Memenuhi panggilan tetangga jika diminta pertolongan atau nasihat.
- Menjenguk saat sakit sebagai wujud empati sosial.
- Mengantarkan jenazah jika meninggal dunia.
- Memelihara kemuliaan tetangga, lebih baik diam daripada berkata sia-sia.
- Menghormati tamu sebagai bagian dari kehormatan diri dan lingkungan.
- Peduli dan mengasihi tetangga sebagaimana mengasihi saudara sendiri.
- Bahagia melihat tetangga senang dan bersedih saat mereka susah.
- Memberi maaf dan lemah lembut jika tetangga bersalah, serta melakukan amar makruf nahi mungkar dengan cara: “Ajak jangan ejek, rangkul jangan mukul.”
Beliau mengutip hadis Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam yang diriwayatkan oleh Muslim:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ
Artinya: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya.” (HR. Muslim)
“Tetangga bukan sekadar orang di samping rumah, tetapi mereka adalah tanggung jawab moral kita. Islam mengajarkan bahwa kebaikan kepada tetangga adalah bukti keimanan,” pungkas Ustadz Muchlis.
Penutup: Islam Rahmatan lil ‘Alamin
Di akhir tausiah, Ustadz Dr. H. Muchlis mengajak seluruh jamaah untuk menginternalisasi nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin. “Jadilah muslim yang membawa ketenangan, bukan ketakutan. Jadilah muslim yang membangun peradaban, bukan perpecahan. Mari kita praktikkan Islam secara utuh, dinamis, dan penuh kemajuan,” serunya.
Pengajian ditutup dengan doa bersama dan salat Isya berjamaah, yang dipimpin langsung oleh Ustadz Muchlis. Suasana haru dan syahdu menyelimuti masjid, menandakan keberkahan ilmu yang disampaikan.
Kegiatan ini merupakan rangkaian rutin pengajian Reboan yang diadakan oleh Takmir Masjid Santun Muhammadiyah sebagai wadah peningkatan keimanan dan ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat Kota Cirebon.
Peliput : Dakum, S.Pd., dan Tim Media Masjid Santun Muhammadiyah Cirebon
Editor : Arofah Firdaus
Dokumentasi: Humas Masjid Santun


Tinggalkan Balasan